Kisah di Pantai Cemara - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Kisah di Pantai Cemara

Ilustrasi Pantai cemara
Oleh : Philemon Keiya 

Cerita hari ini

Sa tiba di pantai Cemara pukul 10.17. Pantai Cemara, salah satu pantai di Nabire. Pantai ini ada dibagian barat. Salah satu pantai yang penuh cerita.

Cerita romantis bagi pasangan yang sering datang kesini. Cerita indah bagi mereka yang sering datang dengan keluarga. Cerita lain bagi mereka yang sering habiskan waktu untuk mancing.

Tapi, cerita pilu bagi orang Nabire ada di pantai ini. Pantai ini menjadi salah satu saksi bisu bagi penjajahan bagi tanah ini.

Kenapa?

Mari dengar ceritanya.

Sejak puluhan tahun yang lalu (blum tau tahun pasti) su ada pelabuhan ini. Pelabuhan kayu. Pelabuhan yang membawa keluar ribuan kayu dari sepanjang hutan di Nabire.

Pengusaha lokal hingga pengusaha kelas kakap. Birokrat hingga aparat. Banyak pihak kongkalingkong untuk jarah hutan sepanjang teluk Cendrawasih.

Akh, tadi siang itu angin segar bagus skali. De pu angin pukul sa pu dada sampe sa hampir tertidur.

Tadi siang sa tra sendiri. Banyak orang. Oh yaa,  sa tra ke gereja. Padahal hari ini hari minggu. Dong yang sama2 di pante itu juga, pasti dong tra ke gereja.

Sa tra tau dong pu alasan knapa dong tra ke gereja. Tapi sa pasti pu alasan sendiri. Soal alasan ini, nan sa crita lain waktu.

Sa kas keluar minuman dingin yang sa beli di SP 1. Sa menikmati keindahan pantai Cemara. Ombak saling berkejaran sepanjang bibir pantai. Riakan ombak memukul daratan ini terlantun indah.

Keindahan lantunan ombak itu tak seindah kisah hidup para penjaga pantai Cemara. Mereka hidup su lama.

Yang sa tahu, sejak pertama sa datang tempat ini 6 tahun yang lalu dong masih ada. Dong pu kehidupan jauh dari sebutan kota Nabire. Padahal, jarak antara dong pu rumah ke kota Nabire sekitar 20 KM saja. Kasihan!

Pukul 15.20, sa putuskan tuk pulang. Keluar dari pantai, jalanan berdebu. Lagi-lagi sa baku lewat deng satu truk besar berisi kayu yang sangat besar dan panjang. Gila!

Dari kejauhan, lantunan Adzan berkumandang. Doa terlantun indah di Masjid. Akh, angin sore dari Nabire Barat lari bersama deng sa.

Sa telpon nogei Jhon Mote dan Wauwa Gabby Ukago. Kami ketemu. Seperti biasa, kami berbagi cerita. Cerita-cerita lucu silih berganti mengalir.

Kami bergegas pergi. Tak jauh kami keluar, ketemu dua perempuan hebat: Amadi Dechal Nwp'youw dan Pince Pigai.

"Tadi pagi Pince pu ade Tuhan panggil dari RS Siriwini," kata Debo.

Kami semua kaget. Kami ucapakan turut berduka serentak. Pince banyak cerita tentang Almarhum adiknya. Kami ikut sedih.

"Tadi pagi saja itu, tiga orang Papua meninggal di rumah sakit Siriwini dalam waktu yang bersamaan ini. Sungguh," cerita Pince dengan nada sendu

"Tadi pagi saja 3 orang meninggal. Blum siang dan sore ini. Ini baru di RS Siriwini saja. Belum meninggal yang di rumah. OAP habis dalam waktu dekat ini," Debo tambahkan.

"Dalam waktu yang bersamaan, kami baru saja makamkan dua orang ini. Dua2 anak Mee," ujar Gabby.

"Bah, ini kita habis dalam waktu yang dekat ini," Debo kembali sambung.

Ini fakta hari ini. Dalam hari ini saja, di Nabire banyak tempat duka. Orang Asli Papua banyak meninggal.

Menjelang sore, ada info duka lagi. Ondoafi Ifar Besar Franz Albert Yoku meninggal dunia.

Waktu yang sama, ribuan warga Nduga sedang mengungsi. Kabupaten lain apa kabar?
Akh, hati ini pilu.

Suasana duka menyelimuti kami. Gelap sudah datang. Pukul 19.20, sa deng Donatus Avionik Douw jalan-jalan ke arah SP Wadio.

Lagi-lagi, ada sebuah pemandangan yang buat hati menangis. Setidaknya ada 3 buah strada penuh sayur naik ke arah Dogiyai. Mobil belakang itu, dengan nomor plat PA 4801 EL.

"Sayur ini ada bawa naik ke Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Mereka akan tiba pagi disana," hati sangat sakit.

Sayuran dari mama-mama Dogiyai akan bawa pulang. Akh!!  😢😢😢

Hujan rintik memukul kulit. Kami berdua putuskan untuk pulang.

Itu sa pu crita hari ini.
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: