Puisi-puisi Fransiskus Iyai - KO'SAPA

Puisi-puisi Fransiskus Iyai


Fransiskus (tengah) sedang main gitar dalam sebuah pentas seni (Foto: Ist).


Hukum di Negeriku 


Sejak awal aneksasi
Hingga kini setelah reformasi
Tak ada yang tertangani
Solusi menjadi misteri

Tujuh presiden berganti
Dari soekarno
hingga joko widodo
Mulai mengecam wartawan (asing)
Hingga bermunculan media siluman

Kabar Papua dibungkam
Kenyataan, fakta, dan kebenaran
Menjadi guyonan para elite

Yang bergerak di musnahkan
Yang bersuara dibungkam
Yang diam sudah mati muda
Apartheid berganti genosid

Hukum di negeriku
Sudah sekian lama berlalu
Hingga sekarang tidak berlaku
Tebang pilih menimang cucu
Banyak orang mengada-ada
Hingga lupa akan hukum negara


Dengan dalih tugas
Dan legitimasi memukul membabi-buta
Menyerang dan membunuh
dengan dalih keamanan

Pelanggaran HAM
Dibungkam
Bersilat lidah di media
Ruang pers dikuasai
memanipulasi fakta

Sungguh Sangat amat sayang
Hukum dinegeriku

Demokrasi dipelajari
Gagal implementasi
Manusia dibantai serupa kota Pompei

*** 


II 

Untukmu Kawan

Kawan.....
Dalam nadimu zatku mengucur
Dalam uratku darahmu mencair
Kita satu atap rumah dari negeri rintih lirih
Negeri yang kaya jeritan
Negeri yang subur karena airmata dan darah
Negeri yang nampak surga berselubung tangisan.

Kawan.......
Jangan sesekali aku mendengar kamu berputus asa
Karena yang aku tahu, kamu kuat sekuat batu karang Biak
Jangan sesekali aku mendengar kamu berhenti
Karena yang aku tahu buah perjuangmu suci, seputih salju abadi Jayawijaya
Jangan sesekali aku mendengar kamu malas
Karena yang aku tahu, cita-citamu setinggi gunung Cartenz

Kawan.........
kIta dilahirkan dengan harapan
pantang lupa sejarah
kita dibesarkan agar tabu lupa air susu
kita diajarkan melawan lupa dan luka
kita dididik melawan sang kapitalis yang mendarah daging

kawan......
kita satu rumpun dari ras melanesia
kita satu keluarga di kehidupan ini
kita senasib di perjalanan ini
kita seperjuangan di tanah Pasundan

Kawan.....
Anak bangsa pemilik negeri
Mari kita satukan tekad
Menyulam kain  ilmu di tanah garam
Menghapus airmata ibu Cendrawasih
Menjadi  bintang fajar dari ufuk timur

Kelak kita kembali ke rumah
sapa bangsa kita dengan kata merdeka!

*** 



III 

Pesan Ibu


Pergilah anak ke tanah juang
Menimba ilmu menambah wawasan
Pergilah anak ke negeri seberang
Menelusuri  sengitnya pendidikan
Pergilah anak mencari terang
Jangan bersedih kampung halaman
Pergilah anak dalam dunia perang
Kembali membawa kemenangan.

Pergilah anak dengan bekal amanah
Pantang menyerah jangan gundah
Pergilah anak dengan panah
Memburu cahaya hari esok nan cerah
Pergilah anak puasa menyerah
Pantang gundah, jangan lemah
Pergilah anak dengan arah
Pesan ayah dan ibu jadi petunnjuk
Pergilah anak memetik buah
Abaikan lidah, ambil yang indah

Bila akhir kau matang
Waktu nampak  pasang
Jangan lupa untuk pulang
sebelum yang sisa binasa di tanah airmu

*** 



Fransiskus Iyai, mahasiswa Papua, kuliah di Bandung, Jawa Barat.

Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Topilus B. Tebai

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment