Musisi Papua tolak RUU Permusikan - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Musisi Papua tolak RUU Permusikan

musisi tradisonal papua - google sourch.

Jayapura – Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan yang dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dinilai merugikan musisi dan seniman Papua.
Hal tersebut disampaikan Bonny Lani musisi senior asal pegunungan tengah Jayawijaya ini kepada Jubi, Senin (11/2/2019).
Ia mengatakan pada prinsipnya, ia dan banyak musisi di Papua tidak setuju jika RUU ini disahkan. Menurutnya, apa yang tertuang dalam RUU Permusikan justru berpotensi membunuh karekteristik seniman Papua.
“Bagi saya musik ini mengalir bagaikan air jadi tidak bisa di halangi oleh siapapun. Coba bayangkan kalau air deras yang mengalir lalu kita palang, apa yg akan terjadi? Sebaiknya RUU itu di bahas dari semua pihak tidak hanya sepihak oleh pemerintah, sebaiknya pemerintah memberi ruang dan fasilitas seluas-luasnya untuk para musisi dan seniman untuk terus berkarya di negeri ini,” kata Bonny vokalis Manico Group.
Menurutnya, banyak musisi Papua yang lahir dengan darah seniman. Sehingga adanya RUU justru hanya akan membatasi ruang gerak mereka dalam berkreasi.
Sementara itu Vokalis Ras Melanesia (Rasmel) Band Paul Oshen mengatakan, jika melihat RUU yang ada saat ini, banyak sekali pasal yang merugikan musisi di Indonesia terutama di Papua.
Ini karena dalam pasal-pasal tersebut seolah-olah Pemerintah mempersempit ruang gerak para seniman dan musisi itu sendiri sehingga mereka akan kehilangan ruang gerak dan kesempatan untuk berkembang.
“Secara tidak langsung pemerintah membatasi penghasilan mereka untuk kebutuhan sehari-hari dalam keluarga. Bila ruang gerak musisi di batasi oleh RUU maka penganguran di Indonesia akan bertambah contohnya musisi jalanan yang ngamen di kota-kota besar mereka akan dibatasi dan tidak akan mengamen karena belum mempunyai lisensi musik, kan kasihan,” kata Paul.
Sementara itu Thedy Pekey pengurus KORK Papua mengatakan akan lebih bijak jika RUU Permusikan ini dibatalkan. Jikapun harus diteruskan, Pemerintah sudah seharusnya mendengar masukan dari para musisi utamanya yang berada di daerah.
“Seharusnya dibahas dalam RUU lebih kepada pemberdayaan para musisi terutama undang-undang hak cipta, dan pemberdayaan artis lokal di setiap iven kabupaten/kota,” harap Thedy. (*)
Sebelumnya dimuat di jubi.co.id 
https://www.jubi.co.id/musisi-papua-tolak-ruu-permusikan-2/

Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: