Gadis Opera - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Gadis Opera

ilustrasi OperaVision
Oleh; Leo Tolstoy

Syahdan, di sebuah rumah peristirahatan musim panas, saat gadis opera itu masih memiliki suara merdu dan wajah rupawan, dia menjalin hubungan khusus dengan pemujanya. Nikolai Petrovic Kolpakov namanya. Keduanya sedang duduk di teras belakang. Saat itu udara tak tertahankan panasnya. Nikolai Petrovic baru saja menyudahi makan siangnya. Ia dalam keadaan mabuk setelah minum sebotol penuh anggur murahan dan merasa tidak enak, marah-marah di luar kesadarannya. Mereka berdua sedang menunggu panas siang hari menjadi teduh sebelum pergi berjalan-jalan.
Tiba-tiba dari teras depan terdengar dering bel. Sebenarnya, kedua orang ini tidak mengharapkan kedatangan siapa pun. Kolpakov yang mengenakan kemeja lengan panjang dan bersandal, bangkit menatap Pasha. ''Saya yakin itu pengantar pos atau salah seorang gadis teman mainku,'' kata penyanyi opera. Kolpakov sendiri tidak khawatir dilihat pengantar pos atau gadis kenalan Pasha. Tapi, agar tidak mengganggu, dia kemudian mengumpulkan pakaiannya dan masuk kamar.

Sementara Pasha berlari membukakan pintu. Dia terperangah dan heran. Yang datang bukannya tukang pos atau salah seorang temannya, melainkan seorang wanita yang tidak dikenal, berdiri di depannya. Muda, cantik, berbusana bak seorang wanita terhormat. Menilik dari penampilannya, dia seorang wanita yang amat terpandang. Wanita asing itu kelihatan pucat dan terengah-engah. Seolah dia baru saja menaiki tangga yang panjang dan tinggi.

''Apa yang bisa saya bantu,'' sapa Pasha. Wanita asing itu tidak langsung menyahut. Dia maju selangkah, perlahan-lahan melihat ke sekeliling ruangan. Kemudian, duduk seakan sudah terlalu lama berdiri. Bibirnya yang pucat bergetar, seolah begitu sulit untuk merangkai sebentuk kalimat. ''Apakah suami saya bersamamu?'' akhirnya wanita itu bertanya seraya mengangkat matanya lebar-lebar. Sementara pelupuk matanya merah sembab oleh tangis. Beberapa detik wanita asing itu menatap Pasha.

''Suami?'' kata Pasha lirih. Dia mendadak ketakutan hingga tangan dan kakinya dingin.

''Suami?'' ulangnya gemetaran.

''TttÉ. tidak, nyonya. Saya tidak kenal suami siapa pun.'' Beberapa saat sepi. Wanita asing itu terlihat mengusap-usap bibirnya yang pucat dengan sapu tangan. Agar tidak terlihat grogi, wanita tersebut menarik napas dalam-dalam. Sementara Pasha berdiri terpaku di depannya. Memandang dengan wajah gugup ke arah wanita asing itu.

''Jadi, kau bilang dia tidak di sini?'' kata wanita asing itu dengan suara mantap. ''Saya. Saya tidak mengerti siapa yang sedang nyonya perbincangkan,'' jawab Pasha sekenanya. ''Kau makhluk busuk menjijikkan..,'' desis wanita asing itu sambil melihat Pasha dari atas sampai ke bawah dengan penuh kebencian. ''Ya.busuk. Itulah kamu. Akhirnya, bisa juga aku berkata begitu kepadamu,'' lanjut wanita asing itu.

Begitu kalimat terakhir itu diucapkan, Pasha merasa berada di hadapan wanita yang berbusana serba hitam, dengan mata penuh amarah. Pasha mulai merasa malu. Hidungnya yang berjerawat, rambutnya yang awut-awutan, serta pipinya yang montok mulai memerah. Pasha merasa dalam kondisi terjepit. Hal ini membuat dia merasa kurus dan tidak memiliki kerapian. Lagi-lagi dia merasa memang tidak pantas dihormati dan merasa sedemikian takut serta malu untuk berdiri di hadapan wanita asing misterius itu.

''Di mana suamiku?'' tanya wanita itu. ''Tidak soal bagiku, apakah dia di sini atau tidak. Tapi, aku harus katakan bahwa dia membawa lari uang dan polisi sedang mencari-cari Nikolai Petrovic. Mereka bermaksud menahannya. Beginikah hasil hubunganmu dengannya?'' gertaknya. Dengan penuh amarah, wanita asing itu mulai bangkit dan mondar-mandir di ruangan, sedangkan Pasha terlalu takut untuk menatapnya.

''Mereka akan menangkap Nikolai Petrovic. Aku tahu siapa yang menyebabkan dia terlibat dalam kesulitan yang mengerikan ini. Kamulah penyebab semua itu! Dasar perempuan busuk! Sungguh-sungguh makhluk sewaan yang menjijikkan!'' Tidak mendapat perlawanan dari Pasha, wanita asing itu makin kalap. ''Dengar kataku, perempuan murahan. Aku memang lemah. Kamu lebih kuat daripada aku. Tapi ingat, ada Tuhan yang melindungi aku dan anak-anakku! Tuhan Maha Mengetahui. Tuhan akan menghukummu atas setiap air mataku. Dan akan tiba waktunya kau bakal teringat padaku.''

Sepi menyelimuti. Wanita asing itu berjalan hilir mudik mengitari ruangan sambil meremas-remas tangannya. Sementara Pasha terus melihat dengan pandangan kosong, penuh kegugupan. Dia tidak mampu mengikuti kata-kata wanita asing itu. Namun, dia menolak apa yang dirasakannya, sebuah keterlaluan. ''Saya tidak tahu apa yang sedang Anda katakan nyonya,'' kata Pasha yang tiba-tiba tangisnya meledak.

''Kau pendusta,'' teriak wanita asing itu sambil memelototkan matanya.

''Aku tahu semuanya! Aku sudah tahu semua perilakumu! Aku tahu Petrovic setiap hari di sini. Persisnya sejak sebulan lalu!'' sambungnya terengah-engah.

''Apa kamu tidak lihat bahwa dia menggelapkan uang orang lain. Demi kepentingan seÉseorang perempuan macam kau, dia mau melanggar hukum!''

''Dengar!'' dengus wanita itu dengan nada tinggi seraya berhenti di depan Pasha. ''Kau tidak punya prinsip hidup apa-apa lagi. Kehadiranmu semata-mata untuk mempromosikan nafsu iblismu. Itulah tujuan hidupmu. Tapi, aku tidak percaya kau jatuh begitu rendah seperti sudah kehilangan ciri-ciri sebagai manusia. Ingatlah, dia punya istri dan anak-anak. Bagaimana jadinya kalau kemudian dia dihukum dan dibuang ke Siberia. Anak-anak dan aku akan mati kelaparan. Apa kau sadari itu?''

''Tapi, tunggu dulu. Masih ada jalan terbuka untuk menyelamatkan kami dari kemiskinan dan kehinaan. Jika aku menebusnya sembilan ratus rubel hari ini, polisi akan melepaskannya. Tolong usahakan, cuma sembilan ratus rubel,'' pinta wanita asing itu. ''Cuma sembilan ratus rubel?'' Pasha perlahan bertanya. ''Saya saya tidak tahu apa yang nyonya maksudkan. Saya tidak mengambilnya.''

''Aku tidak bertanya mengenai sembilan ratus rubel. Aku tidak sudi menyentuh seandainya kau punya. Aku hanya memintamu untuk sesuatu yang lain. Biasanya, lelaki memberi perempuan macam kamu dengan hadiah-hadiah yang mahal. Pokoknya, berikan saja padaku semua pemberian yang sudah kau terima dari suamiku.''

''Nyonya,'' kata Pasha seraya mengangkat bahu. ''Saya akan senang mengembalikan semuanya. Tapi, demi Tuhan, suami nyonya tidak pernah memberi saya apa-apa. Sungguh nyonya,'' tukas Pasha meyakinkan. ''Hanya, dia pernah membawakan saya dua barang kecil. Nyonya dapat mengambilnya jika nyonya suka.'' ''Inilah semuanya,'' ujar Pasha seraya menyerahkan kedua barang itu kepada tamunya. Wanita itu bergetar dan merah padam mukanya. Dia merasa terhina.

''Buat apa ini.'' ''Aku tidak meminta derma kamu. Aku meminta apa yang bukan milikmu... meminta apa yang telah kamu peras dari suamiku dengan cara mengeksploitir dari lelaki yang lah dan sialan itu Waktu aku lihat kau dan dia di panggung Selasa lalu, kau memakai peniti bros dan gelang mahal. Kau jangan pura-pura tidak merasa bersalah denganku!

Aku meminta untuk terakhir kali. Mau atau tidak kau mengembalikan hadiah-hadiah pemberian itu.'' ''Anda aneh. Benar-benar aneh,'' kata Pasha mulai berani. ''Saya berani sumpah, saya tidak pernah memiliki sesuatu dari Nikolai Petrovic. Baik itu bros maupun gelang yang nyonya tuduhkan. Semua yang pernah dia berikan cuma kue-kue kering.''

Karena tidak mendapatkan jawaban menggembirakan, wanita asing itu duduk menatap ke depan dan merenung. ''Apa yang harus saya lakukan sekarang?'' katanya nyaris tak terdengar. ''Jika aku tidak memperoleh sembilan ratus rubel, tamatlah dia, aku, dan anak-anakku. Apa yang musti kulakukan? Membunuh si hina ini atau berlutut kepadanya,'' katanya dalam hati.

''Aku mohon padamu,'' katanya di antara isaknya. ''Kamulah satu-satunya orang yang menghancurkan dan meruntuhkan suamiku. Kamu harus menyelematkannya. Kamu boleh saja tidak menaruh belas kasihan kepadanya, tapi anak-anakku. Apa jadinya dengan mereka?''

''Tapi apa yang bisa saya lakukan nyonya?'' tanya Pasha. ''Anda bilang saya ini makhluk hina yang telah menghancurkan Nikolai Petrovic. Tapi demi kitab suci, saya bersumpah saya belum pernah menerima apa-apa dari suami nyonya. Hanya Motya, satu-satunya anggota kelompok kami yang hidup dengan laki-laki kaya yang membuatnya makmur. Selebihnya, kami semua hidup dari kesanggupan kami sendiri. Nikolai Petrovic orang terpelajar, orang terhormat, jadi saya menerima dia. Kami tidak diperkenankan bilang tidak.''

''Hadiah-hadiah itu yang kami minta! Bukan pidatomu! Berikan hadiah-hadiah itu. Apa aku perlu menghinakan diriku dan menyembah di depanmu dulu, begitu?''

Pasha menjerit dan mengangkat tangannya ke atas. Dia kaget melihat wanita terhormat yang cantik itu mau berlutut di hadapannya. ''Baik,'' kata Pasha sambil mengusap air matanya. ''Akan saya kembalikan hadiah-hadiah itu kepada Anda. Baik. Tapi, hadiah-hadiah itu bukan dari Nikolai Petrovic Saya mendapatkannya dari tamu-tamu lain. Tapi, jika itu Anda kehendaki''

Pasha berlari menuju laci lemari. Menarik laci atas, mengambil sebuah bros intan, kalung berliontin batu mulia, beberapa bentuk cincin, dan sebuah gelang emas. Semua diberikan ke wanita asing tersebut. ''Saya tidak pernah memperoleh barang sebuah pun dari suami Anda. Tapi, jika Anda menghendaki, ambil semuanya! Ambil dan jadilah kaya.'' Pasha melanjutkan: ''Jika Anda memang istri yang dihormati, yang dinikahi sesuai hukum perkawinan yang sah, bagaimana mungkin Anda sampai tidak merawat dan melayani suami Anda. Saya tidak pernah mencari dia, tapi dialah yang datang sendiri kepada saya..''

Wanita asing tersebut sama sekali tak menghiraukan apa yang diucapkan Pasha. Dia memeriksa barang-barang berharga itu. ''Mana barang-barang yang lainnya? Ini belum cukup lima ratus rubel harganya,'' katanya. Dengan emosi yang memuncak Pasha menyentakkan jam emas dan sepasang manset dari laci. Dilemparkannya semua barang dan lantas berkata: ''Inilah semuanya. Anda bisa menggeledah seluruh tempat ini kalau Anda mau.''

Sang tamu menghela napas. Meraup satu per satu barang emas dengan tangan gemetaran. Lalu, membungkusnya dengan sapu tangan. Tanpa banyak bicara bahkan mengangguk pun tidak, wanita asing itu terus ngeloyor pergi. Pintu kamar sebelah terbuka. Dan Nikolai Petrovic pun muncul. Wajahnya pucat. Dengan gugup sembari menggoyang-goyangkan kepalanya, dia seolah baru saja menelan satu pil yang amat pahit.

''Hadiah! Hadiah macam apa?'' kata Pasha seraya menghampiri Nikolai Petrovic.

''Kapan kau pernah memberiku sesuatu?'' tanya Pasha dengan wajah kuyu ke arah Nikolai Petrovic.

''Hei, ada apa dengan hadiah-hadiah itu segala,'' jawab Nikolai Petrovic sambil menundukkan kepalanya. ''Hadiah macam apa yang pernah kau berikan padaku. Aku tanya ini!'' jerit Pasha.

''Jadi, itu maksudmu. Oh, Tuhanku. Istriku yang demikian terhormat, mau juga berlutut di depan pelacur macam kau! Mengapa hal ini sampai terjadi?'' Nikolai Petrovic memegang kepalanya dan mulai mengeluh: ''Tidak, aku tidak akan memaafkan diriku! Tidak akan pernah! Enyah dariku perempuan sampah,'' teriaknya sembari melepaskan diri dari Pasha dan mendorongnya ke samping dengan tangan gemetar. ''Dia sampai-sampai hampir berlutut, dan kepada siapa? Kepadamu ? Oh, Tuhan.'' Secepat dia berpakaian dan mondar-mandir di dekat Pasha, secepat itu pula dia melangkah ke pintu dan pergi.

Pasha menjatuhkan dirinya dan menangis meraung-raung. Dia sebetulnya merelakan barang-barang berharga itu lenyap. Tapi, sekarang dia ditinggalkan begitu saja sendirian. Teringatlah dia sekarang. Betapa tiga tahun lalu, seorang pedagang kaya, tanpa basa-basi, tahu-tahu memukulnya. Ingatan itu membuat tangisnya semakin menjadi-jadi. (Judul asli: Jewuska) 

Cerpen ini sudah pernah di muat di situs bumimanusia.or.id 28 Mei 2001 - 16:23

Jika penerjemah merasa keberatan atas penayangan cerpen ini, hubungi kami di sastrapapua@gmail.com Terimaksih.
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: