Enaimo - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Enaimo

Oleh; Philemon Keiya

Kota Sinak, Gigobak 


“Kawan, ko bikin apa”?

Pertanyaan itu membuyarkan Fredy dari lamunannya. Ia duduk di ujung asrama Teruna Karsa sejak sejam  yang lalu. Nabire panas. Fredy sangat kepanasan. Keringat bercucuran memandikan sekujur tubuh. Jam 14.45 siang.

“Ah, sa disini. Panas skali jadi,” balas Fredy.
“Mari, kita cek air dingin di kulkas didalam,” ajak Ronald

Tanpa diaba-aba, Fredy berdiri. Mereka dua jalan beriringan ke ruang makan yang terletak ujung bagian barat barak panjang itu. Mereka mengambil dua botol aqua yang sudah diletakan didalam kulkas.

Dahaga terobati.

“Ini kaya air di Nggulanikime. Sangat segar skali. Sa ingat Sinak, Demii,” ujar Fredy
“Benar, ini kaya air di Botukebo. Air sangat dingin dan segar. Keluar dari gunung Kemuge. Sa ingat sa pu kampung lagi,” balas Ronald

Mereka berdua sudah ketemu tiga tahun lalu disini, di Asrama Teruna Karsa, SMA Adhi Luhur, Nabire bersama belasan kawan yang lain. Mereka dari berbagai suku yang beda. Ada yang dari suku Mee, Migani, Lani, Nabire, Flores, Jawa dan Sulawesi.

Mereka bersatu dibawah satu atap. Hidup dalam asrama mereka sudah lewati. Riak-riak kecil menghambiri mereka. Jalan hidup penuh liku. Tidak selalu indah. Mereka hidup dalam persatuan dan kekeluargaan yang terjaga bagai pelangi yang indah.

Fredi, anak Pania yang lahir besar di Sinak. Badan tidak terlalu besar. Rajin kerja dan tukang humor. Penakut juga. Sementara Ronald berasal dari distrik Kamuu kabupten Nabire. Ia tukang humor. Badan besar. Teman-temannya menjuluki badak.

Diam sejenak. Ruangan sepi. Bisikan angin diluar ruangan terdengar.

Nogei, di Sinak itu gunung-gunung atau bagemana?” tanya Ronald memecah keheningan
“Sinak itu seperti kuali. Tidak terlalu besar seperti Nabire ini. Banyak gunung besar disana,” Fredy menjelaskan.
“Saya penasaran skali. Kita sudah tiga tahun bersama tapi, saya tidak pernah tanya tentang ko pu kampung Sinak,” tanya Ronald
“Hahhahahahahaha,”
“Kenapa ko tertawa?” tanya Ronald penasaran
“Kawan, Sinak itu sa pu tempat lahir dan besar disana. Sa pu kampung itu di Agadide, Paniai.”
“Oh, iyo… Hahhahahah.”
“Hahhahahahaha.”

Kriiiingg kriiiingg

Lonceng Asrama dibunyikan.

“Semua kerja. Ayoo bangun. Kerja di depan halaman. Banguuun,” teriak Pembina Asrama

Ronald dan Fredy saling pandang. Diam! Saling kode pakai bahasa tubuh untuk keluar dari ruangan itu. Semua penghuni bersihkan sekitar asrama.

Mentari berada diujung barat Nabire. Senyum merah ranum terlihat cantik. Kendaraan di jalan merdeka lalu lalang ramai. Decitan ban mobil pun bersahut-sahutan saling kejar. Langit Nabire tampakan slide merah yang sangat indah.

“Setelah ujian, tong naik ke Sinak kah?” Ronald bisik kepada Ronald
“Ah bisa, tapi biasa pesawat jarang masuk disana.”
“Kita jalan kaki kah?”
Ko pikir dekat kah, orang suruh main basket lapangan saja biasa nafas satu-satu baro ko suruh kita jalan kaki.”
“Jauh too. Jauh skali. Makanya, pesawat saja jarang masuk disana.”
“Ohhh...,” Ronald monyongkan mulutnya paham maksud
“Ko mandi sana. Tangan kotor itu,” Fredy balas sampil dorong Ronald

Jam belajar telah usai. Semua masuk ke kamar masing-masing. Ronald dan Fredy satu kamar. Selain mereka, masih ada enam orang yang lain. Kamar berukuran 5x8 terlihat ramai. Seperti biasa. Sebelum tidur mereka sering cerita hingga larut malam. Kadang juga tidak.

Sudah pukul 00.35, mata masih belum mau tertutup. Pikirannya benar-benar melayang di Sinak. Segalanya tentang berseliweran dipikirannya. Sinak. Salah satu distrik di wilayah pegunungan tengah Papua bagian tengah. Tidak jauh dari Salju Abadi Chartens.

Ia ingat masa kecilnya yang sangat indah. Kehidupannya bersama keluarga. Ia dan teman-temannya sering habiskan waktu untuk keliling Sinak. Sinak dipagari oleh gugusan pegunungan yang sangat indah. Mulai dari Agandugume sampai Puluk dikelilingi bersama teman-teman. Sinak, surga yang indah bagi Fredy.

Cari kayu, main bola, cari udang sambil mandi-mandi di kali Nggula hingga mengelilingi gugusan pegunungan yang memagari Sinak merupakan pengalaman terindah dimasa kecil yang sangat indah.

Mereka para bocah yang sangat beruntung. Ada berbagai hal yang pernah lakukan. Masak beras di hingga dikejar orang dari hutan merupakan petualangan-petualangan masa kecil yang tidak akan kembali terulang.

Alam Sinak memberikan sejuta makna dalam kehidupan. Menjadi tempat belajar tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Ia bersama teman-teman kecilnya sangat kompak. Mereka tidak pernah bedakan. Kami anak Sinak. Itu saja yang mereka tahu. Mereka tidak pernah bedakan. Bersatu dibawah Lani wone.

Fredy, orang tuanya sudah lama menjadi guru disana. Kedua orang tuanya berasal dari Paniai. Setelah mengabdi beberapa tahun, sejumlah orang dari Paniai datang juga untuk mengabdi daerah Sinak. Pengabdian orang Paniai bukan di Sinak saja. Tapi, ada lain yang mengabdi di Ilaga, Beoga, Mulia, Tiom hingga di Wamena.

“Kamu punya tanah itu di Agadide, Paniai disana. Kalian semua sekolah baik-baik. Nanti setelah jadi pegawai baru pulang ke kampung,” begitu nasehat dari bapa. Hamper sering bicara.
“Paniai itu dimana?” tanya Fredy penasaran
“Kou jangan malas-malas. Sekolah baik-baik. Nanti selesai SMP, kou masuk SMA di Nabire,” janji bapanya

Dengar nama Nabire, Fredy senyum lebar skali. Sangat bangga skali. Ia bayangkan akan naik pesawat dan akan ke Nabire. Nabire merupakan satu kota besar bagi mereka. Lihat Nabire merupakan satu cita-cita paling besar.

“Bapa, Lucky juga dari Paniai ka?” tanya Rian, adiknya Fredy
“Kita suku Mee itu ada empat wilayah besar. Paniai, Tigi, Kamuu dan Mapia. Semua orang Mee tinggal disana,” jawab bapa
“Bapa, kalo bapa dong main volley baru biasa kasih nama PANBERS itu apa?” tanya Fredy
“Panber itu kepanjangan dari Paniai bersaudara. Itu pertama mulai dari Wamena saja. Ada orang Paniai disana juga. Mereka buat club volley Panbers jadi kita juga pake itu,” jelas bapanya
“Oh…,”
“Orang Paniai itu bersatu. Dulu waktu bapa sekolah juga ada istilah PATATIKAMANA.”
“Oh…,”
“Patatikamana itu kepanjangannya, Paniai Tage Tigi Kamuu Mapia dan Nabire. Semua itu orang Mee ada disana. Jadi, kalau ketemu dengan orang dari Patatikamana berarti kita semua saudara dalam satu suku, Mee.”

Gugusan pegunungan memagari, lereng-lereng yang menjulang tinggi, lembah-lembah tertidur indah, sunga-sungai yang mengular yang keluar dari perut gunung-gunung. Mulai dari Makataka, negeri terbit matahari bagi orang Mee hingga diujung negeri senja, Kegata.

Persatuan yang tidak akan pernah runtuh dengan cara apapun dan sampai kapan. Orang Mee sudah menetap disini. Dalam satu bahasa, Mee. Dihiasi dengan logat-logat sangat indah. Dibawah naungan suku Mee yang memayungi Patatikamana dengan sebutan Kegata-Makata.

“Brarti, Agus mereka yang di Beoga juga orang Paniai too?”
“Iyo. Semua yang orang Paniai atau orang Mee.”

Bapanya Fredy bercerita panjang tentang persatuan, kekompakan dan kekeluargaan putra-putri Patatikamana pada saat ia sebagai siswa di SMP YPPK Moanemani. Ia ingat betul, persatuan anak-anak Mee sangat kuat. Dari berbagai sudut wilayah orang Mee  disatukan dibawah atap SMP YPPK kala itu. Ada siswa yang berasal dari Piyaiye, sukikai selatan, Modio, Timeepa, Bomomani, Kamuu, Tigi, Obano, Tage, Enarotali, Paniai timur. Tidak hanya anak-anak Mee, suku tetangga, Migani juga datang. Ada yang dari Bilogai, Bilai dan Sugapa. Dari Timika, anak-anak dari Kamoro dan Amungme juga ada disini. Tidak hanya itu, ada suku Lani dari Sinak, Beoga,dan Ilaga. Persatuan yang kokoh bagi wilayah Meepago sudah ada disini sejak lama.

Persatuan yang kokoh untuk anak-anak Mee masih ditahan hingga Jayapura pada masa sekolah. Terutama pada bagi mereka yang pendidikan di SPG Taruna Bhakti Waena.

Ia selalu berpesan pada anak-anaknya untuk tetap selalu menjaga kerukunan dan persatuan sebagai orang Mee. Prinsip-prinsip hidup dan budaya orang Mee juga harus dipegang sepanjang nafas masih ada.
“Ini pelita hidup, selain Injil,” nasehatnya.

“Fredy, ko mau ke sekolah ka tidak? Bangun cepat. Pergi mandi sana!” perintah Agus, temannya.

Fredy kaget bangun. Semalam ia bermimpi ada di Sinak. ‘Ah, ini karena Ronald bicara Sinak trus sampe malam sa mimpi Sinak dan sa terlambat bangun. Tapi biar sudah’ batin Fredy sambil mengelap matanya menuju kamar mandi

Badan sudah segar. Putih abu-abu lengkap dengan dasi. Topi sudah di kepala. Beberapa buku dipegang di tangannya. Lonceng berdengtang tepat jam 07.15 WIT. Jam pelajaran telah usai.

“Kita ke kantin sudah,” ajak Ronald. Fredy mengangguk dan ikuti saja.

Kantin belum terlalu ramai. Mereka beli pisang goreng dan Aqua dingin.

“Kawan, selesai ujian ini, saya mau naik ke Paniai. Mau lihat Paniai. Saya penasaran sekali dengan saya punya kampung,” Fredy mulai buka diskusi
“Baik, Nanti kita singgah di Kamuu dulu. Satu atau dua malam di sa pu kampung, baru nanti ko lanjut naik ke Paniai,” tawar Ronald
“Baik, nogei.”

***
Hari sabtu pagi yang cerah.

Hari ini tidak seperti biasanya. SMA Adhi Luhur sepi. Hari ini libur. Anak-anak asrama semua masih  di Asrama. Hari ini, mereka berencana mau pergi ke Wanggar, Nabire bagian barat. Mereka akan habiskan hari ini dipinggir pantai Wanggar yang sangat indah.

Bekal sudah disiapkan sejak malam. Sekitar pukul 09.00 pagi, mobil blakos bergegas keluar dari halaman. Perjalanan ke pantai Wanggar makan satu jam. Mereka sendau gurau hingga main bola hingga pukul 15.00 sore.

“Sebentar malam, kita akan dikunjungi dari para alumni asrama Teruna Karsa. Jadi, sekarang kita pulang,” ajak Leo, ketua Asrama.

***
Kriiiinggg Kriiiinggg

Jam 19.00. Semua penghuni diarahkan masuk ke ruang belajar. Seperti yang disampaikan sebelumnya, ada tiga orang datang.

“Anak-anak, perkenalkan. Mereka bertiga ini alumni asrama disini. Ujung kiri itu, kakak Bernard, yang tengah kakak Hendrik dan yang ujung kanan itu kakak Robert,” Pembina asrama menjelaskan

Mereka bertiga merupakan mahasisa di Jayapura. Mereka sedang lakukan penelitian di Nabire. Sehingga mereka sempatkan waktu untuk berbagi pengalaman  kepada penghuni asrama.
“Belajar baik-baik. Kalian akan jadi mahasiswa seperti kami. Jangan pernah putus untuk belajar. Karena dengan belajarlah kita akan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat diatas tanah,” Bernard memberi nasehat

“Sekarang ini sedang ramai skali pemekaran kabupaten sana-sini. Saya minta kepada adik-adik skalian, persatuan yang ada harus pertahankan trus sampai kapanpun. Pemekaran datang hanya untuk merusak persatuan dan kekeluargaan yang ada,” sambung Robert.

Persatuan akan orang Mee sudah mulai runtuh. Dasar-dasar sudah mulai rapuh. Semua mengurus pribadi, keluarga dan daerah. Sudah bisa membedakan orang Mee berdasarkan kabupaten masing-masing. Sudah tidak lagi seperti dulu.

Rusaknya ke-Mee-an dijemput dengan air mata. Air mata senang hanya sementara. Air mata sementara akan merusakan tatanan hidup yang sudah lama dijaga. Satu bahasa Mee yang sudah dijaga sudah dipisah-pisahkan dengan  wilayah pemekaran yang datang.

Dengan adanya pemekaran, persatuan Mee sudah dirobek.  Terkoyak habis-habisan. Dengan adanya pemekaran, tatanan hidup mulia yang hidup sejak dahulu kala sudah mulai rusak. Keberlangsungan hidup dari lingkungan hidup sangat disayangkan. Atas nama pembangunan habitat hidup dari berbagai makhluk hidup juga telah rusak. Kerusakan ini akan kembali rusak.

Touye Mana sudah tidak diajarkan dalam rumah. Tiap rumah sudah tidak ada pendidikan keluarga sehingga kebanyakan anak-anak Mee sudah hidup tidak benar. Banyak anak-anak muda Mee berumuran sekolah yang mati sia-sia.

Pemerintah tidak peduli. Tiap hari pikir uang dan pembangunan. Sehingga manusia Mee di Patatikamana selalu meninggal tiap hari. Gereja diam. Banyak pemberita injil hanya berkoar-koar hanya dibalik altar yang megah.

“Saya mau kasih tahu, khusus anak-anak Mee. Kita orang Mee itu satu saja. Hanya orang-orang yang haus akan jabatan yang lakukan pemekaran banyak-banyak. Ingat, kita semua anak-anak Mee. Jangan pernah beda-bedakan. Kami di Jayapura itu, orang Mee bersatu dibawa Ikatan Pelajar Pemuda Mahasiswa Mee (IPPMMEE) di Jayapura.”

Hampir dua jam mereka bertiga memberikan nasehat dan motivasi lalu mereka pergi.

“Fredy, nanti kita di Jayapura ee…,”
“OK, Nogei. Nanti kita gabung di IPPMMEE.”

Menjelang Senja
Ita Wakhu Phurom, Port Numbay
22 November 2018
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: