Ko pu Senyum bikin Sa Sakit - KO'SAPA

Ko pu Senyum bikin Sa Sakit

Oleh: Philemon Keiya

Kosapa - Doc.
Maria datang di kostnya. Di tangannya Maria menjinjing sebuah plastik. Sementara mulutnya komat-kamit kunya pinang. Plastiknya, Maria serahkan pada Rian.

“Dari semua yang ko foto itu, menurut saya foto ini yang sangat bagus. Makanya sengaja saya beli bingkai. Biar saya punya senyum itu selalu ko ingat,” celoteh Maria.

Ia membawa dua buah album besar. Ia cuci foto-foto pilihannya. Foto dirinya yang difoto Rian maupun foto berdua yang selama ini mereka simpan. Bawa sebauh foto dalam bingkai berukuran 10 R.

Rian Diam.
“Pak Rian, trimakasih. Sa pasang tong dua punya foto depan sini. Biar ko selalu ingat saya setiap ko mau pergi,” jelas Maria dengan tertawa sambil gantungkan foto berdua yang dalam bingkai itu persis depan di kamar tamu.
Rian hanya mengangguk kepala tanda setuju.

***
Rian, seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Muhammadiyah (STIKOM) Jayapura. Ia dilahirkan di Wamena. Gayanya sangat sederhana. Ia tidak banyak bicara. Penurut tapi konsisten. Paling suka pakai baju hitam dan baju berwarna rasta dengan gambar Lucky Dube dan Bob Marley. Celana levis hitam agak longgar. Noken kecil berbahan kulit kayu sering tergantung didepan. Badannya kurus tinggi. Itulah ciri khasnya.

Ia tinggal di sekitar wilayah Abepura. Ia memilih Abepura dengan alasan, tengah-tengah. Juga, untuk permudah dalam mendapat kendaraan umum. Sengaja memilih kost yang dua kamar. Agar, dengan leluasa bisa bekerja dunia foto.

Dari awal ia membeli sebuah computer duduk. Ia letakan diujung kamar depan. Kost itulah ia jadikan tempat untuk ia bekerja.

Kesukaan pada dunia fotografi mulai sejak ia masih duduk di bangku SMA Katolik St. Thomas Wamena. Pada saat itu, Festival Lembah Baliem pertama digelar. Banyak orang datang ke Wamena. Bahkan, orang dari luar negeri juga datang.

Ia bersama para teman-temannya pergi ke Wallesi, tempat digelarnya Festival Lembah Baliem. Hampir 15 KM dari Wamena kota. Ia sangat kagum dengan sejumlah orang yang mengabadikan momen itu dalam kamera.

“Ko datang nonton festival atau datang udik-udik orang yang foto-foto itu?” tanya Markus sambil pukul dibahunya.

Sepulang dari Festival itu, ia ingin sekali miliki kamera. Bahkan, ia berniat untuk mencuri. Namun, niat itu ia pendam dalam-dalam.

Setelah tamat dari SMA di Wamena, ia berangkat ramai-ramai dengan teman-temannya untuk mau lanjutkan pendidikan di Jayapura. Mereka tinggal di Asrama putra dari gereja dulu.

“Kakak, disini ada jurusan foto-foto kah? Saya mau masuk di kampus itu,” tanya Rian pada para senior
“Nanti ade daftar di STIKOM saja. Itu jurusan wartawan,” balas senior
“Kakak, saya tidak mau jadi wartawan. Saya hanya mau foto-foto saja.”
“Iya. Mau jadi fotograferkaa, mau jadi wartawan kaa, ade daftar di STIKOM saja.”
“OK Kakak. Trimakasih.”
***
Setahun berlalu

Keinginan untuk miliki kamera sangat tinggi. Dari uang sisa dari semua pembayaran SPP hingga melengkapi kebutuhan selama Ospek telah usai. Ia beranikan diri untuk membeli kamera Canon EOS 1200. Setelah miliki kamera masih ada uang sisa yang diberikan orang tua. Ia beli motor second blade keluaran 2010.

Rian sudah tidak betah tinggal di asrama. Ia ingin bebas. Bebas mengekspresikan dirinya yang sebenarnya. Ia ingin jalan-jalan keliling kota ini. Ia mau berusaha eksplorasi dirinya dengan dunianya. Ingin skali tunjukan bakatnya kepada orang lain.

Sebagai orang yang suka dunia fotografi, dia sering keliling kota Jayapura. Hampir sebagian wilayah tanah wilayah Tabi sudah ia pernah kunjungi. Ia suka berpetualang hanya untuk mengabadikan karya-Karya Agung Sang Maestro.

Pada semester I dan II tidak belajar tentang fotografi namun ia belajar otodidak. Ia sering menghabiskan waktu di warnet untuk belajar disana tentang pengetahuan dunia fotografinya. Rian sudah pernah tanya pada dosennya tentang dunia fotografi. “Nanti semester III akan diajarkan materi tentang fotografi,” begitu balas dosennya.

Baginya, kampus hanyalah salah satu tempat. Untuk belajar banyak hal tidak harus dari kampus saja. Dunia sangat luas. Apalagi dunia maya. Ia harus kesana. Mesin penyedia yang tiada batasnya ada disana. Sehingga, tidak bosan-bosan untuk selalu datang kesana untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang dunia fotografi.

Dari sanalah ia tahu tentang dunia  fotografi. Selama ini ia hanya tahu tentang foto. Itu saja, tidak lebih. Namun, dalam dunia fotografi ternyata banyak aliran, mulai dari Journalism Photography, Foto still life, Potrait Photograph, Foto comercial advertising, Foto Abstrak, Wedding Photography, Fashion Photography, Food Photography, Fine Art Photography, Landscape Photography, Wildlife Photography, Street Photography, Underwater Photography, Infra Red Photography, dan Macro Photography.

Rian geleng kepala tidak paham. Namun, ia bertekad untuk pelajari. ‘Ahk, bagian yang saya tidak paham, nanti saya tanya dosen’ batinya optimis.

Kamera satu buah, lensa dua, memori 8 GB 2 buah dan satu buah computer. Dari modal inilah, ia memulai petualang di kota Jayapura ini. Berbagai kisah ia pernah alami. Mulai dari kena hujan, jatuh dengan motor, Kelewatan momen terbaik. Mendapat foto dan objek terbaik dan sejumlah pengalaman yang lain.

Rian memulai karir fotonya dengan sering foto kawan-kawannya dan keluarga dekat. Bunga dipinggir jalan. Lihat objek yang bagus langsung foto. Tunggu momen-momen acara bernuansa budaya. Setelah mengambil gambar, ia pulang ke rumah dan berusaha edit seperlunya. Untuk pengeditan, ia belajar otodidak juga. Salah satu gambar setelah ia merasa cukup, Rian selalu posting di facebook. Begitulah siklus kehidupannya berputar.

Melihat sering pegang kamera dan mulai bagus gambar-gambarnya, Rian sering diundang untuk mengabadikan momen-momen, baik dari pribadi maupun dari keluarga seperti kegiatan ulang tahun, wedding, ataupun dokumentasi lainnya.

Ia juga memberanikan diri untuk gabung dengan para senior yang lain. Tidak pernah ia malu. Sehingga, banyak ilmu yang dia dapatkan. Hal itu memotivasi dirinya untuk terus kembangkan talentanya itu.

Foto, bagi dia merupakan ungkapan isi hati yang paling dalam tanpa mengeluarkan kata-kata. Dalam sebuah foto terdapat ribuan kata-kata.


Dua tahun berlalu.
“Ade, kaka dong ada mau tampil jadi nanti datang ambil gambar di Ekspo Waena ee. Jam 17.00 sore kaka tunggu,” kakak Yus telpon malam itu
“OK,” jawabnya singkat.

Malam itu, seperti biasa  ia persiapkan segala sesuatu. Mulai dari cash baterai hingga full, kosongkan memori dan persiapan yang lain.

Pagi yang indah.
Kendaraan di Abe macet dari pagi. Ia melewati jalan bagian belakang. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di Auditorium Uncen. Ia bertemu dengan sejumlah fotografer. Mereka diskusi mengenai dunia fotografi yang kian maju hingga diskusi yang lain.

“Ayo, kita cari makan. Saya sudah lapar,” ajak Martin, salah satu senior fotografer andalan yang cukup dikenal. Ia focus pada genre street photography. Rian banyak belajar darinya tentang kehidupan dijalanan yang tidak banyak dilihat orang.

Senja yang tak bersahabat di Waena.
Adzan Asar terdengar merdu dikumandangkan di atap-atap masjid. Rian menghentikan motornya di pinggir danau Sentani. Kembali ia mengelurkan rokoknya. Tiupan angina sepoi memanjakan tubuhnya. Rian beli pinang yang dijual seorang mama tak jauh dari ia berdiri. Sambil makan pinang, ia mengabadikan mama penjual pinang didalam lensanya. Beberapa jepretan sudah masuk.

Tentang foto itu ia melihat beberapa kali. Banyak kesan yang didapatinya dalam foto itu. Batin tersiksa. Entahlah, apa yang berseliweran di alam pikirannya. Tapi yang pasti, batin merontak. Mama, pemilik tanah ini dia hanya mampu menjadi penjual pinang saja. Sangat kontras dengan ibu Jawa yang punya disebelahnya. Sebuah pemandangan yang baginya tidak masuk akal.

Mama penjual pinang hanya bisa dapat uang tidak lebih dari 100 ribu tiap hari. Berbeda dengan Mama Jawa yang punya kios. Ia bisa dapat uang masuk ratusan hingga jutaan rupiah setiap hari.

“Ini salah siapa? Kita ini daerah Otonomi khusus. Sekarang ini era Otsus. Bagemana anak cucu kedepan ketika Otsus berakhir?” batin tersiksa.

Mama Papua tahan gempuran panas, debu dan hujan dikala hujan datang, ia hanya ditemani dengan sebuah payung yang bertuliskan dinas Perindag. Sementara Mama Jawa, dia sangat aman dalam rumahnya.

Ketika banyak orang datang di tempat ini, banyak orang selalu beli minum dan makanan ringan sama mama Jawa. Setiap sore menjelang malam, mama Jawa selalu hitung uang dan dompetnya selalu full. Sementara Mama Papua  hanya akan bawa pulang uang secukupnya hasil jualan dari pinang saja. Mama Jawa selalu tersenyum puas.

Otsus? Iya, nona cantik kelahiran tahun 2001 di Jakarta. Ia dikirim ke Papua. Ia sangat cantik rupanya. Sangat memikat hati setiap lelaki. Sehingga, para lelaki Papua menjadi korban akan kecantikannya. Banyak yang jadi buta hati dan mata.

Ia sangat dikenal disetiap insan seluruh pelosok Papua. Ia pelacur di Jakarta hingga di kota Jayapura. Dilacuri para pejabat ditingkat provinsi, kabupaten hingga para kepala desa. Sehingga banyak yang jadi akibat pelacuran bersamanya.

Senyumannya sangat aduhai hati dan mampu meninabobokan banyak orang. Senyumnya yang sangat memabukan. Sangat menyakitkan dikala ia pergi. Ia mampu membuat banyak orang akan lupa akan dirinya, keluarga dan rumah. Dia juga mampu memporak-porandakan keutuhan dan tatanan hidup baik dari setiap suku yang ada diatas tanah Papua.

“Akh, Otsus sehh. Ko pu senyum ni bikin sa sakit hati baik-baik,” katanya sambil buang ludah pinang.

Matahari sudah ada di langit Sentani Barat. Matahari mengeluarkan senyum sore yang indah. Ia berusaha menyapa setiap insan di bumi Khembay Umbay dengan salam terbaik.

“Ade, kaka sudah di tempat kegiatan. Ade merapat sudah.” Begitu bunyi pesan singkat yang baru saja masuk dari kakak Yus.

Ia bergegas pergi. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di Expo, Waena.

Orang sudah mulai ramai. Ada banyak orang yang berdatangan. Sejumlah anak-anak muda sudah kenakan pakaian adat. ‘Oh, brarti kaka dia mau suruh saya untuk ambil gambar kegiatan ini,’ batin Rian.

Ia parkirkan motornya. Ia keluarkan rokok. Asap mengepul keluar dari bibir hitamnya. Sebatang sudah dihabiskan sambil persiapkan kameranya.

“Ini kaka punya komunitas. Namanya Sanggar Cendrawasih. Mereka akan tampil disini. Nanti tolong ambil gambar semua,” perintah kakak Yus kepadanya
“Baik, kak.”

Pertunjukan seni tari digelar. Semua momen ia abadikan disana. Beberapa sanggar yang ada di kota ini maupun kabupaten Jayapura ditampilkan. Kakak Yus yang punya satu sanggar seni tari ini membawa anak didiknya untuk mengikuti pertunjukan itu. Banyak pejabat duduk dibagian depan. Acara sangat ramai disaksikan ratusan orang.

Acara berakhir pukul 20.30 WIT.

“Ade, nanti besok kakak akan kontak. Kakak mau ambil foto semua,” kata kakak Yus
“Baik kaka. Sampai jumpa.”

Tiga puluha menit tiba di kostnya. Ia mandi. Badan sudah segar. Komputernya dihidupkan. Lagu-lagu yang sudah tersimpan dalam folder favorite terlantun indah. Memori dicopot dan diconectkan di computer. Ratusan gambar yang dipotret seharian muncul depan layarnya.

Rian buat sebuah folder. Sanggar Cendrawasih, itu nama folder. Sebelum ia rapikan, ia lihat foto satu per satu. Ia berhenti pada sebuah foto hasil jepretnya. Foto itu pada saat Sanggar Cendrawasih sedang menari. Matanya terbelalak.

Melihat seorang anggota Sanggar Cendrawasih dengan senyuman yang sangat memukai. Senyuman yang berasal dari hati. Senyuman yang menurutnya mampu runtuhkan Salju abadi di Chartens dan Aplim Apom di Oksibil. Senyuman yang sangat aduhai bagai senja di Kaimana. Rian menatap hamper dua menit hanya foto itu saja.

Rian berusaha edit dan rapikan foto-foto dalam folder itu. Pekerjaan ini membuat lupa makan. Perut merontak. Ia melihat sudah jam 23.45 malam.  Tanpa pikir panjang, kursor digeser di pojok kiri bawa. Shutdown. Ia lahap habis makanan yang dimasaknya pagi tadi.

“Kaka Yus, besok ade bawa foto-foto itu kemana?” tanya lewat ponselnya usai
“Ketemu kaka di tempat biasa.”
Belum salam, HP sudah Off dimatikan sepihak.

Rian kaget bangun. HPnya sedang berdering.
“Hallo,” jawab tanpa melihat nama di layar HP dengan suara berat
“Rian, ko belum bangun kaa. Mama sudah bangun dari pagi tadi. Ini sudah jam Sembilan. Kou tidak ke kampus kaa,” suara Mama disebrang dari Wamena. Mamanya tidak pernah bosan telpon.
“Ah, benar kah? Ini jam berapa mama?” tanya tidak percaya
“Bangun. Lihat sudah jam berapa. Anak muda baroo,”

Rian berdiri. Ia melihat jam pada HPnya. Benar, sudah jam 09.43.
“OK. Trimakasih Mama. Love you. Daa.”
Rian padam HP. Ada beberapa pesan masuk dalam HP. Salah satunya dari kaka Yus.

“Ade, jam 10.00 kaka tunggu di tempat biasa.” Begitu bunyi pesan.

Ia letakan HPnya. Segera ia raih handuk menuju kamar mandi. Tidak lama, motornya sudah ada  di jalan raya Abepura menuju tempat ketemu.

Kaka Yus sudah ada. “Mbah, makanan dan minuman seperti biasa dua,” setengah teriak kaka Yus kepada penjaga café itu.

“Semua ada dalam flasdisk ini,” kata Rian sambil serahkan sebuah flashdisk kepada kaka Yus.

Berbagai cerita mengiringi siang ini.

“Kaka, ini siapa?” tanya Rian sambil serahkan HPnya sama kaka Yus.
“Hahahhahaha, ko naksir dia kah? Itu ade Maria Lusiana. Mama orang Biak. Bapaknya dari Paniai,” urai kaka Yus.
“Hahhahaha.” Rian tersenyum.
“Ini kaka punya ade dalam sanggar. Jadi, kaka akan tanya dia baik-baik dulu. Ko tunggu,” jelas kaka Yus
Rian tersenyum. Dia berdoa agar nama yang tadi disebutkan itu bisa jadi pacarnya.

Tidak butuh waktu lama. Beberapa hari kemudian, Rian dan Maria dipertemukan Kaka Yus di tempat biasa lagi. Dan, akhirnya resmi berpacaran.

***


Maria sudah pulang ke Nabire. Sudah setahun disana. Telah hilang kontak dengan dia. Nomor kontaknya sudah tidak aktif. Facebook, twitter, dan Instagram miliknya Off sejak beberapa tahun lalu. Rian berusaha cari tahu lewat  keluarga dekatnya juga mereka mengaku tidak tahu kabarnya.

Ia berusaha berpikir positif saja. ‘Mungkin saja keluarganya mau dia harus lebih banyak di rumah,’ pikirnya

Ia akui, beberapa waktu belakangan ia merindukan sosok Maria. Tanpanya ada sesuatu yang kurang bagi dia. Tidak ada Maria, sudah ada yang bisa marah dia. Tidak ada cerewetnya yang bikin rebut di kostnya. Ia sungguh merindukan dia. Dia dengan segalanya.

Rian berusaha hilangkan rasa rindunya dengan libatkan diri dengan berbagai kegiatan dari kampus, organisasi yang dia ikut, kegiatan dari gereja, petualang dengan teman-temannya hingga petualangannya sendiri.

Namun rasa rindu akan Maria sudah tidak bisa dibendung. Ia tidak mampu menahan rasa untuk ketemu Maria. Ia sungguh-sungguh merindukan Maria ada disamping. Satu tahun ia tersiksa betul menahan gempuran rasa rindu yang kian berat.

Ia buka album-album kenangan dalam pikirannya. Sangat ingat betul seluruh perjalanan mereka sejak awal. Ia sudah folderkan masing-masing pada tiap kali mereka berdua jalan. Mereka sudah pernah keliling kota Jayapura dan kabupaten Jayapura. Sarmi, mereka pernah kunjungi. Keroom, sudah sering keluar masuk berdua juga bersama para fotografer lain.

Banyak kisah. Ribuan kenangan yang sudah terpahat indah dan rapi dalam ingat.

Kerinduan akan Maria datang pada setiap desahan nafas. Rindu datang tiap saat. Ia akui itu.
Beberapa minggu belakangan ia ingin sekali mencari Maria. Ia sering diam dalam sunyi. Bertanya pada kesepian tak bertepi.

Bagi dia, Maria segalanya. Maria, separuh jiwa baginya. Kehilangannya merupakan kehilangan sebagian dari dirinya

HPnya bunyi. Nama Riana muncul dilayar HP. Segera ia mengangkat.
“Kita ketemu di depan Auditorium Uncen. Jam 09.00 pagi.”
“OK,” jawabnya singkat.

Riana, sahabat Maria. Mereka sudah berdua berteman sejak mereka sama-sama SMP hingga saat ini.

“Maria sudah tidak bisa disembuhkan sakitnya. Maria tinggal tunggu waktu. Dia ada salam ko,” kata-kata yang mengalir dari mulut Riana ini bak petir siang bolong. Matanya gelap tiba-tiba. HP sedang digenggam jatuh.

Badannya sangat lemah dan kaku. Ia diam. Tiba-tiba air mata mengalir dipipi hitamnya. Ia membiarkan Kristal bening itu mengalir.

“Saya minta maaf. Selama ini saya dilarang kastau sama Maria. Maria sangat sayang sama ko. Tapi, takdir memang begitu. Sekarang dia tinggal tunggu waktu saja…,”
Riana tidak mampu lanjutkan kata-katanya lagi. Air matanya mengalir. Ia mengerti perasaan dari Rian, pacar sahabatnya. Terpaksa dia kastau. Itu juga karena diminta sama sahabatnya, Maria.

Mereka berdua diam masing-masing.

“Kenapa tidak kastau saya dari dulu, biar saya pergi kunjungi dia di Nabire,” akhirnya Rian bicara
“Dari awal, Maria bilang, tra usa kastau ko. Makanya sa diam saja.”
“Kam dua jahat,” vonis Rian.
“Sa minta maaf.” Riana mendesah panjang.

Beberapa hari kemudian, Riana menelpon. Maria sudah berpulang ke pangkuan Allah Bapa. Rian sangat hancur. Ia ingin skali mengakhiri karir yang sedang ia geluti ini. Rian sangat rapuh. Ia memilih untuk diam dalam kamar selama dua minggu. Ia sering memandang foto berdua yang sudah digantung depan kamar tamu.

Maria, pemilik senyum manis. Hitam manis. Cendrawasih yang sangat cantik. Sahabat hati masa depan sudah pergi untuk selamanya. Ia tak akan pernah kembali untuknya.

Sungguh, ko pu senyum bikin sa sakit, Akh!!!
Dalam Rinai Hujan
Ita Phurom Wakum, Port Numbay
22 November 2018
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment