Bertemu Sang Sahabat - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Bertemu Sang Sahabat

Penulis bersama sang sahabat - doc Pribadi 

Oleh :  Selilius Kegou)*


Kenyataan dalam berziarah dibawah kolong langit hanya mereka yang benar-benar belajar, fokus dan memahami yang dapat mencapai sukses di suatu kelak. Tak mungkin tanpa perjuangan dan pengorbanan mencintai hingga tuai akan dalam dunia kerja nantinya.

Resepnya, jika gagal, harus melupakannya. Hal itu menjadi moment dan terus belajar hingga akhirnya mencapai kesuksesan.  Memotivasi diri.

***
Selama musim kemarau, dedaunan layu kekeringan hingga jatuh.  Jiwaku lelah dalam kerinduan. Aku masih di dalam rumah honai sambil memandang gunung Gemou dan Tiho yang terbentang gagah di ketinggian sana, membuat hatiku terpana. Tak lama kemudian, wajah kecantikan yang gagah di sana itu mulai  dibungkusi gugusan awan putih yang membubung, entah dari mana datangnya.
      
Siangnya, rintik hujan mulai turun membasahi rumputan di halaman rumah. Dan dedaunan diatas bukit Egeitauge turut basah pula. Disana dikenal tanah keramat, alam bisu Papua. Burung Nuri berbondong-bondong dan bergegas terbang mengepakkan sayapnya. Mereka ikut menghibur kesunyian alam, menghibur diriku, kicau mereka di atas gugusan awan sana bagaikan seruling di telingaku.

Awan putih pun tak mau kalah, ingin menyelimuti kecantikan alam dan berkenan membungkusi gunung-gunung di sekitar desa itu. Sangat nikmat suasana liburan Natal di kampung halaman.

Indah. Aku terpesona. Alam bisu mahakarya Tuhan ini sangat menawan.

***
Alunan lagu golintang menghiasi hari-hari di halaman gereja katolik St. Elisabeth Kampung Yegeiyepa. Disini, suasana menyambut dan menanti hari kelahiran Sang Juruselamat di kandang domba Betlehem tepat 25 Desember sangat terasa.

Menghiasi hari pagi hingga petang aku bermain bola bersama bocah-bocah keriting.

Tak menahan aku terasa dingin. Angin selatan tiup diatas muara kali Adai membuat dedaunan bukit Egeitauge ikut melambai-lambai dan jatuh beredar di jalanan kampung. Puas bermain bola tenis buatan daun pisang kering di ikat rotan. Tak ingin menahan dingin dilapangan. Berbondong-bondong pulang sambil  jalan bersantai, menunduk kepala, daku meletak rapat letak dada aku. Kedinginan terasa menguasai nadiku. Langkah kaki semakin pelan. Perjalanan yang jauh turut menghiasi suasana irama waita dalam rintisan hujan.

Rintisan butiran air hujan turun membasihi rambutku, mengalir tak teratur membasahi muka. Sambil menjilat lida dan sebagian besar benar-benar turun membasahi  kulitku. Kedua tangan kulipat depan dada mencoba hangatkan tubuh yang makin tak kuat menahan dingin. Tubuhku mulai terasa gementar  menghantar aku dalam kedinginan sepanjang jalan. Suasana curah hujan makin deras.

Perjalanan penuh gembira bersama bocah-bocah cilik sambil menyepak dedaunan kering yang terapung diatas derasnya air penuh lumpur, bermain hingga hilang akal.

Sesampai dirumah aku sudah dingin bukan main. Puntung-puntung kayu kering di sekeliling tunggu api segera kukumpul jadi satu di atas abu hangat. Segera kunyalakan korek, bikin api. Aku ingin secepatnya menjemur badan.

Dingin berlahan mulai pergi. Tapi di luar, hujan tak kunjung reda.

Curah hujan hari sore semakin deras dan parit-parit di simpangan jalan dipenuhi air bercampur lumpur dan dedaunan kering. Petir dan kilat terus pergantian, seakan berlomba di angkasa sana. Jantungaku  mulai berdenyut lebih cepat. Aku berdiri di muka pintu, mencoba membaca perubahan alam.

Oh Tuhan, mengapa terjadi semua ini? Akankah sesuatu terjadi nantinya?, batinku.

Beberapa  bocah bertelanjang dada berbondong-bondong bermain kejar-kejaran di jalan-jalan kampung, dalam lumpuran sambil menyepak air tawar. Hiasan canda dan tawa ada di wajah mereka. Seru melihat mereka. 

Mereka tidak takut sakit? Kata batinku lagi. Tentu mereka sudah terbiasa. Hal itu membuat mereka bertumbuh menjadi lelaki gagah nantinya. Terpaksa aku menyuruh mereka berhenti dan panggil untuk beristrahat bersamaku.

“Robi, Jhon, Kris, Moses ajak teman-temanmu kesini,” teriakku pada mereka.

“Kalian segera pulang, tinggalkan tempat itu.”

Robi adalah seorang anak tunggal dari Frans. Ayahnya selalu didikan etika terhadap Robi ia menyuruh teman-temannya sambil memeluk dalam rintisan hujan

“Ayo kita merapat kesana. Lihat. Disana kakak memanggil kita segera.”

Dalam rintis-rintisan hujan deras mereka bergegas berlari kemari sambil menari. Sesampai dirumah aku mengajak mereka duduk mengelilingi tungku api. Kehangatan makin mengusir kedinginan oleh kehangatan api, tercipta rasa kekeluargaan.  

“Kakak ceritakan pada kami pengalaman dari kakak. Sekian lama kami telah merindukan kakak. Banyangkan. Dunia luar, banyak orang berhasil. Sedangkan kami, disini hanya begini seadanya.”

Otis adalah salah satu siswa pandai di Sekolah Dasar (SD) dari teman-teman dikelas Kls III di salah satu Kampung Piyaiye. Tadinya ia tak ikut berman lumpuran bersama Robi dan kawan-kawanya Otis sudah tahu jika terus main lumpuran pasti aku dapat demam. 

 Terdengar ungkapan bocah licik selagi duduk menyandar dinding honai disamping Anton. Anton mulai memandang aku sambil garuk kepala dan senyuman tipis. Terharu, membuat kepalaku mengangguk-anggukkan dan membuat saya tergerak hati untuk membagi pengalaman. Terdetak jantung terus mengencang dan mulai berdiskusi dalam hal membagi pengalaman.

Alam Ogeihe menghias dalam liku kehidupan kita. kita sebagai Pelajar atau mahasiswa  harus selalu berani mimpi, berpikiran menggapai sukses dan berani mengembangkan kepercayaan diri kita.

Aku memulai sharing.

***
Suasana semakin cerah memasuki sore.

Dingin membuat kami di sekeliling tungku  api.

Alam tropis pamerkan kecantikannya dalam helaian sekejap mata. Kabut putih mulai sirna. Terlihat sinar  matahari menerangi hari sore di puncak-puncak gunung sekitar dusun. Ayam jantan mulai berkokok diatas ranting pohon Digikai. Indah di kampung tumpah darah ini. Di sebagian atap rumah, asap mulai membubung,  tandanya mama-mama sudah membakar ubi sambil menunggu bungkusan sayur di tengah tunggu, makan malam  keluarga yang sederhana ala kampung.

Gergo adalah siswa SMA Negeri 1 Nabire Papua sosok pemimpin bimbingannya Dambut Bernadus. Lelaki yang sering disapa Magapai. Berkarakter transparan tapi pendiam. Tadinya ia diam duduk jongkok. Kedua tangan terlipat diatas lutut disudut kiri dari tungku api.

Gergo menguras lebih kedalam lagi tentang sesorang megejar impian.

Harus  ingat, kita adalah orang yang berpotensi dalam mengejar impian, yang setiap saat harus selalu melipat gandakan kepercayaan diri dan menghilangkan penyakit exucitis, penyakit mencari alas an.”

  Rangkaian diskusi berjalan semakin mulus. Nampaknya bocah-bocah kampung adalah sosok tunas-tunas muda harapan Papua yang hebat. Wajah bocah-bocah terlihat senyuman sambil tangan melurus merapat diatas kobaran bara-bara api. Bakar jagung sesuka hati.

Asap tak beratur. Menguasai  ruangan.

Bocah-bocah SD Negeri Inpres Yegeiyepa disekitar kita duduk dan setia dengar.

Apakah itu alasan berkaitan dengan kesehatan, inteligensia atau kecerdasan,usia, dan nasib,” Tanya Fret.

    ***
Pertanyaan ini membuat kami terkagum.
Matahari pun tak ingin menemani kami lagi hari itu. Kejamnya hati, relahkan  pergi dalam sekejap mata melangkah pulang ke peraduan, diatas gunung Epoutebai hingga senja picah di danau Yamor yang membisu. Yamor muara kali Adai berliku seperti  naga raksasa ditengah alam Piyaiye. Mempesona.

Hari semakin sunyi. Kegelapan menyelimuti. Bulan mulai pamerkan wajahnya gagah di atas gunung Bobahegei. Bulan purnama.

Terdengar suara pantulan menyepakan lutut, bunyi jerigen di jalan tengah kampung. Disana dua orang gadis  penuh canda tawa.  Aku terpana melihatnya.

Siapa mereka, pikirku dalam hati.

Tentu mereka adalah Yuliance dan Meri putri dari kepala suku. Sambil mengisap tebu dan jerigen ditangan kanan mereka menuju pancuran letak bagian timur sudut kampung. Jika sampai pancuran mereka harus tempuh sekitar 500 meter. Bagi Meri dan Yuliance tidak terbeban. Itu kewajiban. Karena terbiasa didikan orang tua dari kecil tradisi hidup di dusun,  anak harus menimbah air untuk santapan seusai makan dan kerja.  

Sambil jalan menuju pancuran. Mereka bercakap-cakap:

Kita harus berani mengubah kegagalan menjadi kemenangan atau kesuksesan. Untuk kesuksesan, butuh keberanian untuk mempelajari kemunduran cita-cita kita menuju kesuksesan untuk masa depan Papua,” tutur Meri.

Yuliance menatap. Gadis kampung mengangguk-anggukan kepala sambil memberikan senyuman manis dan menerima tangkapan dengan setulus hati. Percakapan semakin mengarah dalam perjalanan makin dekat.

Yuliance diam sejenak dan menelan air liur, tarik nafas.

Mengejar impian, sangat wajar kalau kita belajar dari kegagalan  yang dicapai kesuksesan. Tapi yang penting, bagaimana kita harus menghindari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat. Kita juga harus selalu siap menghadapi perubahan-perubahan yang selalu ada dalam kehidupan mengejar impian,’ ucap Yuliance.

Perjalan terasa dekat. Bahagia.

Unggas-unggas malam ikut siul di atas pepohonan yang menjulang tinggi. Yuliance bertipe pendiam, senyumnya manis terus menghias dilesungnya ketika ia memberi senyuman. Tiap lelaki terus tergoda apadanya.  Yuliance  bukanlah seorang tak punya harapan. Cita-cita dalam kehidupannya ingin jadi seorang Dokter.

Sesampai dekat pancuran. Yuliance lompat kegitrangan melihat besarnya leluas dunia. Teriak dalam suara gembira.

“Semuanya kehendak-Mu Tuhan! Semua keluhanku, aku pasrahkan padamu.”

Mancungnya balik menatap Meri dan memaksa minta ide dari  Meri. Meri gadis kampung yang bercita-cita seorang Pilot.

“Meri apa solusiku semua ini? Aku jadi pada bingung semua ini!”

Tadinya Meri memetik dedaunan untuk menutup jerigen dan balik.

Upaya-upaya mencipta ide-ide terbaik yang bersifat competitive advantage saya kira menjadi sangat penting, dan kalau perlu kita gabung-gabungkan ide terbaik dari kita. Dengan kata lain, sebagai seorang pelajar, kitapun harus senantiasa setiap saat selalu pembuka mata dan telinga terhadap suatu kesempatan. Sebab, di samping faktor rezeki, maka peluang itu juga menyangkut dengan faktor kita. Bila kita mampu melakukan hal itu, tidak mustahil kesuksesan akan dapat kita raih”, tutur Meri.

Setelah itu mereka  pulang ke rumah.

***

Aku yang riang nikmati suasana Natal.

Malam semakin larut. Alunan lagu Natal mulai terdengar merdu melalui toa diatas pohon Jati sekitar perumahan dusun kaki bukit Egeitauge.

Di rumah, bundaku menyiapkan nota bakar berwarna cokelat kekuningan dan sayur masak bungkusan dalam daun pisang.  Nikmat terasa masakan mama, apalagi  bersama keluarga. Kenyang.

Malam semakin sunyi. Unggas-unggas malam tak bersiul. Benar-benar malam, orang-orang menghantar mereka berbaring diatas tikar buatan daun pandan. Aku sendiri, duduk dalam kegelapan malam. Lelah, orang-orang dalam rumah mulai tidur pulas bersama nikmat dunia khyalan.

Duduk dalam rumah membuat aku gelisah. Terasa sunyi dan sendiri.

Bersama secangkir kopi hitam dalam tekok kuning dan gitar tua, aku bergegas keluar dari tempat tidurku.

Buka pintulalu duduk diatas sombar dibawah pohon jeruk halam rumah sambil mengiring gitar alunan lagu mambesak. Iringan membuat aku rindu seorang gadis salju. Aku  mulai letakan gitar disampingku dan mulai membuka buku sosiologi sastra yang ditulis oleh Prof. Dr. Faruk diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Yokyakarta. 

Malam itu aku semakin sepi dan dingin karena hujan sore hari. Terangnya bulan purnama.

Di ujung jalan pintu pagar mulai di ketok dua kali, aku dengar. Aku dengar tapi malas tahu. Tak lama lagi ketok dan mendorong kedalam dari luar. Sangat menakutkan aku menatap, tapi dalam hati berbagai pertanyaan. Tak lama tangan yang halus aku letakan buku diatas sombar. Badanku merinding dalam ketakutan.

Terdengar suara lembut menyapaku.

“Selamat malam, tolong buka pintu.”

 Ketakutan menghapiriku. Gugusan awan di langit tak terlihat, gunung-gunung menjulan tinggi. Berbagai pertanyaan. Siapa dia? Menakutkan. Bulu badan naik merinding. Dalam ketakutan aku tinggalkan sombar dan mulai menuju ke pintu pagar. Langkah kaki tak laju karena takut.

Sangat ketakutan.

Aku jinjit kaki biar tak berusuara, badan memaksa menarik keatas sambil menahan nafas. Ingn menghampirinya tapi kembali duduk, karean takut.

Siapa dia ya, malam-malam begini? Batinku diatas sombar.

Aku hiraukan rasa takut. Langkah kakiku tak gentar menghampirinya. Aku diam sejenak dan berkata

“Ia, selamat malam juga. Ini siapa?”

“Saya Stefanus.”

Aku tahu persis lembut suaranya. Dia Stefanus.

“Mari masuk.”

Kehadiran sang seorang sahabatku, membuat aku hilangankan rindu sih gadis salju di rantauan kota Batavia.

Setelah menempuh SMP,  Stefanus Kegou merantau ke kota Wamena. Stefanus masuk di SMA YPPK St. Thomas Wamena.

Malam itu kami bahagia bisa bertemu setelah tiga tahun berpisah.

“Tas kamu amankan di kamar saya, di rumah sehat. Jika, ingin istrahat, lanjut istrahat saja. Kemungkinan kamu  kecapean selama perjalanan.”

Stefanus menatapku dengan senyum.

Aku menyediakan segelas kopi hangat untuk Stefanus Kegou. Aku sudah tahu, Stef meyusuri jalan panjang melewati hutan rimba, tentu  membasahi  hujan menuju kesini dari kampung Saikonai. Saya yakin, kita semua mendambakan kesuksesan seperti sahabat aku melintasi sepanjang jalan dengan penuh kedinginan.

Badannya hangat. Aroma kopi menemani.

Tak lama Stefanus buka isi catatan hariannya dan menuruh aku membaca, mataku mulai menatap diatas lembaran kertas dalam tulisan sahabatku.

Ingin memperoleh yang sebaik-baiknya dari perjalanan hidupnya. Tidak ada orang yangbisa mendapatkan kenikmatan dari hidup yang terus merangkak-rangkak, kehidupan setengah-setengah. Sukses berarti.

Banyak hal mengagumkan yang positif.

kesejahteraan pribadi; rumah unik, keamanan dibidang keuangan dan kesempatan maju yang maksimal, serta berguna bagi masyarakat.

Sukses juga berarti memperoleh kehormatan, kepemimpinan, dan disegani. Dengan demikian sukses berarti self respect, merasa terhormat, terus menerus merasa bahagia, dan merasakan kepuasan dari kehidupannya. Itu artinya, kita berhasil berbuat lebih banyak yang bermanfaat. Dengan kata lain, sukses berarti menang! Namun sayangnya di era globalisasi seperti sekarang ini, tidak semua Orang berani menyebutkan, bahwa dirinya telah mencapai kesuksesan.

Sebaliknya, saya justru berpendapat bahwa kita sebagai terpelajar  harus berani menyatakan dirinya sukses. Karena dengan keberanian kita menyatakan sukses, akan membangkitkan kepercayaan diri. Dengan kepercayaan diri yang besar itu, kita akan lebih bersemangat untuk meraih kesuksesan. Dan saya tetap yakin, betapa pun sibuknya Orang yang sukses, ia akan tetap siap membantu teman-teman yang memerlukannya. Dan mereka semakin percaya pada Tuhan sebagai suatu kekuatan yang besar.

Wamena, 8 Juli 2014
Stefanus

Seusai membaca. Aku minta  menjelaskan maksud tulisannya. Pembicaraan  panjang-lebar, hingga alam jadi begitu sunyi, dan kelopak mata kami jad berat lagi untuk melanjutkan perbincangan. Malam itu, kami tergeletak terbaring diatas sombar hingga membawa lelap tidur.




)* Penulis adalah wartawan suarameepago.com


Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: