Danau Paniai, Sumber Daya Alam Papua yang Kian Terdegradasi - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Danau Paniai, Sumber Daya Alam Papua yang Kian Terdegradasi

Danau Paniai IST 

Oleh: Fransiskus Xaverius Magai
Danau Paniai berada pegunungan tengah kabupaten paniai, daerah pedalaman Propinsi Papua. Danau ini memiliki luas 14.500 Ha , berada pada ketinggian 7.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Secara geografis, disebelah timur berbatasan langsung dengan Distrik Paniai Timur, bagian barat dengan Distrik Paniai Barat, bagian utaranya berbatasan dengan Distrik Kebo, Ekadide dan Agadide, serta dibagian utaranya berbatasaan dengan Distrik Yatamo.

Dibagian timur danau paniai terdapat gunung bobaigo yang menjorok kedalam danau, terdapat pula pulau mayageiya yang membentang ditengah danau ini, serta tanjung kaigo dibagian selatannya, danau paniai juga dikelilingi oleh deretan pegunungan yang membentuk sebuah cekungan raksasa. Danau paniai mendapat suplai air dari beberapa sungai besar diantaranya, sungai weya, sungai ekadide, sungai agadide, sungai koto dan beberapa kali-kali kecil yang bermuara langsung ke danau ini.

Danau paniai hanya memiliki satu tempat pembuangan di sungai yawei yang bermuara di kokonao, daerah mimika. Danau paniai juga mempunyai fungsi ekonomi yang sangat penting sebagai penyangga kehidupan bagi masyarakat paniai yang bermukim pada wilayah tepian danau. Salah satu fungsi terpenting danau paniai adalah perikanan, baik budidaya maupun perikanan tangkap yang dilakukan secara tradisional.

*Sejarah Singkat Danau Paniai

Pada awalnya, Danau Paniai beserta Danau Tigi dan Danau Tage dinamakan Wissel Meeren. Penamaan ini dinisbatkan kepada orang yang pertama kali menemukan ketiga danau cantik tersebut pada tahun 1938, yaitu seorang pilot berkebangsaan Belanda bernama Wissel. Pada saat itu, Wissel terbang melintasi pegunungan Pulau Irian dan melihat tiga danau yang memiliki pemandangan yang indah. Karena terpesona dengan keindahannya, Wissel memutuskan untuk mendarat dan menikmati eksotisme ketiga danau tersebut dari dekat. Pada masa kolonial Belanda, nama Wissel Meeren lebih populer ketimbang Paniai. Wissel Meeren berasal dari bahasa Belanda yang memiliki arti danau-danau Wissel.

*Faktor-Faktor Penyebab Degradasi Danau Paniai

Danau Paniai terus mengalami pendangkalan. Pada tahun 1935 saat diukur para misionaris ke dalaman danau Paniai sekitar 300 meter namun di tahun 2002 menurun menjadi 75 meter. Pendangkalan akibat meningkatnya sedimentasi dari sungai- sungai yang bermuara ke danau, ujar Barnabas Gobai, mantan Kepala BAPEDALDA Kabupaten Paniai (KBR68H/2012)

Dampak pendangkalan dan penyempitan turut mempengarui keseimbangan ekologis danau paniai. Setidaknya ada tiga penyebab dari permasalahan besar tersebut yang sangat kompleks dan terkait dengan masalah-masalah lain di danau paniai yaitu sedimentasi/erosi, pencemaran dan introduksi ikan.

Laporan Bappedal Pusat (2000) menunjukkan bahwa setidaknya ada 3 sumber-sumber pencemar air danau yaitu 1) Kegiatan Rumah Tangga yang menghasilkan bahan buangan organik (dedaunan, bekas bungkusan kertas), buangan olahan bahan makanan (ikan, daging), buangan zat kimia (dari sabun, detergen, shampoo, dan bahan pembersih lain), 2) Kegiatan Pertanian seperti penggunaan pestisida (insektisida, herbisida, zat pengatur tumbuh) dan pupuk (ZA, DAP, Urea, NPK dan lain-lain), 3) Kegiatan Industri dengan 4 golongan yaitu industri makanan dan tembakau, pertenunan sutera dan pakaian jadi, industri kayu dan perabot, industri percetakan. Bahan buangan dari industri berupa buangan padat, organik, olahan makanan dan zat kimia. Sedimen yang masuk ke danau paniai merupakan akumulasi erosi dan buangan rumah tangga dan industri sepanjang tahun, contoh konkretnya di enarotali, masyarakat menjadikan kali enaro yang bermuara ke danau paniai sebagai tempat pusat pembuangan sampah, baik itu sampah rumah tangga maupun limbah industri kecil.

Meningkatnya sedimentasi/erosi lebih disebabkan oleh penebangan hutan di sekitar hulu sungai ekadide, agadide, koto, weya dan kali-kali kecil yang bermuara kedanau dan juga di sepanjang danau paniai, hingga aliran air pada saat hujan mengikis lapisan tanah dan terbawa ke sungai dan diantar ke danau.

Suara Publik (2003) menulis bahwa akibat kerusakan lingkungan, telah terjadi pendangkalan dan penyempitan danau. Di musim kemarau, danau hampir kering dengan rata-rata kedalaman air hanya 0,5 – 1,0 meter. Sebaliknya, pada puncak musim hujan, air banjir pemukiman penduduk dan menghanyutkan segalanya.

Akumulasi partikel batuan dan tanah yang dibawah oleh sungai ketika banjir pada saat musim penghujan telah mengakibatkan terjadinya pendangkalan yang hebat terutama dibagian utara danau paniai oleh sungai ekadide, agadide dan sungai weya begitupun yang terjadi di bagian barat danau paniai oleh sungai koto dan sungai- sungai lainnya, semua itu mengakibatkan penyempitan danau paniai, hai ini sebagai pemicuh meluapnya air danau pada akhir-akhir ini yang sering dialami oleh masyarakat paniai, hingga menenggelamkan kebun –kebun dan pemukiman penduduk yang dikarenakan oleh meninggkatnya volume air didanau paniai.

Pada badan air danau paniai juga terdapat banyak tanaman air baik yang tumbuh didasar danau dan di tepian danau. Tanaman air ini menjadi perangkap sedimen dan mengendapkan sedimen ke dasar danau paniai. Menurut penelitian Nippon Koei (2003), bahwa sepanjang musim hujan 80 – 90 persen permukaan danau ditutupi oleh tanaman air. Tanaman air yang menjadi gulma di danau paniai didominasi oleh eceng gondok, akar tanaman ini dapat mencapai dasar danau dan menjadi perangkap sedimen, kemudian mengendapkan di dasar danau hingga terjadi akumulasi sedimen di daerah tepian danau hingga mengakibatkan terjadinya pendangkalan dan kekeruan air di seputar tepian kampung aikai.
Peningkatan gulma air pada beberapa tempat di danau paniai, lebih disebabkan oleh pencemaran air (Eutrofikasi). Eutrofikasi merupakan problem lingkungan danau paniai yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem danau. Eutrofikasi telah merangsang pertumbuhan tanaman air lainnya di danau paniai, baik yang hidup di tepian (eceng gondok) maupun dalam badan air (hydrilla). Oleh karena itu beberapa daerah di danau paniai yang berdekatan dengan pemukiman penduduk ( sekitar pasar enaro, komopa, ekadide dan obano) telah mengalami eutrofikasi tepiannya dan ditumbuhi dengan subur oleh tanaman air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla dan rumput air lainnya.

Peningkatan gulma air ini menyebabkan tertutupnya permukaan danau sehingga menghambat aktivitas fitoplankton yang melakukan fotosintesis. Hal ini berdampak terhadap proses metabolisme organisme air di danau paniai yang pada umumnya bergantung pada hasil fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton.

Menurut Goldmen dan Horne (1938), eutrofikasi perairan danau dapat terjadi secara : Cultural Eutrophication. Yang dimaksud dengan cultural eutrophication adalah eutrofikasi yang disebabkan karena terjadinya proses peningkatan unsur hara di perairan oleh aktivitas manusia. Kita patut sadari bersama bahwa aktivitas manusia telah banyak meninggkatkan eutrofikasi di danau paniai. Menurut Morse et al (The Economic and Environment Impact of Phosporus Removal from Wastewater in the European Community, 1993) 10 persen berasal dari proses alamiah di lingkungan air itu sendiri (background source), 7 persen dari industri, 11 persen dari detergen, 17 persen dari pupuk pertanian, 23 persen dari limbah manusia, dan yang terbesar, 32 persen, dari limbah peternakan. Walaupun data statistik di atas tak tentu relevan dengan situasi kabupaten paniai, namun secara aktual jelas menunjukkan bagaimana berbagai aktivitas masyarakat dan semakin besarnya jumlah populasi manusia menjadi penyumbang terbesar bagi lepasnya fosfor ke lingkungan danau paniai. Dari data statistic di atas juga dapat diketahui bahwa 90 % penyebab eutrofikasi adalah berasal dari aktivitas manusia.

Selain faktor sedimentasi dan eutrofikasi, salah satu faktor penyebab tejadinya degradasi danau paniai adalah ikan introduksi. Penebaran ikan introduksi/ikan asing secara bebas di danau ini, telah berdampak buruk pada jenis-jenis biota endemic danau paniai. Menurut pengakuan masyarakat nelayan danau paniai, jenis ikan endemic seperti binei
(sejenis gabus pasir), yukugo (sejenis udang renik), dan egaa ( jenis siput danau) tak terlihat lagi (Mungkin telah punah), hal itu terjadi setelah masuknya ikan-ikan dari luar paniai. Di danau sentani, ikan introduksi (Reed Devil) telah mengancam habitat dan kehidupan biota edemik (Ikan Gabus Sentani). Ikan introduksi di danau paniai ditebarkan oleh para missionaris barat tahun 1960-an, tentara asing pada perang dunia ke II, TNI/Polri (Sejak paniai ditetapkan sebagai daerah DOM) dan para guru orang pendatang, masyarakat umum dan juga Sub Dinas Perikanan sering melakukannya, dipastikan hal itu dilakukan karena tinggkat pengetahuan yang rendah akan bahaya ikan introduksi terhadap habitat dan biota endemic danau paniai. Mereka telah memasukkan ikan nila (oreochromis niloticus), ikan mujair (oreochromis mossambicus), ikan mas/ikan karper (cyprinus carpio) dan ikan sembilan hitam, ikan gurami(Osphronemus gouramy ),
ikan belut ( synbranchus), dan ikan pelangi ( rainbow/melanotaenia ayamaruensis ). Ikan-ikan introduksi yang dimasukkan tersebut, tak terjamin kesterilannya serta tak rama terhadap ekosistem asli danau paniai, ikan introdusi juga telah mengancam populasi ikan endemic dan merusak habitatnya. Hal itu merupakan penyebab terdegradasinya keseimbangan ekologi danau paniai.

*Resolusi Rehabilitasi Ekosistem Danau Paniai

Menyadari bahwa senyawa fosfat, erosi/sedimentasi dan ikan introduksi, merupakan penyebab utama kian terdegradasinya keseimbangan ekosistem danau paniai sertai didukung oleh Keppres No. 48/1991 tentang pengesahan konvensi lahan basah (Ramsar) telah memberikan ketentuan-ketentuan tentang konservasi lahan basah (yang didalamnya berarti mencakup pula danau). Keppres tersebut mengatur pula penentuan situs lahan basah yang mempunyai kepentingan internasional. Institusi-institusi yang terkait dengan Keppres tersebut adalah Departemen kehutanan dan Kementrian Lingkungan Hidup.
Pengurangan tingkat penyusutan lahan basah hingga tingkat nol adalah salah satu sasaran dalam strategi pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia (IBSAP), maka perlu ada solusi yang bijak untuk menangani permasalahan danau paniai. Ada beberapa langkah yang dapat digunakan untuk mereabilitasi ekosistem danau paniai, diantaranya :
Pemerintah Paniai harus sedini mungkin membangun Balai Konservasi Perlindungan, Pengawasan dan Pengawetan Alam Danau Paniai. Nantinya balai ini berfungsi sebagai pusat konservasi dan reabilitasi kerusakan lingkungan danau paniai dan pengawetannya, dengan tupoksi kerja, 1) Mengadakan kegiatan reboisasi hutan yang rusak, 2) Membangun daerah konservasi khusus bagi biota endemic, 3) Memanen alga atau mengurangi alga yang tumbuh subur di permukaan air ataupun mengontrol pertumbuhan tumbuhan air (gulma) di danau, 4) Mengurangi nutrient dan sedimen berlebih yang masuk ke dalam danau dan membatasi penggunaan fosfat bagi masyarakat yang bermukim di pinggiran danau atau di pingiran sungai yang bermuara ke danau paniai, dengan mengadakan sosialisasi serta penggontrolan yang ketat, 4) Pemerintah segera merelokasi pasar enarotali dan pemukiman masyarakat pedagang, karena disinyalir daerah itulah sebagai pemicuh utama terjadinya pencemaran air danau.

Untuk mendukung tercapainya semua itu, pemerintah harus dapat menerbitkan suatu peraturan pemerintah atau suatu undang-undang (Perda) untuk melindungi ekosistem air dari cultural eutrofikasi, erosisi/sedimentasi dan introduksi ikan dari luar paniai, yang nantinya dijalankan oleh Balai Konservasi, Perlindungan dan Pengawetan Alam Danau Paniai.

Semuanya itu bila dilakukan dengan kesadaran yang tinggi dari semua lapisan masyarakat paniai dan semua stackholder, maka bukan suatu hal yang mustahil, danau paniai akan tercatat sebagai salah satu danau terindah di dunia, sebagai prasarat untuk masuk kedalam jajaran danau prioritas Internasional.
Penulis adalah pemerhati  danau danau di Meepago
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: