Mengapa Papua Mau Merdeka? - KO'SAPA

Mengapa Papua Mau Merdeka?

Foto; TEMPO
Oleh; Bisri Tanri*

Sama seperti halnya pada kasus Timor Leste, ternyata pengetahuan orang Indonesia terhadap sesamanya di belahan pulau lain sangat minim. Ini saya katakan terutama menyangkut kaum terdidik di Indonesia. Sehingga ada asumsi bahwa Indonesia adalah seragam: semuanya sama "dari Sabang sampai ke Merauke." Kalaupun ada perbedaan, maka perbedaan harus ditekan demi 'persatuan dan kesatuan." Logika yang kedua ini awalnya muncul dari kalangan nasionalis garis keras, lalu ke tentara, sebelum kemudian menyebar ke kalangan masyarakat luas, lewat perantaraan para intelektual dan media massa. Hingga saat ini logika tersebut masih sangat efektif.

Salah kaprah yang lain adalah menyangkut "Jawa", sebuah kebudayaan besar yang mendominasi Indonesia. Tidak salah sebetulnya karena Jawa merupakan setengah dari Indonesia. Namun, pola berpikir dari kebudayaan ini sungguh merasuk ke dalam kehidupan Indonesia. Jika ada klaim bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu maka klaim itu tidak ada lagi bekasnya. Bahasa Indonesia, demikian pernah seorang ahli Indonesia mengatakan, terutama dalam jaman Orde Baru, adalah bahasa Jawa yang diucapkan dalam dialek Melayu.

Sesungguhnya, kebudayaan Indonesia pun adalah kebudayaan Jawa. Ini bisa dilihat dari betapa hirarkisnya kehidupan dalam masyarakat. Jawa disini bisa didefinisikan sebagai sebuah kebudayaan dominan yang dilandasi oleh cara berpikir yang khas: hirarkis, introvert, konfliktif, dan ekspansionis. Kebudayaan ini terbentuk lewat proses yang sangat panjang: lewat darah-darah yang tercecer karena konflik, peperangan, penaklukan, penjajahan, dan kekalahan telak sehingga menjadi sangat involutif dan bahkan juga hipokrit. Demikian hebatnya jatuh bangun kebudayaan ini sehingga daya survivalnya
teramat tinggi. Jawa tetap bisa bertahan sebagai Jawa sekalipun ia bersintesis dengan Hindu, Islam, ataupun Kristen. Malah, Jawalah yang dominan didalam perpaduan ini.

Kebudayaan inilah yang mendominasi Indonesia. Tidak usah jauh-jauh, ambil contoh koran terbesar di Indonesia, Kompas. Ini adalah sebuah koran dengan representasi Jawa yang sangat kental, selalu menulis dengan pasemon atau eufemism yang sangat ketat, sangat oportunistik, namun tidak agresif, selalu sabar menanti peluang, dan ketika peluang itu didapatkan, dia akan menguasai dan melumatnya sampai habis. Kebudayaan birokrasi juga adalah kebudayaan Jawa yang telah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi sangat hirarkis namun juga sama sekali tidak rasional. Pada Jaman Orde Baru kita bisa lihat bagaimana para elit di daerah berusaha menyesuaikan diri dengan Jawa, dari cara berpakaian, cara bicara, juga cara berpikir. Mereka bahkan berusaha melafalkan akhiran 'kan' dengan 'ken'; 'makin' dengan 'mangkin', sebagai usaha mengimitasi Soeharto. Namun lebih dari itu, imitasi terhadap Jawa berlangsung secara besar-besaran. Beberapa nama gedung di Timor Timur bahkan memakai nama sansekerta!

Ideologi Jawa inilah yang membuat semua salah kaprah ini berlangsung. Kita kutipkan sebuah berita dari Majalah Gamma online terbaru, tentang bagaimana seorang 'cendekiawan' menganalisis Papua dengan dengan ideologi Jawa-nya. Ia katakan, ""Datanglah Anda ke pelosok Papua. Tanyakan kepada mereka apa arti merdeka," jawab Muridan, seorang peneliti dari LIPI yang sedang melakukan penelitian serius atas dinamika politik di Papua. "Mereka akan menjawab, merdeka adalah mengambil barang di toko tanpa membayar. Naik pesawat tanpa membayar. Hidup sejahtera tanpa susah-susah banting tulang," kata Muridan. Sombong sekali bukan? Arogan bukan?

Peneliti dengan ideologi Jawa ini tidak sadar bahwa mimpi orang Jawa sebelum kemerdekaan bahkan lebih parah dari itu. Orang-orang Jawa selalu bermimpi akan datangnya "Ratu Adil": seorang ratu yang akan memberi kemakmuran "gemah ripah loh jinawi" kepada rakyatnya sehingga idaman surgawi bisa terpenuhi. Ya idaman surgawi: makan-minum sampai kenyang, plesir setiap hari; bersetubuh dengan
bidadari cantik yang berganti-ganti kapan saja dia mau! Idaman akan Ratu Adil sesungguhnya adalah 'mimpi orang kalah': kekuasaan terlampau kuat dan tak terlawankan sehingga hanya ada dua cara untuk pembebasan: bermimpi (dengan segala macam klenik dan kegaiban) untuk membius diri, atau bunuh diri (dengan jalan memberontak dan pasti hancur karena lawan jauh lebih kuat!).

Cara berpikir pengamat kita yang dari LIPI ini tentu saja arogan. Namun, dibaliknya atau dasarnya adalah perasaan superioritas sebagai wakil dari kebudayaan dominan yang merasa menang atas "primitif"-nya Papua. Orang Papua tidak pantas merdeka karena mereka tidak tahu apa artinya transaksi ekonomi modern ("ambil barang di toko tanpa bayar, naik pesawat gratis, hidup sejahtera tanpa susah-susah banting tulang!"). Mereka tidak pantas merdeka karena kebudayaan mereka tidak cukup tinggi untuk itu. Peneliti LIPI ini lupa bahwa dahulu, orang Eropa pun berpandangan yang sama terhadap Jawa dan orang-orang jajahan. Sehingga kita bisa melihat betapa orang-orang seperti peneliti dari LIPI ini bisa dengan cepat menggantikan posisi ideologis kolonialis Eropa.

Soalnya sekarang adalah: Mengapa orang Papua mau merdeka? Orang Indonesia dengan ideologi Jawa tidak akan pernah bisa memahami persoalan ini. Orang Indonesia dengan ideologi Jawa terlalu angkuh untuk mengakui bahwa pada orang Papua terdapat HAK untuk menentukan nasib sendiri, hak yang sama juga sesungguhnya dimiliki oleh setiap suku bangsa termasuk Jawa.

Apa yang tidak pernah dimengerti adalah dorongan kemerdekaan terjadi justru "hubungan" (intercourse?) dengan Indonesia, terutama dengan Jawa. Seorang Papua pernah mengatakan bahwa "hubungan" dengan Indonesia terjadi ibarat kawin paksa. Sesudah dikawin paksa, sang istri bukannya dicinta, melainkan setiap hari digampar, diperas, dimaki-maki, dan diperlakukan sebagai orang budak dan orang bodoh. Salahkah jika sangat istri kemudian menuntut cerai? Jika istri pertama, yang dilamar baik-baik, (disini Aceh bisa jadi contoh) saja menuntut cerai, apalagi istri karena dikawin paksa? Analogi ini menarik karena menggambarkan bagaimana sang suami merasa selalu benar, hegemonik, dan selalu menang.

Cara berpikir seperti pengamat dari LIPI diatas bukan satu-satunya, bahkan sudah menjadi mayoritas cara berpikir orang Indonesia dengan ideologi Jawa. Terpaksa saya katakan ideologi Jawa karena cara berpikir ini sudah merasuki semua golongan, baik golongan oposisi maupun pemerintah. Tantangan kemerdekaan Papua sungguh besr karena dia akan berhadapan dengan seluruh komponen ideologi Jawa. Sama seperti orang Belanda yang ignorant terhadap sikap kolonialis negerinya, maka seperti itulah sikap orang Indonesia kini. Sebagian kecil orang Indonesia baru sadar akan apa yang terjadi di Timor Leste setelah negeri ini luluh lantak. Namun sebagian besar masih angkuh dan tenggelam dengan pikiran bahwa Timor Leste adalah bagian sah dari Indonesia.

Indonesia yang ditafsirkan dengan ideologi Jawaisme adalah sumber masalah terbesar. Jika kita masih ingin melihat Indonesia berkelanjutan di masa depan, sudah saatnya kita mau memikirkan bentuk Indonesia yang baru, dimana ada hubungan setara antar etnik, suku, ataupun agama. Jika tidak, Indonesia yang seperti sekarang hanya akan menjadi sarana penghisapan, eksploitasi, dan dominasi kelompok yang dominan. Kesetaraan itulah yang penting.

*Bisri Tanri, masyarakat Indonesia yang tinggal di New York
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment