Resensi: Hidup di Zaman Batu: Renungan tentang Asal-Muasal Fantasi Penjajahan (Danilyn Rutherford) - KO'SAPA

Resensi: Hidup di Zaman Batu: Renungan tentang Asal-Muasal Fantasi Penjajahan (Danilyn Rutherford)




Judul buku: Living in the Stone Age: Reflections on the Origins of a Colonial Fantasy (Hidup di Zaman Batu: Renuangan tentang asal-muasal Fantasi Penjajahan)
Penulis: Danilyn Rutherford
Penerbit: University of Chicago Press, 2018
Tebal: 192 halaman.


Danilyn Rutherford mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu antropolog Papua Barat yang paling terkemuka saat ini. Pengajar di Universitas California Santa Cruz, Ibu Danilyn melakukan penelitian lapangan pertamanya di Biak pada pertengahan tahun 1990an. Buku pertamanya Raiding the Land of the Foreigners: The Limits of the Nation on an Indonesian Frontier (Merompak di Tanah orang Asing: Batas Kebangsaan di Tapal Batas Indonesia) diterbitkan pertama kali pada tahun 2003. Buku itu membahas tentang bagaimana orang Biak menjinakkan benda-benda dan nilai-nilai asing, termasuk konsepsi kebangsaan Indonesia untuk tujuan mereka sendiri. Ibu Danilyn melihat proses ini terutama dari sejarah pelayaran suku Biak dan juga konsepsi suku Biak tentang amber. Ia juga melakukan studi mendalam tentang wor, suatu jenis nyanyian yang menjadi ciri khas dan kehidupan suku Biak.

Studinya tentang wor bisa jadi merupakan studi yang paling penting dari buku pertamanya ini. Ibu Danilyn meneliti wor dari Biak utara yang dikatakan berasal dari keret Mnuwom. Wor itu berasal dari perjumpaan pendiri keret dengan sebuah pohon. Bunyi wor itu adalah sebagai berikut:
Wo, sinan sya bepon sya siburi
Sekormbai, kormbai
Wo, siburi sepuraimuke, sepuraimuke

Pada tahun 1990-an, menurut Ibu Danilyn dan informannya (orang Biak), ada 15 jenis wor. Namun setiap daerah di Biak memiliki variasi sendiri-sendiri. Studi tentang wor ini sangat penting karena ia juga menghubungkannya dengan koreri, sebuah kepercayaan yang sangat penting di Biak. Studinya ini membuktikan bahwa walau orang Biak banyak yang menjadi amber, orang Biak tidaklah selalu mengikuti ideologi dan kemauan para amber. Pada bagian-bagian terakhir buku itu, dia bicara bagaimana nilai-nilai budaya orang Biak seperti wor dan koreri berdampak pada pandangan diri orang Biak, terutama ketika berada di bawah pemerintahan Orde Baru Indonesia.

Buku keduanya terbit tahun 2012 dengan judul Laughing at Leviathan: Sovereignty and Audience in West Papua (Menertawakan Leviathan: Kedaulatan dan Audiensi di Papua Barat). Buku ini masih berfokus pada suku Biak namun isu yang dibahas lebih luas. Ibu Danilyn berbicara tentang sosok Leviathan, raksasa laut yang berasal dari cerita suku Yahudi. Di dalam Al Kitab, Leviathan digambarkan sebagai ikan yang memakan Yunus. Leviathan  juga dipakai oleh filsuf Inggris Thomas Hobbes untuk menggambarkan kekuasaan negara, atau mereka yang memegang kedaulatan negara, mereka yang memegang monopoli atas kekerasan untuk mendirikan atau mempertahankan kedaulatan negara.


de Bruijn bersama orang Moni dan Mee dalam pelarian menghindari Jepang. Kredit photo: Institute of Social History, Belanda


Ia berteori bahwa kekuasaan dan kedaulatan negara tidak pernah total. Kedaulatan membutuhkan persetujuan dan pengakuan dari pihak-pihak lain. Bagaimana ini terlihat dalam kasus Papua Barat? Ibu Danilyn membahas klaim-klaim kedaulatan atas orang dan tanah Papua, mulai dari Belanda hingga Indonesia dan bagaimana orang Papua menanggapinya. Ia banyak memberikan contoh dari tokoh-tokoh orang Biak, mulai dari Petrus Kafiar hingga Filep Karma. Ia menganalisis bahasa-bahasa yang dipakai orang Papua untuk menyatakan aspirasinya. Ia menyebutnya “nasionalisme orang ketiga.”Mungkin ini menandakan betapa susahnya menyuarakan aspirasi nasionalisme di tengah represi dari sang Leviathan yang begitu kuat dan audiens yang tidak terlalu bersimpati dengan aspirasi nasionalisme itu.

Bukunya yang ketiga yang akan menjadi pembahasan penting resensi ini berjudul Living in the Stone Age: Reflections on the Origins of a Colonial Fantasy (Hidup di Zaman Batu: Renuangan tentang asal-muasal Fantasi penjajahan) yang baru diterbitkan tahun 2018. Buku ini berfokus pada tulisan para pegawai Belanda di Papua Barat. Namun berbeda dengan dua buku sebelumnya, buku ini berfokus pada suku Mee dan Moni di Pegunungan Tengah Papua. Ibu Danilyn mempelajari dan membahas tulisan-tulisan Jean Victor de Bruijn, seorang Indo-Belanda yang bekerja sebagai pegawai kolonial Belanda di Wisselmeren (Paniai) sejak tahun 1939. De Bruijn dilahirkan di Jawa Tengah pada tahun 1913 dan belajar Indologi (ilmu tentang ke-Indonesia-aan) di Leiden dan mendapatkan gelar sebagai ahli arkeologi Jawa. Meskipun begitu, ia lebih tertarik untuk bertualang di Papua. Ia ditugaskan di Paniai dan menjadi dekat dengan banyak orang Mee dan Moni, termasuk Soalekigi, seorang kepala suku Moni dari Kugapa (kemungkinan berkeret Zonggonau).

Ibu Danilyn juga membahas tulisan-tulisan Jan van Eechoud, seorang pegawai Belanda yang juga pernah bertugas di Paniai. Jan van Eechoud menganggap dirinya bapa orang Papua. Ia mendirikan OSIBA, sekolah pegawai untuk orang Papua dan Papoea Vrijwilligers Korps (PVK atau Laskar Papua. Bukan kebetulan bahwa dua orang ini memiliki simpati yang sangat besar pada orang Papua dan aspirasi orang Papua untuk memiliki bangsa-negara mereka sendiri.

Ibu Danilyn melihat dua orang ini sebagai bagian dari penjajah namun penjajahan mereka beradasar pada sebuah model penjajahan yang ia sebut simpati. Seperti yang ia gambarkan dalam buku ini, kekuasaan Belanda di Papua Barat sejak awal abad 20 diilhami oleh gagasan untuk mengadabkan orang Papua, untuk membawa orang Papua keluar dari zaman batu menuju zaman modern. Tapi apakah simpati cukup untuk mendirikan sebuah koloni? Apakah simpati cukup untuk mempertahankan Papua Barat sebagai koloni Belanda? Apakah simpati ini hanyalah fantasi semata?

Van Eechoud dan Bruijn merupakan dua orang tokoh Belanda yang ingin mempertahankan Papua Barat di bawah Belanda,  untuk mempersiapkan orang Papua menuju kemerdekaannya sendiri. Namun aspirasi dua orang ini ternyata tidak mendapatkan tempat dalam perhitungan politik Belanda, Amerika Serikat dan Indonesia. Dengan seluruh penyesalan dan kesedihan, Papua Barat diduduki dan diambil alih Indonesia sejak tahun 1963.

Jan van Eechoud dengan orang-orang Mee.

Buku ibu Danilyn Rutherford ini sangat menarik dan penting karena ditulis dengan sangat baik dan memberikan gambaran tentang bagaimana Belanda memvisikan tanah Papua. Melalui tulisan-tulisan dua orang itu dan interaksinya dengan orang Mee dan Moni, kita bisa melihat bagaimana usaha-usaha orang Belanda di Paniai diwarnai oleh perasaan-perasaan sayang, malu, merendahkan, tapi kadang juga kekerasan. Walau penggambaran ini sangat menarik, namun perhatiannya yang sedikit terlalu tertuju pada faktor emosi dan simpati sebagai watak dari proyek kolonialisme Belanda perlu mendapat perhatian kritis. Analisis Ibu Danilyn mungkin sesuai untuk periode sejarah yang ia lihat, yakni dari tahun 1933 hingga 1950-an, ketika van Eechoud dan de Bruijn masih memainkan perang penting di Papua Barat. 

Namun kalau kita melihat sejarah pasifikasi dan kolonialisme di Pegunungan Tengah, terutama di Paniai, kita tidak bisa hanya melihat peran Belanda saja. Peran misi Amerika sangat besar di daerah ini, terutama melalui misi CAMA (Christian and Missionary Alliance). Saya juga sedikit ragu atas pendapatnya bahwa simpati cukup untuk membangun sebuah negara kolonial. Seperti yang terjadi di Obano tahun 1956, baik pemerintah Belanda dan misi CAMA tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk menundukkan orang Mee. Melihat relevansi buku ini untuk Papua Barat masa kini, saya ingin mengatakan bahwa walau penjajahan sering dimulai dari keinginan ‘baik’ atau simpati, pada akhirnya penjajahan adalah penjajahan. Dan orang Papua, seperti juga orang-orang lain di dunia ini, tidak akan mau terus-menerus di bawah kendali asing—apapun motifnya. Di sinilah mungkin saatnya antropolog-antropolog dan penulis-penulis Papua terus mendokumentasikan suara-suara orang Papua sendiri.






Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Veronika Kusumaryati

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment