Kumpulan puisi, Tigi Benediktus (2) - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf. Data WWF Papua menyebutkan, pada tahun 1900-1930-an penjualan cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Tahun 1912, misalnya, penjualan mencapai 30.000 ekor dalam satu kali pengiriman kapal ke Jerman dan Inggris untuk kebutuhan fashion. Tahun 1904-1908 jumlah cenderawasih yang masuk ke London 155.000 ekor, ke Perancis sekitar 1.200.000 ekor. Total penjualan burung cenderawasih selama 1820-1938 ke seluruh Eropa ditaksir kurang dari 3 juta ekor.(Kompas.com - 24/06/2012) Demikian pula dengan hewan endemik Papua lainnya, seperti Kakatua, Nuri, Laolao, Kuskus, Kanguru.

Kumpulan puisi, Tigi Benediktus (2)

Tigi Benediktus - (Doc. Kosapa)



Bait Kelana Sa metaforakan rindu membeku Di larik bait puisi Bermahkotakan sendu Sejak kepergian ko tempo dulu Rindu, hakekatnya bermata sembilu Seenak sendiri menikam kalbu Membabi buta Tra kenal apa deng siapa? Sa Yang tra lelah memangku rindu Melariknya bagai ilusi Senada deng isi hati Walau sejauh mana bait kelana Sa larik, namun tetap mengundang gulana Sering membara dan membahana Di celah-celah jiwa..
Sentani, 22 November 2018



OVERSIMPLIFIKASI Gadis itu titik-titik Perawan itu titik Ada janda dinilai antik Remaja itu koma terus koma Bujang itu koma Bisa jadi duda lantaran karma...
Jayapura, 23 November 2018



Buta Cinta Manisnya cinta menjadi gulali hidup Indahnya pun bak dewi malam Yang dengan berbagai cara menyinari semesta Ia tak peduli jika mendapatkannya dari pantulan raja siang, Yang terpenting ia bersinar, meskipun tahu kalah dari gemintang. Asmara terkadang mengembirakan sang pemiliknya Namun, siapa menduga jika ia yang membakarnya Menerbangkan ke langit ketujuh Dan menjatuhkannya kejurang kematian Buta cinta menutup mata hatinya Membuatnya melupakan raut terkesan dijagat raya Menghilangkan memori hidupnya, dan membawanya pada liang lahat.
Askam-Waena, 21 November 2018




Tentang Penulis ;


Tigi Benediktus adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Muhammasiyah Jayapura, Jurusan Jurnalistik, Semester 5. Saat ini ia aktif sebagai Ketua Forum Literasi Odiyai Meeuwo.

@Ko’sapa
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: