Milli Vanili Kebohongan Dasyat Di Dunia Hiburan Tahun 80-an - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Milli Vanili Kebohongan Dasyat Di Dunia Hiburan Tahun 80-an

Foto; throwbacks.com
Oleh; Echov Kaskuser

Dunia hiburan merupakan area yang penuh dengan intrik dan kebohongan dengan tujuan mencapai ketenaran yang pada akhirnya bisa menghasilkan uang berkarung karung untuk semua pihak yang terlibat, lihat saja di Indonesia saat ini mana yang bener sama yang rekayasa beda tipis, kaya kentut gak berbunyi, bau nya busuk tapi buktinya tersamar. Salah satu duo musik yang berkibar jaya di masa TS masih akil balik dan mulai tertarik dengan cewe adalah Milli Vanili. 

Tak perlu hidup sebagai remaja di tahun 90an untuk mengetahui skandal Milli Vanilli. Kebohongan dahsyat nan ciamik yang pernah terjadi di dunia musik internasional kala itu. Tak ada yang menyangka, tak ada yang mengira, bahwa mereka sama sekali tidak menyanyi di seluruh album Milli Vanilli.

Sulit disangkal, dua pemuda asal Jerman: Fabrice Morvan (Fab) dan Robert Pilatus (Rob) memang terlihat menarik dan seksi dengan segala penampilan eksentriknya. Maka Ketika album All or Nothing (1988) rilis di Eropa, dilanjutkan All Or Nothing -US Remix Album (1989) keluar di Amerika, dengan promosi jitu, Girl You Know It’s True (1989) pun terjual 14 juta kopi di seluruh dunia.

Tur, wawancara, rekaman tv, dan sederet penghargaan pun mereka sabet. Tembang Baby Don’t Forget My Number, Girl I’m Gonna Miss You, dan Blame It On The Rain pun menari-nari di tangga lagu seluruh dunia. Tak syak lagi, mereka pun diganjar Grammy Award untuk Best New Artist pada Februari 1990.
Saat itu mereka memang fenomenal, hijrah ke Amerika, mendadak kaya, dan didapuk menjadi artis dunia dadakan. Tak ada yang menyangka, tak ada yang mengira. Bahagiakah Rob dan Fab? Nyatanya tidak.

Hingga beberapa saat setelah keluar single Keep on Running (1990), yang merupakan salah satu materi bagi album kedua, mereka membongkar sendiri kebohongan mereka. Alasannya mereka ingin mulai menyanyi dengan suara sendiri di album-album Milli Vanilli dan tak mau lagi hidup bergelimang kemewahan namun berkubang kebohongan.

Adalah Frank Farian sebagai produser yang mempunyai semua ide dahsyat ini. Merasa keinginannya tak ditanggapi, Rob dan Fab pun buka kartu dalam sebuah konferensi pers. Mereka mengaku berbohong dan mengembalikan Grammy Award yang sempat mereka sabet.

Dunia pun terhenyak, popularitas mereka sontak ambrol, orang mulai mencaci-maki, bahkan kabarnya Rob Pilatus sempat mencoba bunuh diri. Karir mereka sebagai Milli Vanilli hancur berantakan. Kerjasama dengan Frank Farian pun pecah di tengah jalan.

Merasa kedoknya telah terbuka, tak mau kebakaran jenggot lebih hangus, sebagai gantinya, Frank Farian menyodorkan The Real Milli Vanilli. Penyanyi sebenarnya yang mengisi suara di seluruh album Milli Vanilli. Meski musiknya masih terasa asyik, Album The Moment of Truth tak mampu melejit karena sosok Rob dan Fab kadung melekat di benak penikmat musik dunia sebagai Milli Vanilli “yang sebenarnya”.

Lantas bagaimana nasib duo itu? Nyaris ditelan bumi. Orang seperti lupa bahwa pernah ada duo yang begitu fenomenal di jagad musik internasional. Meski musiknya tetap saja asyik dan tetap laku dijual, mereka sudah dicap sebagai: pembohong!

Pada 1993 Robert Pilatus dan Fabrice Morvan sempat mengeluarkan album dengan tajuk Rob & Fab sebagai usaha bangkit mereka melalui suara asli. Apa boleh buat, tanpa promosi yang berarti serta publik musik yang masih lagi teringat dengan skandal kebohongan mereka, mudah diduga: album itu jeblok di pasaran.

Sejak itu, praktis nama mereka hilang (kali ini bukan saja ditelan bumi, tapi lebih dari itu). Publik musik seolah tak ingat bahwa pernah ada nama Milli Vanilli dengan duo Rob dan Fab di blantika musik dunia.

Pada 1998 Rob menghembuskan nafas terakhir akibat over dosis penyalahgunaan obat-obatan di Frankfurt, Jerman. Sesaat sebelum keluar album Back and in Attack (1998).

Lantas bagaimana dengan Fab? Setelah kematian Rob, Fab malah bangkit kembali di dunia musik. Tentu dengan suara asli. Ia mulai terlibat pada proyek-proyek musik di Amerika. Bahkan pada 2003 Fab mengeluarkan Love Revolution.

Pada 2007 Universal Pictures malah membuat film berdasarkan kisah hidup serta perjalanan musik Milli Vanilli itu sendiri. Ya, Fab bangkit lagi. Ia yang merupakan salah satu dari “tim” proyek Milli Vanilli yang notebene adalah pembohong kelas wahid di blantika musik dunia, berani kembali berdiri dan tegak lagi dengan jati dirinya yang asli.

Tengoklah 
http://www.fabricemorvan.com dan lihatlah bagaimana Fabrice Morvan yang mantan Milli Vanilli itu “hidup” kembali. Boleh juga melongok http://www.myspace.com/fabmorvanmusic di mana Fab berani menutup masa lalu dan tampak lebih percaya diri melihat ke depan.

Di sana akan kita dengar suara Fab dengan lagu-lagu andalannya yang, rasanya, tak kalah menarik dengan penyanyi-penyanyi R&B saat ini. Terasa sekali Fab sangat percaya diri dalam sambutannya. Ia tak menutupi kesalahannya. Ia tetap mengakui kebohongannya. Tapi ia pun tetap berbuat sesuatu dan setia meneruskan hidupnya.

Semua ini gara-gara tak sengaja jalan-jalan ke youtube dan mendapati Fab Morvan menyanyikan Blame It On The Rain di sana. Suaranya lumayan juga sebetulnya. Tak buruk-buruk amat lah.

Seseorang bisa jadi berbuat kesalahan fatal di masa lalu. Berbuat hal paling bodoh dan paling nista sekalipun. Tapi itu semua tak menutup kesempatan bagi seseorang untuk kembali hidup baru, berprestasi, serta kembali setia pada hidup itu sendiri, seperti halnya Fabrice Morvan. 

Sumber; Kaskus co.id 07-01-2014 14:32
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: