Pada Pertemuan Dua Sungai - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Pada Pertemuan Dua Sungai

Foto; dok penulis saat bersama Rufus
Oleh; Fawaz Al Batawy)*

"Selamat sore, Bang!" Tulis Rufus pada layanan messenger facebook yang Ia kirim kepada saya. Ketika saya membuka pesan ini, saya sedang dalam perjalanan dari Wonosobo menuju Yogya. Setibanya di rumah, saya membalas pesan Rufus.

"Selamat sore, Rufus."

"Abang sedang di rumah Yogyakah?"

"Iya, ini baru sampai rumah saya. Bagaimana?"

Percakapan kami selanjutnya via messenger berujung pada janji bertemu pada sore di hari berikutnya. Pada hari berikutnya, saya tiba lebih dahulu dari Rufus. Tiga puluh enam menit setelah saya tiba, Rufus datang.

"Maaf abang, motor baru kembali ini, habis dipinjam, dipakai ke luar kota." Ujar Rufus ketika kami saling bersalaman.

Sebelum bertemu sore kemarin, sudah cukup lama kami tidak berjumpa. Lebih setahun lalu kali terakhir kami berjumpa. Selanjutnya, kami cukup panjang berbincang, saya, Rufus, dan beberapa rekan kami di Mapala Satu Bumi lainnya.

Empat jam dua puluh menit kami berbincang. Hampir seluruhnya diselingi dengan tawa kami karena banyak sekali cerita-cerita Rufus yang mengundang gelak tawa. Rencana awal pertemuan itu, Rufus hendak konsultasi skripsinya di jurusan teknik elektro. Realisasinya, perbincangan perihal skripsi tak lebih dari 20 menit. Sisanya, saya banyak meminta Rufus bercerita perihal banyak hal dan aktivitasnya.

Lebih dua tahun lalu, Rufus kembali ke Papua. Bukan untuk kembali ke Nabire tempat Ia banyak menghabiskan waktu ketika kanak-kanak hingga remaja, atau kembali ke Kabupaten Puncak Jaya tempat Ia berasal. Rufus ke Ilaga di Kabupaten Puncak Papua. Ia bersama beberapa rekannya dari UGM mengadakan program KKN di sana.

Sekira dua bulan mereka tinggal di Ilaga menjalankan beberapa program pengabdian masyarakat yang sudah direncanakan. Dua bulan, tentu bukan waktu yang sebentar. Lumayan lama. Jadi sudah barang tentu banyak pengalaman menarik yang didapat Rufus yang bisa diceritakan kepada kami.

Hari pertama tiba di Ilaga, siang sedang pada puncaknya. Rufus merasa kepanasan. Ia kemudian menuju sungai besar tak jauh dari tempat Ia tinggal selama di Ilaga. Ia hendak mandi. Tanpa pikir panjang, begitu tiba di sungai, Ia lantas melepas pakaiannya tersisa celana kolor lalu melompat dari daratan menuju sungai.

Sungai tempat Rufus menceburkan diri, merupakan pertemuan dua sungai yang keduanya berhulu di Pegunungan Tengah dengan sumber mata air dari es yang mencair, dan bermuara di Laut Arafura. Ilaga berada pada ketinggian 2.286 meter di atas permukaan laut. Dari Ilaga kita bisa melalui jalur yang mengantar kita ke Puncak Cartenz di Pegunungan Jayawijaya.
Titik tempat Rufus menceburkan diri di sungai, memiliki kedalaman lebih delapan meter. Air sungai yang bersumber dari es di pegunungan, begitu dingin meski pada siang hari.

"Pantas nggak ada yang mandi padahal siang panas begini. Air sungainya ternyata sama dinginnya dengan air kulkas yang hampir jadi es batu," Ujar Rufus, kemudian Ia melanjutkan, "Cukimai, sa kedinginan betul itu. Baru tempat sa lompat ke sungai ternyata dalam. Lama sekali sa sampai di atas itu. Habis itu, saya langsung kembali ke rumah, batal mandi padahal sa su bawa sabun, shampo dan sikat gigi."

Kamu bisa membayangkan Rufus bercerita pengalaman lucu itu dengan logat Papua, seperti Ia biasa membawakan cerita mop Papua. Saya dan teman-teman saya lainnya tentu tertawa puas.

Bahasa yang digunakan penduduk asli Ilaga, sama dengan bahasa yang digunakan di tempat Rufus berasal, Bahasa Dani. Namun karena sudah sejak balita Rufus meninggalkan kampung halamannya untuk menetap di Nabire, Ia tidak begitu mahir menggunakan Bahasa Dani. Ketika saudaranya dari kampung halaman menelpon Rufus di Yogya, mereka kerap menertawai Rufus karena logat aneh Rufus ketika mengucapkan bahasa daerahnya.

Sekali waktu, ketika mensosialiasikan program KKN kepada warga lokal, Rufus memberanikan diri menjadi penerjemah. Alih-alih membikin paham, Rufus malah bikin bingung warga yang hadir pada sosialisasi itu. Akhirnya peran Rufus digantikan salah seorang tokoh masyarakat. Ia pulang lalu tidur karena kecewa, gagal menjadi penerjemah yang baik.

Rufus kemudian mengajak saya kembali ke sungai. Bukan, bukan untuk kembali berenang. Sama sekali bukan. Rufus sudah kapok dengan itu. Ketika Rufus tiba di Ilaga, musim kemarau sedang pada puncaknya. Siang menjadi sangat panas kemudian malam begitu dingin. Sangat dingin.

Ketika kemarau itu, aliran sungai tidak mengering. Debit sungai masih cukup besar. Menurut warga setempat, ketika kemarau panjang hingga dua tahun sekalipun, aliran sungai itu tidak mengering. Sayangnya saya lupa nama sungai itu, pertemuan dua sungai itu. Padahal Rufus sempat menyebut nama kedua sungai itu.

Melihat potensi sebesar itu, Rufus kemudian mengusulkan pembangunan mikro-hidro untuk pembangkit listrik. Selain potensi sungai, Rufus juga mengamati potensi geografis Ilaga yang dikelilingi gunung dan banyak terdapat lembah. Kondisi itu memungkinkan dan berpotensi besar untuk kincir angin sebagai pembangkit listrik.

Usulan itu Ia sampaikan langsung kepada pejabat-pejabat kabupaten. Lewat pertimbangan biaya, pada akhirnya usul Rufus yang pertama yang disetujui. Pemda bersedia mengucurkan dana untuk membangun mikro-hidro sebagai pembangkit listrik untuk beberapa wilayah di sekitarnya.

Beberapa hari lalu, Rufus mendapat kabar dari Ilaga, proses pembangunan mikro-hidro hampir selesai. Bulan depan listrik sudah mulai bisa dialirkan.
Rufus belum lama pindah, Ia pindah dari rumah kos dan kini menetap di salah satu asrama Papua di Yogya. Pada hari kedua tinggal di asrama, tas berisi laptop dan beberapa barang berharga lainnya hilang. Alih-alih sedih, Rufus malah mengajak kami menertawai musibah yang belum lama Ia alami ini.

Belakangan ini, saya sangat kecewa dengan UGM, juga teknik UGM. Anda tentu tahu, kasus pelecehan seksual yang berujung damai itu. Anda tentu juga sudah tahu bahwa kejadian pelecehan seksual itu terjadi ketika KKN, dan pelakunya anak teknik.

Beruntung saya mengenal Rufus, dan beberapa anak teknik lainnya yang bekerja dalam sunyi. Ini mengingatkan saya pada pepatah arab yang terinspirasi dari perkataan Imam Ali bin Abi Thalib RA, yang kemudian dikutip oleh Prof Quraish Shihab pada pidatonya saat pertemuan persaudaraan baru-baru ini, hanya ada dua saudara, saudara dalam agama, dan saudara dalam kemanusiaan. Keduanya bukan saling meniadakan, malah menguatkan.

Terlalu primitif membela seseorang karena Ia se-almamater. Lebih lagi yang melakukan pembelaan itu pejabat pusat akademik. Orang lain yang dirugikan karena pembelaan itu, korban pelecehan seksual, padahal juga se-almamater. Maka, bukan perkara almamater yang semestinya dikedepankan kini. Keputusan damai sepihak itu, betul-betul mencederai kemanusiaan kita.

)* Fawaz Al Batawy, guru yang pernah bertugas di Asmat dan Nduga, penulis buku "Yang Menyublim di Sela Hujan"


Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: