Noken, tong pu tradisi leluhur - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Noken, tong pu tradisi leluhur

Noken asal suku mee -tokitokinoken doc.
Ko'sapa - Perayaan enam tahun noken sebagai warisan dunia tak benda yang diakui UNESCO akan diselenggarakan tanggal 4 Desember 2018 mendatang.
Hingga kini, peminat noken semakin bertambah banyak sementara kreativitas perajin perajut noken pun berkembang. Namun, apakah budidaya bahan baku noken sudah mulai dilakukan orang Papua atau mereka masih bergantungkan pada alam.
“Bersama noken tradisi budaya luhur manusia Papua melangkah bangkit berbenah diri, membangun kemandirian budaya bangsa manusia Papua, berbenah diri memajukan kesejahteraan tanpa sekedar merobek tetapi lewat perayaan hari noken boleh merajut, menganyam, dan menyulam keberagaman hidup di atas tanah ini,” kata penggagas noken sebagai warisan dunia tak benda, Titus Chris Pekey, kepada kosapa, pekan lalu.
Titus Pekey, yang juga Ketua Lembaga Ekologi Papua, mengatakan saat ini semakin banyak pengrajin noken di Papua. Kemahiran kerajinan tangan masyarakat ini lebih untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
“Kebanyakan para perajut noken menjualnya dan hasilnya digunakan untuk kehidupan hidup sehari hari, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan membiayai anak sekolah atau kuliah,” katanya.
Alumnus SMA YPPK Teruna Bakti Kota Jayapura ini mengatakan penyelamatan noken dalam jangka panjang, bagaimana mengajak manusia Papua menanam atau budidaya tanaman bahan baku pembuatan noken.
“Agar tidak susah mencari bahan baku noken, tetapi berlimpah, karena ini menjadi indikator berdikari atas dasar budaya diri manusia Papua tanpa jual tanah, hutan lingkungan yang dimilikinya sebagai ciptaan Tuhan penyelenggara hidup,” katanya.
Titus mengatakan hari ini dan hari esok kita bisa selamatkan bahan baku noken secara bersama tanpa unjuk kehebatan masing-masing insan. Tapi sadar dan paham semua insan itu sama harkat dan martabat untuk hidup.
“Untuk itu saling melengkapi lebih penting atas diri kita hidup dan kita kepada alam sekitarnya,” katanya.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), John Gobay, mengatakan langkah-langkah untuk menyelamatkan noken selain melakukan budidaya juga harus mempunyai museum noken.
“Pemerintah Provinsi Papua ajukan permohonan hibah ke pemerintah pusat untuk membangun museum noken. Museum ini penting karena noken sudah ditetapkan oleh Unesco sebagai warisan dunia tak benda. Museum bisa jadi tempat orang melihat beraneka ragam noken. Juga bisa jadi tempat orang belajar membuat noken. Itu bisa dilakukan dengan dana desa khususnya daerah-daerah yang memproduksi noken,” katanya. (*)
Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: