Kumpulan puisi, Tigi Benediktus (4) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Kumpulan puisi, Tigi Benediktus (4)

AKULAH PUISI
Tigi Benediktus - Kosapa, Doc

Ada puisi jadi aku
Puisi dalam hati
Hati dalam puisi
Dicari-cari tak kenal ari
Tertanam dalam didih
Bukan sembunyi dibalik tirai
Jika puisi adalah aku
Aku adalah puisi…

Askam Waena; 20 mei 2016








SAJAK PERINGATAN!!!
“Pena Jiwa”

Di hari ini
Setiap hati harus memahami
Bukan sekedar mengerti
Tentang pahitnya penindasan di negeri ini
Genjatan nurani tidak pantas dihadirkan
Oleh ragam kaum tirani

Bukan hanya dihari ini
Terucap kata dan niat
Juga aksi serta gerak
Tiap detik saang waktu berdetak
Ingatlah ribuan nyawa
Dan darah pun air mata
Telah terlukis di kanvas
Perjuangan bangsa ini

Hai kau yang masih diam
Hai kau yang selalu takut
Hai kau yang selalu enggan
Hai kau yang acuh tak acuh
Robohkan dinding-dinding tasa itu
Palingkan hatimu, langitkan suaramu
Sadarkan dunia kita masih ditindas

Hai kau yang tahu tapi berpura-pura
Hai kau yang tahu tapi berkhianat
Tingkahmu sadis
Mencoreng mulianya hak-hak asasi
Merobek kodrad tiap insan yang merintih
Sadaralah.. kekejian dan piluh yang kau ciptakan
Dosa dan kutuk yang melekat padamu
Pikiran dan karyamu: melecehkan hak-hak kaum kecil
Dan untuk segalah sikap
Juangmu, kau kami lawan

Sampai dihari ini
Banyak jiwa yang peduli tak’kan tenang
Banyak jiwa yang peka tak’kan diam
Tentang tragedi nestapa yang dinestapakan
 Dipanggung bumi cendrawasih ini

Kasihan cendrawasihku
Kemolekkanmu dibeli harga uang
Indah bulumu diincar pemburu
Gerak-gerikmu dipantu
Keindahan dan kekayaan habitatmu dikuras-kuras
Semua itu demi penemuhan
Nafsu dekil para aristorak bernurani tumpul

Sayang rakyatku
Penjaga dan pewaris kekayaan ala mini
Kita diinjak telapak kaki penguasa
Kita di bungkam oleh genggaman kerasukan
Kepada siapa buah tangis dan harapan disampaikan?

Wahai kalian..
Para penduduk kursi pemerintahan
Para penduduk singsana hierarki keagamaan
Para pemangku kepentingan
Yang bertahkta diatas negeri ini
Lupakah kalian janji profesi, pengukuhan, pelantikan juga tahbisan kalian?

Kalian hadir untuk dan demi manusia dan seluruh Sang Khalik
Tugas dan panggilan muliamu di dunia
Jangan  digelapkan oleh kegelapan harta.

Liriklah..
Segalah hukum diatas negeri ini
Berat di BARAT- ringan di TIMUR
Tak pernah menjamin tuk hadirkan nilai-nilaii kehidupan yang mulia
Kebahagiaan, kedemaian, pemeratan, kesejahteraan sukar menetas di negeri ini

Hak –hak dasar dalam hidup manusia:
Dicabut!!!
Dibuang!!!
Dilupakan!!!

Tak ada hadia yang berarti  yang dapat dipersembahkan dihari peringatan HAM sedunia ini, tetapi pikiran, jiwa dan nurani yang gelisah atas penderitaan, penindasan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan dan segalah jeritannya yang dimiliki oleh insan-insan pejuang untuk kaum jelata yang terlupakan…

Hollandia, 18 Desember 2017




SANG PETUALANG

Dalam rinai hujan dan terik
Kaki melenggang dan dada terpekik
Tangan menggoreskan tanda-tanda
Didera pikir dan rasa

Kau buru aku dengan cinta
Kemudian kau khianati
Tapi hatiku terus bercahaya
Sebab hidup harus berarti

O, aku berjalan di tanah yang kaya
Tapi miskin rakyatnya
Aku melihat tanda bahaya
Dari mulut yang berbisa..


Askam waena; 10 Desember 2016



Tentang Penulis ; 

Tigi Benediktus adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Muhammasiyah Jayapura, Jurusan Jurnalistik, Semester 5. Saat ini, ia aktif sebagai Ketua Forum Literasi Odiyai Meeuwo.



@Ko’sapa


Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: