Ko itu Sa pu Bayangan - KO'SAPA

Ko itu Sa pu Bayangan

Oleh; Philemon Keiya

Philemon Keiya - Doc. Pribadi 
“Ko masih dalam sa pu hati
Ko tra akan pernah saya lupa
Karna ko su bersatu deng sa pu hati. 
Ko su jadi sa pu bayangan
Selamat tidur, untuk ko, sa pu bayangan.”

Senyum manisnya tersungging pada bibir manisnya. Sang pujaan hatinya berseliweran di alam pikiran dan hati. Ia tersenyum yang kesekian kalinya untuk si bayangan. Bayangan yang selalu datang tiap waktu. Bayangan yang mampu mengalahkan senyum manis dari berbagai artis tersohor planet ini.

Henny benar-benar merasa ada sosok sempurna yang sudah ada dalam hidupnya. Ia sudah bertekad akan mencintainya hingga akhir hayat. Tidak akan pernah pindah hati kepada siapapun. Sungguh, tidak akan pernah.

I Love You, honey,” teriaknya dalam hening

Ia diam dalam pelukannya.

“Sayang, ko jang pernah pergi dari sa. Sungguh!
Sa benar-benar cinta sama ko. Sa ni ko pu kebun. Tong pu kebun cinta. Mari tong dwa kerja,” ajak Henny berbisik penuh harap.

“Sayang, sesungguhnya sa juga cinta ko deng sap u hati,” balas bayangan perlahan penuh cinta

Henny merasakan dashyatnya mahligai cinta dalam dekapan. Seperti air es dikala musim panas. Meneguhkan dahaga. Seperti hujan dikala musim kemarau yang panjang. Seperti segelas kopi manis dimusim hujan yang panjang.


Bayangan pemilik senyuman itu bagai indahnya senja di Sentani Barat seperti tadi sore. Henny bersama beberapa orang naik ke Buper. Ia diajak untuk habiskan sore ini di perbukitan Buper Waena.

Angin sore yang sangat memanjakan tubuh. Hawa sore yang sangat asri dibawah bentangan Cycloop yang indah. Keindahannya terlihat bagai senyum manis seorang Enggo dari Sentani yang sangat manis.

Henny duduk pada sebuah batu besar. Ia terasa ringan akan beban dan hiruk pikuk kehidupan. Danau Sentani terlihat menawan bagai permadani panjang. Dia memanjakan dengan kipasan yang nan sejuk. Senyum terakhir sang dewi sebelum hilang pergi ke paraduannya benar-benar membuat gila. Bersama senyum manis sang bayangan yang penuh arti.

“Senja tadi menceritakan keindahan cinta kita, sayang. Sungguh! Saya mau kita harus jaga cinta kita hingga senja menjelang yang sangat indah,” lirihnya pelan disela-sela tembang-tembang manis nostalgia yang mengalun indah dalam speaker.

***

Henny, putri cilik asal Deiyai itu sudah besar. Henny dilahirkan di Nabire. Kota yang dijuluki dengan ‘Gerbang Nun Biru’ itu juga menjadi tempat ia besar. Berbagai perubahan dan perkembangan pembangunan di Nabire disaksikannya dengan baik. Terlebih kedua orang tuanya sangat perhatian dalam setiap pertumbuhan.

Sejak Henny kecil, kedua orang tuanya selalu berikan perhatian penuh. Mereka Selalu luangkan waktu untuk Henny. Mereka menyadari benar, betapa pentingnya kehidupan Henny kedepan. ‘Selamatkan hidup anak-anak harus dimulai sejak kecil’ tekad kedua orang tuanya.

Henny anak pertama dari empat bersaudara. Marlin, nama adik perempuannya. Okto dan Frans, kedua adik laki-laki. Keempat anak tumbuh besar dalam keluarga yang harmonis diiringi riak-riak ombak kecil dalam bahtera rumah tangga dalam mengarungi samudra kehidupan.

Sikap perhatian dari kedua orang tuanya sangat kontras dengan sikap dari sejumlah orang tua di kota ini. Kebanyakan orang tua biarkan anak mereka untuk berbuat apa saja. Orang tua hampir tidak pernah punya waktu untuk bersama.

Hanya malam saja yang mampu persatukan keluarga di rumah. Tapi, itupun hanya pada saat mau tutup mata saja. Ketika mentari mulai merekah, orang tua sibuk dengan pekerjaan. Anak-anak selalu punya kebebasan yang sangat luas untuk lakukan apapun tanpa kenal waktu.

Tidaklah salah, ketika pasar Karang, Oyehe, Kalibobo dan sepanjang emperan tokoh menjadi rumah luas bagi anak-anak. Rumah nyaman yang menghancurkan masa depan anak-anak.

Tidak dengan Henny. Untuk batasi Henny dan adik-adiknya keluar, orang tuanya lengkapi kebutuhan dari anak-anak dalam rumah. Tidak heran, bapaknya merupakan salah satu pejabat di kabupen Nabire.

Kadang Henny sebut kedua orang tuanya seperti bayangan. Tidak pernah lepas dari dirinya. Ia merasa sangat aman dibawah naungan kedua orang tua. Seperti anak ayam dibawah naungan sayap dikala hujan dan panasnya mentari.

Henny hampir jarang punya waktu dengan teman-temannya. Sehingga, tidak heran, Henny dijuluki ‘anak rumahan’ oleh teman-temannya. Sikap yang sama, dimiliki ketiga adiknya. Mereka sangat rajin skali pergi ke gereja. Bahkan, Henny menjadi salah satu misdinar tetap di gereja Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Bukit Meriam, Nabire sejak SD.

Dikala malam datang, bapanya sering ceritakan berbagai kisah-kisah waktu ia kecil di Tigi, Deiyai. Semua perjuangan, jerih payahnya saat mengejar cita-citanya hingga menjadi seorang pegawai. Berbagai nasehat juga sering ia selipkan.

Kelihaian dalam memainkan Kaido menjadi pengantar tidur anak-anaknya. Alunan Kaido menjadi pilihan utama dikala subuh datang. Mainkan Kaido sudah menjadi kebiasannya sejak kecil di kampung. Ia bisa buat kaido bermacam-macam. Mulai dari yang bunyi nyaring tinggi hingga yang bass.

Rekaman ugaa dan gowai yang disimpan dalam listnya juga menjadi pilihan utama untuk membangunkan anak-anaknya. Kata-kata yang ada dalam ugaa dan gowai itu sering dijelaskan bapaknya.

***

Henny sudah dewasa. Kini ada di Jayapura. Sudah semester VII pada salah satu universitas ternama. Ia sudah punya calon kekasih. Mereka pacaran sejak semester II. Thinus, begitu nama sapaannya. Mereka bina hubungan sejak mereka semester II. Thinus bukan orang baru bagi Henny. Mereka teman sekolah pada saat SMA.

Thinus, orangnya tidak banyak bicara. Anak yatim piatu itu biayai hidupnya dengan menjadi ‘pembantu’ di sekolah. Sebelum siswa lain belum tiba, dia orang pertama yang ada di sekolah. Begitupun saat jam pulang. Semua orang sudah pulang, ia masih ada di sekolah. Begitulah hidupnya selama 3 tahun SMA. Ia hadapi kerasnya hidup seorang diri.

Diam-diam Henny mulai menyukainya. Namun, ia urungkan niat utarakan benih cinta yang mulai tumbuh itu.

Setelah lulus SMA, Thinus dan Henny pisah. Thinus memilih pergi kuliah di Jawa dengan uang tabungan yang ia nabung selama tiga tahun. Sementara Henny ke Jayapura.

Sejak semester II, mereka terhubung melalui dunia maya. Mereka saling sukar nomor HP. Dari komunikasi yang dibangun, mulai saling nyatakan ketertarikan dan mulai pacaran.

“Saya mau, kita harus selesai sama-sama. Lalu, kita akan pikir yang lain-lain. Sekarang kita focus studi masing-masing,” kata Thinus suatu saat.
“OK,” jawab singkat.

Saling percaya, itu kuncinya. Hingga mereka berdua sudah ada semester VII. Beberapa bulan lagi mereka akan sandang gelar sarjana.

Tentang Thinus, hanya satu saja yang Henny selalu ingat. Foto senyuman lugunya saat SMA kelas II. Foto itu ia serahkan pada saat mereka mau pisah. Foto satu-satunya yang Henny simpan di kamarnya.

Foto dengan senyuman terbaik dari Thinus. Senyum optimis. Senyum terbaik dari sang pujaan hati. Senyum itu kadang menjadi kekuatan bagi dirinya untuk tetap mengejar impiannya.

Senyuman itu selalu hadir disetiap helaan nafasnya. Selalu ada pada tiap aliran darah pada urat nadi. Menjadi kekuatan dikala tubuh lemah. Menjadi teman terbaik dikala seorang diri.

Senyuman itu juga menjadi bayangan dari dirinya. Senyuman Thinus sudah mampu mengambil lubuk hati bagian terdalam bagi dirinya. Senyuman manis Thinus mampu membaw Henny hingga dalam keindahan kehidupan moyang pada puluhan tahun lalu.

Keindahan kehidupan yang selalu diceritakan oleh kedua orang tuanya sama dengan senyum terindah dari sang pujaan hati. Keduanya menjadi bayangan yang selalu mengikuti tiap langkahnya.

***

Kekuatan bayangan itu terus mengikuti. Ia dididik dengan baik oleh orang tuanya sejak kecil. Berbagai nasehat, petuah, arahan dan wejangan yang dibekali. Ia sudah simpan dengan baik.

“Sebelum misionaris bawa Injil itu masuk di Paniai, kita punya adat sudah ada. Larangan-larangan macam, jangan mencuri, jangan mencuri, jangan berzinah, tidak boleh ingini barang milik orang lain, itu sudah ada,” begitu nasehat bapanya

Berbagai kisah dalam dongeng itu ia mulai menulis dalam laptopnya. Ia sangat senang sekali jika pulang ke kampung, selalu saja luangkan waktu untuk bersama dengan para tua-tua yang ada disana.

Ia selalu meminta untuk menceritakan berbagai kisah yang terjadi di kampungnya.

Ia bertekad untuk mendokumentasikan semua crita lisan yang  sudah didengarnya untuk tulis dan simpan. Sangat diyakininya, bahwa suatu waktu tulisan itu akan sangat berguna, baik itu anak-anak yang akan dilahirkannya maupun kepada para penerus dari kampung itu.

Berbagai kisah, cerita dan dongeng itu ia sering bermimpi. Ia sangat suka berimajinasi. Sehingga dikala ia menulis berbagai crita dalam laptopnya, ia berpikir ia sedang nonton sebuah tayangan masa lalu yang sangat indah.

Berbagai aturan yang sudah membuda, hingga norma-norma hidup selalu diberitahu. Marga-marga yang tidak boleh kawin juga selalu diceritakan. Semua bagaikan pelita yang menjadi penerang dalam mengarungi arus kehidupan.

“Masa lalu dan kini harus ditulis. Biarkan hidup terus dalam tulisan tentang kehidupan masa lalu,” kata Henny pada Thinus pada suatu hari dalam seluler
“Iyo. Ko tulis saja. Apa yang ko tulis itu simpan baik-baik. Sa mau belajar dari situ,” balas Thinus
“Iyo. Lain saya sudah sudah simpan di e-mail saya juga,”
“Itu bagus. Ini bagus buat kita pu ana-ana nanti.”
“Yang haru pikir ana-ana itu bapanya, bukan mama. Hahahhaha.”
“Ko tau too, sa tra punya orang tua. Memang sa tahu tapi tidak seperti ko.”

Berbagai hal baik yang diturunkan moyang yang diceritakan tetua di kampung, sangat ia sangat ia yakini sebagai Titah-Nya. Juga aturan-Nya yang sudah hidup sejak dahulu kala sebelum para misionaris datang.

Banyak hal luhur yang dilakukan oleh moyang mesti dilanjutkan oleh semua anak muda. Itu jati diri sebenarnya. Tidak harus dimunculkan tapi mesti diterapkan dalam kehidupan sekarang. Juga dalam kehidupan anak cucu pada masa mendatang.

Kehidupan nenek moyang itu sangat ia cintai. Cinta yang sama dengan cintanya kepada bayangan senyuman yang selalu menemaninya pada tiap desahan nafas. Senyuman milik Thinus, Bayangan keindahan Titah-Nya yang hidup dalam kehidupan nenek moyang hingga kini. Memang, Ko itu sa pu bayangan!!!

Angin Sepoi
Ita Wakhu Phurom, Port Numbay
22 November 2018
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment