Isi Surat, Tangisan Mama - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Isi Surat, Tangisan Mama

Oleh : Sesilius Kegou)*

Cp : Mama Papua menggendong anaknya - Google Sousrch


Ada hantu berkeliaran di Eropa. Hantu Komunisme. Semua kekuasaan di Eropa lama telah menyatukan diri dalam suatu persekutuan keramat untuk mengusir hantu ini: Paus dan Tsar, Metternich dan Guizot, kaum Radikal Perancis dan mata-mata polisi Jerman.

Di manakah ada partai oposisi yang tidak dicaci sebagai Komunis oleh lawan-lawannya yang sedang berkuasa? Di manakah ada partai oposisi yang tidak melontarkan kembali cap tuduhan Komunisme, baik kepada partai-partai oposisi yang lebih maju maupun kepada lawan-lawannya yang reaksioner?

Kali ini aku kembali teringat kondisi di kampungku. Lembah yang membisu, hutan belantara pepohonan menjulang tinggi di alam Mapia 'kampungku' yang kaya akan alam dipagari terpampang pegunungan Wayland terbentang gagah ketinggian, bagian selatan ada gunung Dogiyai selicin sebutir telor, pegunungan Tiho meninggi serta secakar langit. Aku dibesarkan oleh susu dan madu yang kini mulai eksploitasi oleh Pengusaha kapitalis. Militer sesuka hati membungkam suara rakyat tertindas. Pemilik bumi terpinggir.

Tuhan! Jangan biarkan kami.

***

Aku ingat disana ‘surgaku’ Mapia, udara segar berseliweran  membuat saya tenang setia hirup. Ketika sore beranjak malam saat senja singga menghias jangkrik bernyanyi sorak, ayah bermain (kaido) keropi mulut pengantar lelep tidurku. Disana ada susu dan madu. Mengingatnya membuat aku telan luda. Oh Papua. Hal paling aku rundukan adalah ketika tanaman kacang sudah panen. Kisah yang berkarat di benakku adalah ketika aku dan beberapa temanku tidak ingin pulang dari kebun kacangku, gali satu, makan biji buang kulitnya kami berlomba kian hari kami tubuh dewasa oleh kacang tanah.

Aku menyimak dengan seksama. Suasana hening lagi.

Mamaku yang tengah tua.  Kulitnya berkeriput  setia mengasuku. Ayahku setengah botak  yang sederhana, baju hitamnya yang lumuri mandi keringat kerja. Tulang punggunya tak kekar lagi, hanya  perkerja ‘tukan kayu’ borong bangunan di beberapa dusun sekitar  kampungku. Taruhan nyawanya demi kuliahku.

Negeriku aku rindu. Kali ini khayalanku melayang arus diatas samudra ini. Sepertinya aku kembali sejak kecilku, di gunung setengah tumbuh ilalang. Beberapa pohon kering tinggal ranting hitam berdiri gagah, disana ada tumbuhan unik, bunga cawang  yang hanya terdapat di hutan sabana dan daerah tropis, ya, Mapia daerah tropis seperti di Borneo (Kalimantan), Andalas (Sumatra) dan bagian utara dan Niew Guinea (Papua).

Disana ada angkrek hitam di punjak-punjak gunung bunganya putih unguh yang mekar berlomba ingini dunia. Angkrek kuning berdiri lambai daun dan bermacam aneka tanaman liar 'bermacam flora dan fauna' mendiami disana. Alamku mempercantik diri, gunung Mouyago yang tinggi, sungai Mapia yg berliku, berhias aneka tanaman serta banyak unggas yang setia menghibur kesunyian alam.

Ketika matahari mengintip di balik cakrawala, langit mulai terang, capung beterbang tanpa sapa tertanda menetas pagi. Sementara pucuk-pucuk pohon yang mendominasi vegetasinya mulai berlomba menjangkau sinar matahari pagi.

Tanah Mapia bukan akan kaya hanya alam.

Mapia adalah tanah yang diberkati oleh Tuhan pada tanggal 7 Januari 1936, Pater Tillemans memimpin Misa Kudus dan membuka Injil diatas batu didepan rumah Bapak Auki. Itulah misa pemberkatan pertama di kampung Modio. Setelah misa kudus, dilanjutkan dengan doa perdamaian (tapa dei) yang dipimpin oleh Auki. Dalam doa inti Auki meminta Minesaitawi dan Dakeugi untuk membunuh dua ekor babi yang telah dipersiapkan (Sabakina dan Bunakina). 

Ketika membunuh bunakina (babi hitam) Minesaitawi berkata: Aki mogaitaitage Mee (bagi yang akan berbuat zinah), aki oma nai tage Mee (bagi yang akan mencuri), aki pogo goutage Mee(bagi yang akan membunuh), aki Mee ewegaitage Mee (bagi yang akan menceritakan orang lain), aki pusa mana bokouto Mee (bagi yang akan menipu) kou ekinama dani kategaine. Artinya:saya samakan kamu yang akan melanggar ajaran Tota Mana dengan babi yang saya bunuh agar tidak terulang lagi.” 

Selanjutnya Dakehaugi membunuh babi putih yang sudah diikat di Pohon Otika. Setelah itu Dakehaugi memotong pohon Otika dan mengeluarkan darah merah pertanda persembahan diterima.

Mapia diartikan sebagai Pohon Kebenaran. Di malam Kudus pertama Mapia sudah damaikan peperangan, telah lepas iri hati, membunuh hingga hawa nafsu telah dikuburkan. Tuhan telah tujuk mapia adalah tibanya Agama di Meuwodide. Alam yang kini dikenal wisata rohani di ‘Modio’ Mapia.

***
Ketika aku mendengar cerita oleh beberapa kerabatku 'selama akhir-akhir tahun ini'  kampungku sudah tdk seindah kaya seperti dulu lagi. Beberapa perusaan masuk disana, sungguh aku tak bisa membayangi. Tapi saya belum meyakini akan hal itu benar.

Disana Negriku, negriku yang sering hiasi  Jangkrik ketika musim di bulan Februari dan Oktober, kulit perutku terkikis melepu luka karena jepitan batang pohon jika aku panjat hendak menangkap Jangkrik, dua jariku menjadi satu-satunya senjata ketika berhadapan janngkrik. Selain Kacang Tanah, Jangkrik adalah makanan favorit kami orang Mapia.

Dikala sang sura menerpa pagi. Ku dengar suara burung menyepi. Irama sendu, nyanyian adat menghening. Dibalik keruntuhan ku dengar suara memanggil nama-Mu Tuhan.

Setelah aku menulis beberapa artikel di malam tadi, aku tertidur lelap di kursiku, kepala terbaring diatas meja, kedua tangan membungkuk alaskan kepala. Aku bermimpi buruk. Aku terarus angan, disana kampungku gempa menguncang, bumi bergetar, seakan dunia ini mau kiamat, aku dihanyut. Aku meneteskan air mata. Pohon-pohon ditumbangi, batu diambil, pasir dikelola sewenag orang Bugis, Toraja, Makassar, Sunda. Sungguh terarasa pilu di dada. Kepalaku seperti teratuk batu saat menyelam.

Kali Waga yang deras mujur beriak mengalirkan emas, kali Hagee yang produk habitat ‘ikan-ikan berenang hias’ sepuasnya, kali Dihai yang jernih menghasilkan embung. Kali Pogi deras di tengah Abou dan lereng pegunungan Tiho sebagai mata pencaharian para orang tua dari semenjak tete nenek moyang. Sungai Mapia  yg deras membisu mengalir deras jernih itu sudah tidak se-jernih dulu, beraneka ikan dan beludu mati rata karena campuri bahan kimia, kali mapia kini menjadi kabur karena pembuangan rimba pabrik raksasa yang memakan jiwa. 

Longsor, bertebing sekitarnya di gunung. Bumi mapia membekas.

Aku termenung dikala sang sura mulai lepas ke peraduan di kemiringan barat bumi. Alam mulai suram. Lampu-lampu kerujut terang warna-warni. Langit mulai cerah kehadiran Purnama menerangi cakrawala. Kota Semarang sepertinya pompa bumi. Langit sedikit berawan.

Entah mengapa, wajah ibuku terpampang di ingatanku. Aku membayangi raut wajahnya.
"Nak, aku kirimkan sehelai surat ini, maaf aku tak bisa menulis, surat ini bukan aku yang tulis, tapi yg tulis adikmu Moses adikmu," surat diatas kertas putih, sebagian sudah rapuk dan rabik, tertata tinta tulisan semakin mencair tapi sedikit kelihatan. Aku baca isi surat itu di alinea pertama.

"Mumey (anak lelaki), tanah kami 'Mapia' sudah gusur. Mapia tidak seperti dulu lagi Nak. Nak, di beberpa lokasi sudah banyak perusaan telah dirikan,  ada perusaan Pasir di pinggir kali Mapia, antara kampung Abaimaida dan Dawai distrik Mapia. Di kali Mapia, sebelum Modio, distrik Mapia Tengah diasana ada perusaan besar milik PT. Dewa Kresna beroperasi."

Wajahku yang yang tampak putus asa, sontak bingung. Aku  baca literasinya. Diam, sepertinya tersangkut tulang ikan lele dalam dadaku, berat. Aku tak bisa ucap lagi. Mata mulai gelap, beterbang kunang-kunang, hilang ingatan. Ar mataku tertetes jatuh di kertas surat mama.
Surat ini suara hati mama.  

"Nak, bukan itu saja, kebun yang dulu dekat kali Teu dan Waga sudah tak ada juga. Banyak mesin-mesin bajak ‘excavator, rolel, truk modern’ tua sewenang gusur gunung merata bukit," aku sudah tak ada daya     lagi baca isi tulisan.

"Ah, mama eeee. Mama," pikirku, angan sudah terbang melayang di sana, Mapiaku.
Jika berdoa, lantas situasiku di pulau setan begitu-begitu saja. Tidak  ada yang berubah bukan berarti doaku tidak kabul. Aku  sadar, Tuhan sedang menguji. Aku yang letih, ada sesuatu yang sangat misterius, kekuatan yang demikian dahsyat yang menyembunyi di balik sulitku.

"Nak, Jalan trans sudah operasi semua lokasi berkeliling Mapia. Juga kebun kacangku. Rumah kita 'baru bagun' sudah gusur, kami orang tua apa dayanya. Hanya air mata dan  bernyani dalam sendu."

“Harap apa lagi, dari hasil jualanku, yang mama tabung sehari Rp. 10.000 setelahnya mama kirim untuk kuliahmu mungkin tidak ada lagi sekarang. Maafkan mama. Jalan trans lewat di tengah kebun kopi kita. Pos militer telah bangun diatas kebun kacangku nak.”

Mamae! Mama kandung menangis disana.

"Nak, di distrik Mapia Barat akan dirikan POLSEK, sudah tahu toh nak, kejadian delapan tahun yang lalu, ketika kkmu Moses Boma dibunuh oleh Militer di POLSEK Mapia. Mama sudah tidak ada daya lagi."

"Salam. Amai (mama) rindu. Koha Mumei (Selamat Anakku) Doa kami menyertaimu disana."
Mama, kau angkrek hitam, pujaanku. Kali ini dayaku dihanyut oleh suaramu, mama.

Dunia mulai kemelut.

"Mama sayang."

Aku merenung. Seperti bumi ini berputar tanpa arah, para penguasa hadir membawa kantong raksasa suram menyebar di Surga Kecil Papua.  Jeritan anak bangsa mempilu dalam tekanan. Tangisan mengiring diamana-mana.

Tuhan membela yang lemah dan benar.



)*Penulis adalah Mahasiswa Papua kuliah di Semarang.  Pernah menulis beberapa cerpen di www.sastrapapua.com
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: