Kumpulan Puisi Syam Terrajana (1) - KO'SAPA

Kumpulan Puisi Syam Terrajana (1)

Syam Terrajana, jurnalis yang suka melukis. 
Waktu

waktu adalah meja judi
tempat orang mabuk
dalam pertaruhan
kalah dan menang
terus berlalu
waktu adalah gitar tua
dawainya dicabik
merobek daging malam
darah hitam
dibawah cahaya bulan
waktu adalah ranjang empuk
seseorang  tertidur dan lupa berdoa
mimpi mimpi memeluh
adalah gugus pulau tak bernama
seseorang terasing disana

Maret, 2008



Dunia makin ramai saja

asap knalpot, blitz kamera,dering telepon, tangis bayi, corong orasi,  lagu lagu cengeng,  derit ranjang saat senggama, iklan iklan nyinyir dan bombastis, kalender pendidikan,timah panas di betis bromocorah, tayangan edukatif, mimbar khutbah, makian di tengah banjir, perjanjian kerjasama, raung ambulans,sepatu mengkilat, riuh gelanggang olahraga,gerakan bawah tanah, janji makan malam, dzikir akbar, skandal orang terkenal,belati berlumur darah,antrian bahan bakar, panen raya, wisuda sarjana, klakson kendaraan, tebusan resep dokter, salam kompak di radio, mimpi basah, program pengentasan kemiskinan, upacara bendera, undangan pernikahan teman, kotak kotak suara, koor haleluya,  prakiraan cuaca,  pilem pilem cabul, kawasan bebas rokok, berita utama surat kabar,barang barang kadaluarsa,obituari,binatang kesayangan, seminar kesehatan, eksekusi hukuman mati, debat pemimpin masa depan, kecelakaan lalu lintas, tes urine, surat cinta remaja puber, pidato pejabat, rekreasi keluarga, nota dinas,  ancaman bom, bangun kesiangan, sisa uang belanja, tumpukan pakaian kotor, pengakuan dosa, selingkuh,tunggakan listrik, terlambat datang bulan, nomer rekening bank, yasinan menjelang sekarat, zakat infak dan sedekah, kompleks lokalisasi, rapat paripurna, tidak melayani bon, kerajinan tangan, bos kurang ajar, donor darah, menu hari ini ; dunia, kau makin ramai saja, dan kami terus bernama manusia.

November 2008



KENAPA PEREMPUAN NYARIS SELALU ADA DALAM PUISIMU? SUATU KETIKA TEMANKU, SEORANG LELAKI, BERTANYA

Sebelum tubuhmu dan tubuh perempuan bersatu  dalam rahman dan rahim demi sekelamin kehidupan, kata orang, lebih dulu kau harus merasai sendiri legenda dari sebuah  kejatuhan, seperti bapa adam dan eva, khuldi dan godaan ular
konon, cinta itu perpaduan komedi dan tragedi, setiap yang jatuh, terkadang merasa sedikit merana, lalu malu malu  tertawa bahagia.
  Perempuan merupakan  sebidang ladang, petani itu  engkau yang memerankan, ayunkan cangkul lalu kau tebar benih, padi jadi padi, jagung jadi jagung, itulah tanah, dimana langit bisa kau junjung
Karena perempuan  adalah mahluk pengeram, lebih kurang  sembilan bulan kau berdiam dalam cangkangnya, vagina itu garba penuh doa sebelum   kau berlumur dosa, karena itu kau bayi yang menangis, bahkan masih ingin menangis meski kelak sudah berkumis.
Perempuan nyaris selalu ada dalam puisiku, karena aku lelaki yang cukup tahu diri.
 Persetan bagi yang tak tahu diri.

2009


Bacalah!
aku gerah.  dan kau ambilkan aku secarik kertas:
“telanjanglah diatasnya dan segeralah,  mutilasi dirimu jadi   kata demi kata, biarkan pembaca yang temukan dan mencurigai setiap diam yang berusaha kau cincang,”
Lalu kuhunuskan sebilah pena ke dadamu:
“ jangan macam-macam sayangku, tak sembarang  orang bisa jadi puisi,”
sebelum nekad menjelma kata, ada baiknya kita menangkap  makna terlebih dulu
sebab konon, puisi memang tak punya arti

2010

Lupa luka 

suatu hari tanpa masa lalu
suatu hari tanpa masa lalu waktu terasa menggenang
peristiwa bagaikan kapal karam angin yang diam membuatku bicara:
“akulah pelaut itu, dimana kau simpan pelayaranku,”
pada suatu hari tanpa masa lalu jam seperti mangkuk pecah serpih serpihnya melukai lantai
pada pintu yang menunggu aku mengaduh waktu segera berlari melesat ke luar rumah
pada suatu hari tanpa masa lalu
gilingan waktu akhirnya membuatku lupa akan luka luka
                                                                                            

SELAMAT TINGGAL  HUTAN, SUNGAI, POHON POHONKU

 “selamat  tinggal hutanku, sungaiku, pohon pohonku,”
jauh dari pedalaman    rimbamu, kudengar gergaji mesin meraung raung  seperti serigala kelaparan di hadapan rembulan.
pada riak   arusmu  kutemukan ikan ikan mati mengambang                   
sedang  airmu terus  saja dikonsumsi , tanpa ada yang tahu racun merkuri dan arsenik tengah berkomplot dengan maut                                                          
meneror  perlahan lahan dalam tubuh setiap orang
“selamat  tinggal hutanku, sungaiku, pohon pohonku,”
izinkan aku bertanya, siapakah pelacur itu yang tega menjualmu seharga dirinya sendiri, siapakah pembunuh itu, yang tega meracuni anak cucu sendiri, siapakah psikopat itu, yang tega memutilasi setiap jengkal tubuhmu yang seharusnya mencegah banjir dan erosi.
sekali lagi aku ingin bertanya, siapakah orang-orang berpikiran pendek itu, jangan-jangan mereka  menderita ejakulasi dini,   yang hanya bisa puas usai mencabuli diri sendiri.
“hutanku, sungaiku, pohon pohonku, selamat tinggal”
disekolah, berulang ulang kulihat dirimu ditulis rapi dalam lembaran lembaran ujian mata pelajaran mengarang
engkau  diperdebatkan dalam paper paper penelitian yang sulit dicerna, pada diskusi  diskusi panjang dengan  kopi dan berbungkus-bungkus rokok, pada palung palung sajak yang mengandung amarah
namamu  terpajang pada baliho di seluruh sudut kota, menjelma slogan slogan membosankan : mari lestarikan  hutan, jangan  cemari sungai, ayo menanam pohon
“selamat  tinggal hutanku, sungaiku, pohon pohonku,”
jangan ragu-ragu. diposko pengungsian
kutunggu bencanaMu 
bersama sebungkus  mie instan dan penyesalan
yang terlambat diungkapkan.


2010



Tentang Penulis ;

Syam Terrajana, jurnalis yang suka melukis. Belum sempat membukukan puisi-puisinya.



Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment