Priyayi Demokrat Nusantara - KO'SAPA

Priyayi Demokrat Nusantara

Gubernur P.J. Platteel dan Marcus Kaisiepo pada saat pembukaan Nieuw-Guinea Raad. Foto; hollandiablues.nl
Merefleksi ke-Indonesia-an dalam ke-Papua-an
Oleh; Albert Rumbekwan*)

Kegagalan rezim ini adalah turunan dari rezim- rezim yg lalu, pakar sejarah masa lalu membungkus kerapuhan Bangsa ini dalam eksplanasi historis kepentingan kaum elit, sehingga ketika memasuki reformasi terjadi kejutan demokrasi berevoria, tanpa pendidikan revolusi mendalam, sehingga melahirkan konsep priyayi Demokrat di setiap daerah.
Konsep priyayi Demokrat terwujud dari primodialisme kesukuan dan tumbuh dalam kerajaan-kerajaan di Nusantara. Ada priyayi yang bersifat sosialis-demokrat, ada yg bersifat aristokrat. Semuanya selalu memperlakukan manusia di Nusantara, dalam klaster-klaster. Sehingga cara pandang suku satu terhadap suku lain itu selalu dan tetap saja berbeda.
Indonesia sebagai rumah baru yang membungkus primodialisme kesukuan di kepulauan Nusantara, melalui bhinneka tunggal Ika yang oleh masa lalu mungkin sudah final. Tetapi sesungguhnya NKRI bukanlah harga mati. Karena kesatuan yang terjadi itu adalah keterpaksaan, yang disebabkan oleh faktor ekonomi-politik setiap regional di Nusantara tidak merata, dan telah terkuras oleh kapitalisme dan imperialisme barat di Nusantara.
Dengan demikian, suku lain menentukan dirinya sebagai superior priyayi bagi suku lain. Hal itu nampak jelas dalam kepemimpinan NKRI. Sampai dekade ini presiden kita adalah orang Jawa dan berpusat di pulau Jawa. Desentralisasi ini pernah diprotes dan melahirkan Negara Indonesia Timur.
Fakta sejarah telah membuktikan bahwa, kesuksesan kapitalisme dan imperialme barat di Nusantara adalah melalui penaklukan kaum priyayi yang berkuasa di setiap kerajaan-kerajaan, dan mesin pendorongnya adalah bedil, "power" dan ideologi primodialisme.
Belajarlah dari sejarah terbentuknya Indonesia. Sejarah Papua berbeda, tanah kita itu hanya satu tanah Papua, yang secara geografis terdiri dari kepulauan, pesisir, hulu- hilir, gunung dan lembah. Secara politik, tanah Papua telah dihuni manusia Papua yang berbeda etnis dengan model sistem kepemimpinan tradisionalnya masing-masing.
Setiap model kepemimpinan tradisional itu, tidak memiliki "power" untuk menguasai daerah suku lain, karena berbeda konsep berpikir, batas-batas wilayah, karakteristik, bahasa dan lain sebagainya. Sebagai contoh, suku Biak tidaklah superior menguasai seluruh wilayah Papua, demikian pula suku lain pun tidak. Setiap suku dalam etika tradisionalnya melahirkan nilai-nilai interaksi sosial melalui simbol-simbol di tiap suku, yang secara jenius dapat diterjemahkan dan dilaksanakan sampai mencapai suatu kesepakatan yang positif bagi kedua etnis.
Nilai-nilai lokal jenius tradisional "kultur" itu menjadi dasar ilmu yang dikembangkan oleh para ahli yang melakukan eksplorasi dan ekspedisi ke tanah orang Papua. Misalnya para Zending Ottow dan Geissler, hadir dengan pengetahuan Eropanya, 40 tahun pertama tidak mampu menarik simpati orang Papua. Karena keduanya adalah utusan tukang, ketrampilan dan pengetahuan mereka adalah penginjil tukang kayu.
Setiap melewati masa tersebut, Zending mengutus para ahli sejarah, etnologi, antropolog, teologi,. Ekonomi, politik dll. Barulah kesuksesan kapitalisme mulai nampak. Namun kesuksesan itu sesungguhnya berasal dari para priyayi-priyayi Papua (para orang kuat/mambri, ondoafi, kepala suku), yang berinteraksi mewakili rakyatnya, melihat perubahan sosial yang nampak melalui trilogi imperialisme "Gold, Glory & Gospel". Kekuatan untuk perubahan sosial di Papua adalah Gospel. Gereja membabat, menabur dan menanam, pemerintah menuai dan membangun.
Memasuki babak baru, Papua dalam bingkai NKRI, agen perubahan yang dikirim ke Papua adalah kaum proletar di Nusantara melalui sukarelawan Trikora dan transmigrasi yang tidak memiliki intelektual sosial dan budaya serta etika. Sehingga, ketika peralihan/integrasi, semua kekayaan intelektual, pembangunan infrastruktur kaum imperialisme barat, di bawah pulang ke negeri asalnya. 
Yang ditinggalkan adalah kaum petani trans buta huruf dan bahasa Indonesia, menggarap lahan orang Papua dengan kawalan bedil serdadu.
Berangkat dari kontekstualisasi kehidupan priyayi Indonesia masa Nusantara. Papua hari ini telah dan sedang digiring ke arah primodialisme radikal, dalam konsep demokrasi Indonesia. Maka penting bagi seluruh orang Papua terutama kaum intelektual/terdidik dan pemimpin etnis di setiap suku, melakukan interpretasi mendalam, belajar lebih keras sehingga melahirkan satu ideologi nasional yang mengikat keutuhan tanah dan manusia Papua dalam bingkai NKRI.

Salam Damai Natal 
Kiranya Yesus Kristus hikmat bagi kita yang menyelamatkan.

Hollandia Binnen, 26 Desember 2018.

*) Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP – Universitas Cenderawasih
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment