Desas-Desus "Orang Potong Kepala": Selubung Operasi Pasukan Khusus Belanda di Irian Barat? (2) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Desas-Desus "Orang Potong Kepala": Selubung Operasi Pasukan Khusus Belanda di Irian Barat? (2)

Karikatur; Potret Anak Melanesia

Oleh; Seba Woseba)*

Tahun 1956, desas-desus tentang orang potong kepala muncul lagi, dua kali, di Wondama. Pada tahun ini, ayahku dan keluarganya dipindahkan Misi Gereja Reformasi Belanda ke Tandia, Wondama, sebagai seorang guru sekolah dan jemaat Kristen.

Semua kampung di Jazirah Wondama, termasuk Wasior ibu kota distrik itu, didirikan sepanjang pantai dari utara ke selatan dan dibatasi sejauh beberapa kilometer dari muara Sungai Woisimi. Ada hamparan tanah datar yang subur yang dibatasi Gunung Wondiwoi dari utara ke selatan.

Tandia, suatu nama perkampungan dengan empat kampung dengan Webi sebagai kampung paling selatan, terletak di pedalaman dan dijangkau lewat jalan setapak di belakang Rasiei, kampung pesisir paling selatan. Keempat kampung di Tandia terletak di kiri-kanan jalan setapak yang menuju Webi, masing-masing berjauhan beberapa kilometer. Tandia terletak pada tanah datar yang sangat subur dan kali yang jernih. Berbeda dengan penduduk Wondama di pesisir, penduduk Tandia sebenarnya punya bahasanya sendiri: bahasa Tandia. Tapi karena makin jarang dipakai orang-orang Tandia dan terancam punah, penduduk Tandia berbahasa Wondama. Ayah dan keluarganya tinggal di Webi.

Kali pertama desas-desus tentang orang potong kepala beredar dari mulut-mulut pada tahun 1956 adalah sesudah ayah dan saya kembali berjalan kaki dari kampung Miei ke Webi sejauh lebih dari sekitar 15 kilometer suatu hari. Dalam perjalanan melewati kampung-kampung pesisir itu, ayah diberitahu bahwa orang-orang potong kepala lagi beroperasi. Kami berdua harus hati-hati. Ketika tiba di Rasiei, hari sudah mendekati senja; kami akan memasuki jalan setapak menuju Webi pada malam hari. Di Rasiei, ayah berencana membeli obor dari sejenis kain yang dibasahi minyak tanah. Obor yang nanti dia nyalakan begitu masuk jalan setapak itu akan menerangi jalan kami pulang ke Webi. Tapi dia mengurungkan niatnya: justru orang potong kepala, kalau ada, bisa dengan mudah mengetahui kami dan menangkap dan membunuh kami. Jadi, dia memutuskan bahwa demi keamanan, kami berjalan dalam keadaan gelap.

Karena terbiasa berjalan dalam gelap, kami bisa menempuh perjalanan pulang, sering di bawah rumpun bambu sejauh beberapa ratus meter di kiri-kanan jalan yang membentuk kanopi dan membuat jalan makin gelap. Kami tiba di Webi dalam keadaan aman sesudah berjalan beberapa jam dari Rasiei.

Beberapa bulan sesudah pengalaman pertama dengan desas-desus tadi, beredar lagi desas-desus yang sama, kali ini di Tandia. Ini disebarkan menjelang keberangkatan ayah dengan seorang penginjil asal Tandia untuk menghadiri suatu pertemuan guru-guru Kristen di suatu kampung pesisir di Wondama. Karena desas-desus ini yang mereka anggap bisa terjadi, mereka membawa senjata untuk membela diri kalau mereka diserang orang potong kepala. Ayah membawa sebuah pisau khusus buatan pabrik berukuran lebih besar dari pisau dapur dan disebut bowie mes (pisau bowie) dalam bahasa Belanda sebagai senjatanya. Penginjil itu membawa sebuah tombak penikam babi hutan yang diburu. Berangkatlah mereka menghadiri pertemuan itu.

Sesudah pulang dan memasuki jalan setapak menuju Webi malam hari, mereka memutuskan untuk berjalan dalam gelap karena ini lebih aman.Di tengah perjalanan, ayah, berkaki telanjang seperti penginjil itu, menginjak seekor ular yang berbaring melingkar di jalan lalu melompat melewatinya ke depan.

"Saya injak ular melingkar di jalan," katanya kepada penginjil di belakangnya.

Penginjil bertubuh pendek dan gempal itu mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, lari, lompat, jatuh persis di atas ular itu, dan melompat ke depan sambil mengatakan, "Wah, saya menginjaknya juga."

Tapi mereka berdua tiba dengan selamat.

Jadi, siapa sesungguhnya orang potong kepala itu?

(Bersambung Bagian 3)

)* Penulis buku, alumni UKSW Salatiga


Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: