Langit Senja Kelabu - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Langit Senja Kelabu


Oleh; Steinhof Jcp*

Awan tebal hitam ada gantung di atas langit. Angin keras tra bisa dorong awan itu. Tra lama hujan su turun, dari rintik2 tambah deras trus kembali rintik2 lagi. Kadang hujan itu berhenti sdikit saja, trus mulai lgi, begitu selalu. 

Di bawah pohon2 ada bunga-bunga, de pu warna cantik skali... ada kupu2 kecil dong terbang naik turun, ke sana kemari. Ada ayam jantan yang kejar kupu2 itu, lucu skali.

Laki2 baju kumal duduk di teras rumah. Dia sendiri, dia diam, de pu mata tra bisa lihat jauh. De lupa kacamata di mana, de tra ingat. 

Guntur picah di atas kepala, laki2 baju kumal kaget tra bae. Hujan turun pelan makin lama tambah kras, hujan lebat. 

Di dalam air hujan, laki2 baju kumal liat pelangi tipis di ujung langit. Dia ingat, tanda pelangi, dalam de pu hati mulai rasa bahagia, pelangi itu kastanda, habis senja kelabu nanti terbit sinar surya. Pelangi itu kasingat dia, habis hujan ada cuaca cerah. 

Laki2 baju kumal tidak kemana-mana. De pu mata cari kupu2 kecil yang su pigi, tra tau kupu2 itu pigi ke mana. Langit senja masih tatutup awan hitam, bunga2 kecil su jatuh di atas tanah. Hujan sperti tra mau berhenti.

Angin dingin tiup pelan2. Seluruh badan dingin skali. 

Bunga-bunga kecil yang jatuh itu, hanyut ikut banjir kecil. Langit senja kelabu, trada pelangi di sana.. Senja indah, senja kelabu, senja yang nanti pigi untuk slamanya...

*Penulis tinggal di Sentani

Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: