Mengkritisi Sebatang Rokok - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Mengkritisi Sebatang Rokok

Foto; dok penulis saat di Asmat
Oleh; Fawaz Al Batawy)*

Ketika peristiwa ini terjadi pada sebuah rumah guru yang dikelilingi hutan lebat di Kabupaten Asmat, Papua, usia Daniel Ariopok saya perkirakan 18 atau 19 tahun. Pada masa akhir penugasan saya sebagai sukarelawan guru di Sokola Asmat, Papua, Daniel tinggal bersama saya di rumah guru.

Daniel bersama Yosepha, adiknya, menjadi murid yang cukup rajin datang ke sekolah. Keduanya juga kerap membantu saya di rumah guru di luar jam belajar Sokola Asmat. Baik Daniel juga Yosepha, adalah peserta belajar di kelas literasi terapan. Keduanya sudah melalui tahapan literasi dasar yang mempelajari baca-tulis-hitung dasar sebagai materi sehari-hari.

Apa itu literasi terapan? Butuh penjelasan yang cukup panjang. Namun, secara sederhana literasi terapan itu mempelajari bagaimana kemampuan literasi dasar yang dimiliki bisa lekas digunakan dalam kehidupan sehari-hari, membantu memecahkan ragam persoalan yang dihadapi komunitas tempat program berlangsung.

Daniel tidak berasal dari rumpun Suku Asmat yang menguasai wilayah Mumugu Batas Batu tempat kami tinggal. Ia berasal dari rumpun Suku Asmat lainnya yang menguasai wilayah pusat distrik Sawaerma dan sekitarnya. Bahasa kedua rumpun itu berbeda, namun Daniel cukup baik menguasai bahasa yang digunakan penduduk Mumugu Batas Batu. Ia satu dari sedikit orang di Mumugu Batas Batu yang menguasai dua bahasa lokal yang paling banyak digunakan di Mumugu Batas Batu. Bahasa Mumugu dan Bahasa Sawaerma. Keahlian Daniel ini sangat membantu saya dalam berkomunikasi dengan dua rombong besar di Mumugu Batas Batu yang masih sama-sama Suku Asmat namun berbeda bahasa.

Di luar belajar di Sokola Asmat dan menemani saya di rumah guru, sehari-hari Daniel sama seperti pemuda Asmat lainnya, pergi berburu ke hutan, menjaring ikan dan udang di sungai, pangkur sagu di dusun sagu, dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rutin lainnya. Sagu, ikan, udang, kaluang (sejenis kelelawar besar), dan beberapa hasil hutan yang dikumpulkan Daniel kerap Ia antar ke rumah guru untuk konsumsi harian kami.

Tiap kali keluar rumah, Ia selalu menenteng senapan angin miliknya. Saya kerap memberi Daniel peluru senapan angin dan sebungkus rokok sebelum Ia berangkat berburu. Daniel mengembalikan semua itu dalam bentuk lauk lezat, segar dan bergizi.

Daniel bersama Sempa Pui, pemuda seusia Daniel yang juga murid di Sokola Asmat menjadi orang pertama yang saya pilih ketika Pastor Hendrik meminta saya memilih murid-murid di Sokola Asmat menjadi petugas membaca Al Kitab dan Doa Umat pada misa setiap hari minggu. Mereka berdua berhasil menjalankan tugas dengan baik. Pastor puas, dan warga kagum dengan penampilan mereka di mimbar gereja.

Dari Daniel pula saya banyak mengetahui perbedaan antara rumpun tempat Ia berasal dengan rumpun yang menguasai wilayah Mumugu Batas Batu.

Sekali waktu, Bang Dodi dan Habibi kembali datang ke Mumugu Batas Batu. Mereka datang dalam rangka monitoring, evaluasi, dan menutup program Sokola Asmat. Dengan kata lain, mereka menjemput saya di Mumugu Batas Batu karena masa penugasan saya telah usai di sana.

Siang itu ketika panas matahari begitu terik, saya, Bang Dodi, Habibi dan Daniel berbincang di halaman belakang rumah guru. Terlalu banyak hal yang asyik kami perbincangkan hingga kami sadar stok rokok kami sudah kian menipis, harus ada sukarelawan yang membeli rokok di kios yang jaraknya dari rumah guru hampir satu kilometer.

Daniel menawarkan diri jadi sukarelawan. Mengendarai sepeda, Ia berangkat ke kios untuk membeli rokok. Dua bungkus rokok Gudang Garam Internasional untuk saya, dua bungkus rokok Surya Profesional pesanan Bang Dodi, dua bungkus rokok Marlboro titipan Habibi, dan dua bungkus rokok Surya 16 untuk Daniel.

Sekira setengah jam kemudian Daniel kembali dengan membawa delapan bungkus rokok, kedelapan bungkus rokok itu semuanya bermerek Surya 16.

"Kenapa Surya 16 semua, Daniel, rokok lain pesanan kami tidak adakah?" Ujar Habibi yang pertama-tama protes.

"Rokok lain ada, Pak Guru." Jawab Daniel singkat.

"Baru kenapa beli rokok ini semua? Berangkat lagi sudah." Pinta Habibi. Saya dan Bang Dodi tertawa saja dengan kelakuan Daniel.

Habibi kemudian meminta Daniel mencatat merek-merek rokok titipan kami agar Ia tidak lupa dan membeli rokok sesuai pesanan. Daniel lantas kembali ke kios untuk menukarkan rokok sesuai dengan pesanan kami, masih dengan mengendarai sepeda.

Kali ini kepulangan Daniel ke rumah guru lebih lama dari sebelumnya, rokok-rokok kami sudah benar-benar habis. Sekira satu jam kemudian Daniel kembali, membawa delapam bungkus rokok, dan lagi-lagi, semuanya Surya 16.

Habibi muntab. Ia marah besar. Bang Dodi kali ini juga ikut dongkol dengan kelakuan Daniel.

"Rokok lain ada, Dani?" Tanya Bang Dodi.

"Iya, ada." Jawab Daniel.

"Rokok-rokok yang kami pesan itu, ada di kios?" Bang Dodi mengulang pertanyaannya.

"Iya, ada, Pak Guru."

"Terus kenapa tetap beli ini semua?"

"Jadi begini, Pak Guru, semua rokok ini harganya sama, semua satu bungkus harga 25 ribu. Rokok Pak Guru Fawaz, isi cuma 12 batang, pendek lagi. Rokok titipan Pak Guru Dodi, isi 16, tapi kecil sekali, dan pendek. Rokok titipan Pak Guru Habibi, isi memang 20 batang, tapi pendek dan paling cepat habis dibanding lainnya. Surya 16 ini, isi 16, panjang, lama habisnya. Jadi saya tetap putuskan beli Surya 16 semua saja, biar kita tidak rugi, Pak Guru."

Saya ngakak. Bang Dodi ngakak. Habibi langsung ngeluyur membawa enam bungkus rokok Surya 16 keluar rumah guru, menuju kios, menukar rokok itu sesuai pesanan kami, kembali ke rumah guru, lantas membanting rokok itu di hadapan saya, Bang Dodi, dan Daniel. Ia kemudian tertawa ngakak, kemudian berujar, "Yang penting rokok yang sesuai selera dulu ada, baru saya bisa tertawa."

*Keterangan foto: saya bersama beberapa murid Sokola Asmat kelas literasi terapan. Daniel mengenakan kaos warna dominan hitam tanpa lengan, dan topi kupluk motif garis-garis hitam-putih.

)* Fawaz Al Batawy, guru yang pernah bertugas di Asmat dan Nduga, penulis buku "Yang Menyublim di Sela Hujan"
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: