Kangkung - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Kangkung


Chiristian Galuwo -Doc. Pribadi 
Sepulangnya dari sekolah, Engel menemani mamanya ke Pasar Pharaa. Sesampainya di pasar, mamanya segera mencari penjual ikan. Hampir sejam mengelilingi pasar, akhirnya mamanya berhasil menemukan penjual ikan gabus Danau Sentani. Ini ikan asli Danau Sentani yang susah dicari. Ikan ini bahkan terancam punah, karena banyaknya ikan predator yang dilepas di danau itu.

"Mau cari apa lagi, Mama. Sa su cape (saya sudah cape)," keluh Engel.

"Tunggu dulu, kitong (kita) tinggal cari kangkung," kata mamanya.

Setelah menyusuri beberapa lorong pasar, Engel dan mamanya akhirnya menemukan penjual sayur.

"Mama, berapa harga satu ikat kangkung?" tanya mamanya.

"Ini sepuluh ribu," kata mama itu.

"Eh, Mama, mahal sekali. Di koran sa baca harga kangkung satu ikat cuma lima ribu mo," tawar mamanya.

"Kalau begitu, beli di koran sudah!" kata mama penjual itu.




Penulis adalah Redaktur di Koran Jubi dan tabloidjubi.com


Hehehehehheh
Semoga Terhibur 
@Ko’sapa



Print Friendly and PDF

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: