Banjir Bandang Sentani 2019 - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Banjir Bandang Sentani 2019

Freddy Pattiselanno, Mengajar Etika Lingkungan
pada Program Pasca Sarjana Ilmu Lingkungan Universitas Papua
Sudut Pandang Etika Lingkungan: Suatu refleksi

Oleh; Freddy Pattiselanno1, 2

Prolog: Sekilas tentang Cyclops
Peristiwa nahas yang menimpa Sentani sudah seminggu berlalu. Pasca banjir bandang yang terjadi, pemerintah dan berbagai elemen masyarakat berusaha secara maksimal untuk membantu para korban.  Dalam berbagai berita resmi di media cetak dan elektronik serta sosial media, berbagai tanggapan tentang peristiwa tersebut ramai didiskusikan. Analisa dan perkiraan penyebab terjadinya banjir dengan berbagai deskripsi gambar yang menunjukan skema penyebab banjir digunakan untuk mengulas mengapa banjir bisa terjadi?

Perkiraan kondisi kawasan Cagar Alam (CA) Cyclops, yang dirangkaum dari berbagai sumber menunjukan bahwa hutan sebagai kawasan penyangga (buffer zone) yang berada dalam bentangan dari Kota Jayapura sampai ke Kebupaten Jayapura telah mengalami kerusakan yang sangat parah.  Hal ini dapat dimengerti, karena letak kawasan Cyclops sangat dengan pusat perkembangan kota. Karena itu CA Cyclops rentan dengan berbagai tekanan akibat pemanfaatan hutan-salah satu sumber daya alam untuk berbagai keperluan. Pemanfaatan tersebut diantaranya untuk lahan perkebunan/pertanian, pemukiman, perkantoran, bahan galian C, dan berbagai kepentingan lainnya seperti perburuan satwa.

Konon Cyclops berasal dari Bahasa Belanda, yang berkonotasi puncak awan.  Bentangan pegunungan ini termasuk dalam kawasan Cagar Alam (CA) Cyclops yang diresmikan tahun 1978 melalui SK No.56/Kpts/Um/I/1978 dan dikukuhkan pada tahun 1987 lewat SK No.365/Kpts-II/1987) yang mencakup wilayah seluas 22.500 hektare. Pada tahun 2012, CA Cycloop bertambah luasannya menjadi 31.479,89 lewat SK Menhut nomor 782/Men Hut-II/2012.

Perkiraan penyebab Banjir Bandang Sentani

Dari beberapa informasi yang dikompilasi, dugaan besar penyebab peristiwa Banjir Bandang Sentani adalah sebagai berikut:

1.       Luasan kawasan kritis yang terdapat di CA Cyclops yang diperkirakan mencapai sekitar seribu hektar, yang banyak terjadi di kawasan penyangga (buffer zone), dan diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun
2.      Pembukaan lahan untuk dijadikan perkebunan dan pemukiman yang saat ini berkembang dengan pesat dan hampir dtitemukan hampir di seluruh kawasan Cyclops. Saat ini jumlah masyarakat yang mendiami seluruh wilayah pegunungan Cyclops diperkirakan berkisar 400 ribu jiwa yang terdiri dari 15 kampung, baik yang berada di Kabupaten maupun Kota Jayapura. Perambahan dan deforestasi yang terjadi di wilayah lansekap pegunungan Cyclops banyak terjadi di wilayah Angkasa, Kota Jayapura, Waena, Bumi Perkemahan, hingga daerah Uncen yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Jayapura.
3.  Penambangan bahan galian C baik pasir maupun batu kali yang berdampak terhadap daya tahan beban. Kehilangan satu bagian di bawah akan digantikan oleh satu bagian dari atasnya. Ini juga yang menyebabkan terjadinya longsor ikutan material lain, seperti tanah dan pepohonan.
4.   Rawan longsor karena kemiringan lereng sangat curam dan tanah relatif tipis serta batuan dasar mudah hancur. Hingga akar tanaman tak dapat menggenggam kuat pada tanah atau batuan dan menjadi beban untuk kondisi lereng yang labil.
5.       Menurut hasil rekaman BMKG pada tanggal 16 Maret lalu, curah hujan ekstrim di sekitar wilayah Jayapura berpotensi banjir. Hal ini merupakan ancaman, karena topografi bagian hulu Pegunungan Cyclops, memang agak curam dan curam sedangkan bagian hilir lebih datar dan landai.

Interaksi manusia dan lingkungan; Prinsip Etika Lingkungan

Menurut Keraf (2002) dalam bukunya “Etika Lingkungan”, Etika Lingkungan Hidup – ELH, merupakan disiplin filsafat (pandangan antroposentris). Pada prinsipnya, ELH berbicara tentang hubungan moral antara manusia dengan lingkungan atau alam semesta dan bagaimana perilaku manusia yang seharusnya terhadap lingkungan. ELH dipahami sebagai disiplin ilmu yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam tersebut. 

Dalam peristiwa Sentani seminggu yang lalu, kita tidak perlu mempersoalkan siapa yang salah yang menjadi dalang sehingga semua ini terjadi. Sampai sejauh mana hubungan moral antara manusia dan lingkungan yang berdampak terhadap peristiwa tersebut merupakan hal yang penting untuk dipahami.

Apa yang terjadi, sebenarnya bermuara pada sikap manusia yang menempatkan diri sebagai pusat dari alam semesta. Dalam kondisi seperti ini, nilai tertinggi ada pada manusia dan kepentingannya. Dengan kata lain, manusia dan kepentingannya dianggap paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan kebijakan yang diambil. Pendapat teori ini menyatakan nilai dan prinsip moral hanya berlaku bagi manusia dan tidak bagi alam. Ini merupakan ciri “Anthroposentrisme” yang lebih dikenal dengan prinsip Etika Lingkungan yang dangkal. Pada kenyataannya prinsip ini memiliki banyak kelemahan karena:

1. Alam hanya dianggap sebagai alat (instrumen) untuk memenuhi kesenangan/kepuasan manusia semata.
2. Kebijakan dan tindakan yang berkaitan dengan lingkungan hidup akan dianggap baik jika memberikan keuntungan bagi manusia (egoistis)
3. Eksploitasi dan tindakan menguras alam oleh manusia dilakukan tanpa mempertimbangkan kelestarian alam
4. Karena itu teori ini dituduh sebagai salah satu penyebab utama dari krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini

Jika dikaitkan teori Anthorposentrisme dengan perkiraan penyebab terjadinya banjir bandang Sentani, maka dengan jelas dapat dimengerti ada suatu relasi timbal balik antara manusia dengan alam.  Relasi tersebut bisa berakibat positif, tetapi juga negatif. Jika hubungan yang terjalin tidak harmonis, maka ada konsekuensi yang harus ditanggung. Sebagai bagian dari kearifan lokal, yang diajarkan dan diwariskan turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya setiap kelompok etnik percaya bahwa menjaga keseimbangan hidup dengan alam adalah hal yang perlu mendapat perhatian. Sebaliknya akan terjadi sesuatu yang berdampak buruk jika alam diperlakukan tidak dengan semestinya. Hal yang sama juga dimengerti dengan baik oleh lima suku adat di sekitar Pegunungan Cyclops yaitu Sentani, Moi, Tepera, Ormu dan Elema, jika “Cyclops diperlakukan dengan tidak bersahabat, maka akan terjadi reaksi negatif yang berujung mala petaka”. 

Oleh karena itu melakukan introspeksi diri dan melakukan gerakan moral yang berpihak pada alam, adalah hal urgen yang perlu dilakukan.  Memahami alam melalui prinsip Ekosentrsime atau yang lebih dikenal dengan Etika Lingkungan yang dalam, mutlak dilakukan oleh semua pihak dalam melakukan restorasi Cyclops dan sekitarnya termasuk Danau Sentani.

Artinya bahwa secara ekologis, mahluk hidup dan benda abiotis lain saling terkait, karena itu, tanggung jawab moral juga sama berlaku bagi semua realitas ekologi. Lebih mendalami dan memahami salah satu versi Etika Lingkungan yang dikenal dengan nama Deep Ecology-DE (diperkenalkan oleh Arne Naess, filsuf Norwegia) akan membuka wawasan kita dalam menjalin hubungan yang mesra dengan alam. 

Keterbaruan DE tidak lagi menempatkan manusia dan kepentingannya sebagai ukuran bagi segala sesuatu yang lain.  DE memusatkan perhatian kepada semua spesies termasuk yang bukan manusia juga. Oleh karena itu DE disebut sebagai suatu gerakan orang-orang yang mempunyai sikap dan keyakinan yang sama, mendukung suatu gaya hidup yang selaras dengan alam, dan sama-sama memperjuangkan isu lingkungan dan politik yang memberikan porsi yang benar kepada alam dan lingkungan.

Apa tindakan selanjutnya?
Pernyataan Gubernur Papua Lukas Enembe, untuk melakukan relokasi masyarakat yang mendiami wilayah sekitar Cyclops dan berbagai tindakan restorasi ekologi terhadap kawasan cagar alam tersebut menjadi titik balik untuk mengatur hidup, rumah tangga (termasuk kampung distrik bahkan sampai ke tingkatan lebih tinggi di atasnya) mejadi selaras dengan alam atau dikenal dengan prinsip Ecosophy.

Melalui prinsip ini, semua organisme dan mahluk hidup adalah anggota yang sama statusnya, saling terkait sehingga memiliki martabat yang sama. Karena itu, pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman dan kompleksitas ekologis harus diterapkan dalam suatu hubungan simbiosis yang saling menguntungkan kedua belah pihak (manusia dan alam, lingkungan). Sikap saling hormat, solider, sayang, selaras dan adil terhadap alam menjadi penentu hidup berdampingan secara damai dengan alam.  “Alam adalah guru terbaik, karena itu setiap petualangan akan mengajarkan sesuatu yang bernilai”.

1. Mengajar Etika Lingkungan pada Program Pasca Sarjana Ilmu Lingkungan Universitas Papua

2. Peneliti di Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati Universitas Papua


Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: