Senandung Sendu Dibawah Rembulan - KO'SAPA

Senandung Sendu Dibawah Rembulan

Oleh: Philemon Keiya


 
Sastra Papua - Documentation
Beberapa hari belakangan sudah diterangi sang rembulan.

Kedua sahabat itu kembali bertemu lagi. Kali ini mereka berdua putuskan naik ke Odee. Sehingga, sejak siang tadi mereka persiapkan bekal untuk bisa bertahan hingga mereka pulangg. Odee, bukit tertinggi di kampung mereka.

Malam ini mereka akan habiskan disini. Berbagai macam cerita mengalir sejak dari tadi. Nius dengan humor-humor ringan menjadi pembuka obrolan mereka.

Sejak perpisahannya, 12 tahun lalu.

Andy pisah dengan Nius sejak tamat SD. Andy pergi ke kota untuk lanjutkan sekolah. Andy, anaknya kepala sekolah di SD itu. Setelah acara perpisahan, dia dijemput sama kakak tertuanya, Bernard. Ia seorang mahasiswa di kota.

Nius kuburkan mimpinya untuk jadi Camat. Nius sangat kagumi dengan seorang Camat. Sehingga, setiap kali ditanya cita-cita, ia selalu jawab Camat. Namun, takdir berkata lain. Jalan kehidupan sangat keras bagi dirinya. Mimpi luhur dan mulia yang tumbuh subur dalam nurani itu harus kuburkan sedalam mungkin. Sayang, kedua orang tuanya sudah meninggal sejak ia kecil.

Air matanya jatuh tak tertahankan pada hari perpisahan. Semua anak kelas VI bersama semua orang tua wali beserta para tua-tua dari kampung itu berkumpul. Ruangan kelas VI berlangsung khidmat. Berbagai nasehat dan petuah diberikan, mulai dari guru, orang tua, para tetua hingga kepala sekolah.

“Kita mau salam perpisahan, kami ajak anak-anak semua berdiri di depan kelas,” arahan Pak Thinus, wali kelas mereka.

Belum berdiri saja, sejumlah anak-anak murid kelas VI itu sudah menangis. Air mata haru. Rindu. Senang. Gembira. Tapi juga sangat sedih.

“Anak-anak ku, kejarlah impian mu setinggi langit. Raihlah bintang itu. Kalian harus jadi tuan-tuan besar,” nasehat dari Pak Thinus.

Anak-anak murid kelas VI berjumlah 8 orang. Semua tunduk. Tidak mampu membendung air mata tumpah keluar. Linangan air mata dikelopak dan mengalir di masing-masing pipi mungil itu.

Hari ini hari bahagia untuk ketujuh teman yang lain. Tapi, tidak untuk Nius. Air mata Nius benar-benar berasal dari hati. Hatinya benar-benar hancur. Dihari bahagia ini, tidak ada orang tua kandung. Sangat menyedihkan bagi dia. Keluarga dari teman-temannya sudah lengkap. Ada bapa, mama bahkan saudara kandung yang lain.

Nius seorang diri. Seorang bocah yang malang. Seorang yatim piatu yang dibesarkan nenek nya sejak dua tahun lalu. Nius sama sekali tidak tahu sosok ayahnya. Kata mamanya, ayahnya sudah meninggal saat ia hamil 6 bulan. Dari dalam kandungan, Nius sudah tidak punya ayah.

Ini hari terakhir bagi Nius duduk bangku pendidikan. Masa depan sangat gelap baginya. Walau  ia sudah punya impian yang besar seperti teman-temannya. Seberkas harapan pun tidak datang menghampiri untuk mendorongnya untuk kejar, yang namanya cita-cita.

“Seandainya bapa dan mama masih ada, saya pasti tertawa. Besok pagi saya bisa pergi urus masuk di SMP,” air mata terus mengalir dari mata mungilnya.

Tiga tahun berlalu.
Jerry, teman SD-nya itu bersama teman-teman yang lain dinyatakan lulus. Ibu kota distrik itu sangat ramai. SMP itu dinyatakan lulus 100 persen. Sehingga, semua akan pergi ke kota untuk mengejar cita-cita dan impian mereka.

Diam-diam ia kembali jatuhkan air mata. Ia masuk ke hutan. Berusaha hilangkan berbagai pikiran yang sedang berlalu-lalang. ‘Ah, sudahlah. Beginilah jalan hidup saya’ batinnya menjerit. Ia berkelana di hutan. Hingga tiba di kebunnya yang di hutan. Tidak ada daya untuk lakukan kerja hari ini.

Nius keluarkan sebuah Kaido dari dalam nokennya. Ia lantunkan kesedihan hari ini yang sudah ada sejak beberapa tahun lalu dan kerinduan akan mengejar masa depan itu lewat alunan Kaido. Berjam-jam bunyi Kaido membela kesunyian hutan. Ia padukan alunan Kaido yang merdu dengan berbagai nyanyian-nyanyian indah dari penghuni hutan ini.

Hingga menjelang malam, ia masih ada disini. Ia membiarkan tubuhnya menjerit meratapi kehidupan masa depan yang kian gelap.

Hari-hari di kampung
Nius diajak kawin oleh sesame kawannya. Juga sama beberapa orang tua. Namun, ia memilih menghindari kata-kata itu dengan humor. Setiap diminta untuk mencari seorang perempuan, nurani dan hatinya sangat sakit bagai tersayat sembilu. Ia hanya berusaha menutupi dengan tertawa dan humor.

Beberapa hari belakangan, neneknya sudah sakit berat. Ia berusaha memberikan obat tradisional, namun keadaan neneknya kian memburuk. “Nius, kalau ke hutan, pulang cepat,” begitu pesan neneknya
Pagi ini nenek tidak seperti biasanya. Ia sudah bisa bangun sendiri.

Nius masuk hutan. Cari sayur paku dan kayu bakar. Perasaannya tak karuan. Ia memutuskan untuk tidak lama di hutan. Ia langsung pergi ke kebunnya yang dihutan. Ia mengambil sayur hitam dan kayu yang sudah disiapkan lama. Ia kembali ke rumah.

“Nius, kou seorang diri. Jaga diri baik-baik. Kehidupan seorang diri harus selalu hidup penuh waspada. Pertimbangkan jauh sebelumnya dan dari berbagai sisi. Jangan sampai kata-kata membuat orang lain tersinggung. Harus bijak dalam hidup. Selalu ingat berbagai hal yang baik. Apa yang dilarang orang tua, budaya dan Injil, tidak boleh kau laksanakan…,” berbagai nasehat mengalir dari mulut neneknya sejak sore.

Nenek disebelah tungku.

Nius diam membisu. Hanya tangan yang bergerak masak ubi dan sayur di tungku api. Ia berusaha mencerna kata demi kata yang keluar dari nenek. Nenek jelaskan hubungan keluarga dari bapaknya dan mamanya. Berbagai hal yang tidak pernah beritahu juga ia cerita malam ini. Malam yang benar-benar panjang untuk Nius. Perkampungan sunyi sepi. Rembulan berusaha mendekat melalui sela-sela tiang rumah. Hingga nenek itu tertidur.

Nius keluar. Rembulan tersenyum. Namun, tiba-tiba awan hitam datang menutupi. Rembulan malam muram. Ia terlihat sendu. Tak lama, rembulan jatuhkan Kristal-kristal bening. Ia memandikan Nius. Rembulan hilang pergi dengan sendu.

“Nius, nenek akan bersama mu. Kamu tidak akan sendiri,” kata neneknya sambil berbalik pergi ke jalan panjang lurus tanpa balik. Ia berusaha kejar tapi tidak dapat.
“Neneeeeekk,”

Nius kaget bangun. Matahari sudah tinggi. Semalam benar-benar terlelap. Ia keluar di halaman. Tidak lama, ia kembali masuk dalam rumah. Ia bangunkan neneknya. Neneknya tidak bergerak. Tak satupun suara yang keluar dari sebelah tungku. Ia berusaha buka selimutnya, nenek sudah tiada. Semalam ia sudah pergi. Pergi menyusul mama. Pergi bersama rembulan. Pergi dalam kesunyian.

Nius benar-benar hancur. Sudah tidak ada harapan hidup sama sekali. Orang yang paling dicintainya pergi untuk selamanya. Ia menangis sejadinya. Tetanggnya berdatangan. Mereka membantunya untuk pemakaman neneknya.

Selama seminggu mereka buat duka di rumahnya.

Semenjak neneknya pergi, ia lebih banyak waktu di hutan. Ia bergabung dengan bapa Yoel. Bapa Yoel sejak kecil kenal hutan. Sehingga seluk beluk tentang hutan diajarinya. Termasuk bagaimana mendapat banyak kus-kus yang banyak dalam semalam.

Ada sejumlah larangan yang sering disampaikan bapa Yoel; tidak bersama perempuan, tidak boleh ada dalam masalah, berteriak sembarang, tidak bicara apapun di daerah keramat, dan larangan lain. Larangan itu harus diikuti oleh semua orang. Tanpa terkecuali. Jika ada yang langgar, hasilnya tidak akan sesuai harapan. Jika semua dilakukan, pasti akan dapat hasil yang sangat puas.

***

“Ko punya lucu-lucu ini tidak pernah hilang dari dulu. Ko sudah punya anak berapa?” tanya Andy
“Nanti kita akan kawin rame-rame,” balas Nius
“Hahahhhahhaha”

Andy tertawa sampai air liur dan ingus keluar.

Perkampungan terlihat teduh dalam keremangan malam. Melata malam bersenandung ria. Burung-burung malam beterbangan kian kemari.

Banyak pengalaman diceritakan Andy. Sejak ia masuk SMP hingga ia menyandang gelar sarjana Ekonomi. “Sobat, ko sudah sukses. Tidak seperti saya,” lirih Nius pelan.
“Sobat, sudah banyak orang yang jadi sarjana. Gelar sarjana untuk saat ini sama saja. Sudah tidak ada pekerjaan. Pemerintah pusat sudah tidak terima pegawai lagi,” jelas Andy.

Andy menjelaskan semua perkambangan kota yang sudah ia lihat dari dekat. Banyak orang di kampung bangga dengan berbagai gelar yang disandang anak-anak muda. Namun, dengan tidak adanya lapangan pekerjaan membuat ribuan orang menjadi penganggur diatas tanah.

“Kawan, saya sudah pulang ke kampung. Mulai besok, sobat harus ajar saya cara berburu di hutan pada malam hari. Saya mau belajar banyak hal,”

Nias diam. Bulan purnama ikut membisu. Angin malam mencoba memberi kesejukan kepada kedua teman yang sedang reuni di puncak Odee ini. Angin melambai pelan.

“Memang saya sudah jadi sarjana tapi belum tentu saya akan jadi pegawai dalam waktu yang dekat, kawan. Kakak saya Bernard saja baru jadi pegawai. Pada hal sudah jadi sarjana itu sudah lama. Tidak tahu saya harus tunggu sampai kapan.”

Andy mendesah berat. Ribuan sarjana sudah ada di tanah mereka.

Andy dan Nius masing-masing diam. Andy pikirkan nasib ribuan sarjana yang sedang menganggur. Kapan akan mendapat pekerjaannya. Sementara Nius kembali meratapi nasib hidupnya. Ia yang tidak bisa mengejar cita-citanya. Ia mengutuki dirinya dan nasib hidupnya.

Suara burung hantu berdendang. Senandung-senandung sendu terlantun dibawah muramnya rembulan malam ini. Ia menghibur dua sahabat kecil yang kini sudah dewasa dengan jalan yang berbeda ini. Senandung send uterus terlantun membela sunyinya malam hingga rembulan pergi ke paraduannya.



Dibawah Rembulan Malam,
Akhir Pekan, 02.13
Ita Wakhu Purom, 24 November 2018
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment