Film Tanah Mama tersibak sejuta misteri tentang Persoalan Papua - KO'SAPA

Film Tanah Mama tersibak sejuta misteri tentang Persoalan Papua

Caption Tanah mama - (muvila doc)

Film documenter Tanah Mama menyimpan sejuta misteri persoalan Papua dilakukan berbagai cara. Film adalah salah satu sarana informasi kepada publik tentang persoalan-persoalan orang asli Papua. Misalnya film dokumenter Tanah Mama (2015).
Aktivis perempuan Papua pun berinisiatif menggelar nonton dan diskusi film tersebut di Abepura, Kota Jayapura, Sabtu, 3 November 2018.
Film yang disutradarai Asrida Elisabeth dan diproduseri Nia Dinata ini mengangkat sosok mama Papua, yang tabah dan kokoh menghadapi relitas sosial di pedalaman Papua.
Penyelenggara diskusi Noris Griapon di sela-sela nonton bareng dan diskusi di asrama Tunas Harapan, Abepura, Sabtu sore, mengatakan selama ini publik beranggapan bahwa film yang disutradarai Asrida Elisabeth ini hanya persoalan gender.
Maka dari itu, dirinya bersama aktivis perempuan lainnya, Ruth Ohoiwutun, berinisiatif untuk mengkaji dan menelaahnya dalam sebuah diskusi.
“Kami memilih film Tanah Mama karya Asrida Elisabeth sebagai bahan untuk kami. Film Tanah Mama tidak hanya membicarakan persoalan ekonomi, tetapi juga soal struktur yang membedakan gender,” kata Griapon kepada Jubi.
Griapon berpendapat Tanah Mama merupakan potret kondisi Papua pada umumnya. Alur ceritanya menyentil dan menohok nurani publik tentang aneka persoalan yang dihadapi orang-orang asli Papua (OAP).
Bahwasannya kondisi di Tanah Papua era Otonomi Khusus (Otsus) dan sebelum Otsus tidak berubah. Realitas kemiskinan, diskriminasi, perempuan (gender), dan aneka persoalan lainnya tertangkap layar kamera. Lalu didokumentasikan secara apik dalam oleh sang sutradara dalam film Tanah Mama.
“Kita melihat betapa menderitanya perempuan dan laki-laki untuk menafkahi keluarganya,” ujar Griapon.
“Dari film ini saya melihat persoalan yang lebih detail dan lebih real. Kita mendiskusikan seputar itu,” lanjutnya.
Film dokumenter karya Kalyana Shira Films, yang mendapat penghargaan terbaik untuk kategori film dokumenter panjang dalam Festival Film Dokumenter pada bulan Desember 2015 ini, kata Griapon, patut menjadi bahan refleksi dan diskusi bagi semua kalangan di Tanah Papua.
“Persoalan kesenjangan ini harus dihentikan, dimulai dari intelektual. Pesannya tidak mengkotak-kotakkan laki-laki dan perempuan, tetapi kita harus mengubah cara pandang kita bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama,” katanya.
Sutradara film Tanah Mama, Asrida Elisabeth, mengatakan dirinya membuat film ini karena melihat latar belakang dari tokoh dalam film tesebut.
“Tetapi persoalan kesenjangan ini harus dihentikan sebab justru menyengsarakan masyarakat Papua,” kata Asrida Elisabeth.
Film dokumenter ini bercerita tentang kehidupan Mama Halosina di pedalaman Yahukimo. Melalui film ini, Asrida menceritakan tentang tanah Papua, tempat yang begitu berjarak dengan daerah lain di Indonesia.
Meski Papua terkenal dengan tanahnya yang subur dan sumber mineralnya yang melimpah, masyarakatnya justru hidup dalam kemiskinan. Pelayanan kesehatan dan pendidikan sangat minim.
Di tengah keterbatasan itu, perempuan memiliki perjuangannya sendiri. Mereka bahkan melawan kekerasan dan diskriminasi. Itu digambarkan dan kisah Mama Holosina sebagai tokoh utama. Mama-mama Papua yang dimunculkan dalam film diwakili Mama Halosina, selain mengurus lahan, anak-anak, juga menjual hasil-hasil kebun dengan menempuh perjalanan berkilo-kilo jaraknya ke kota.
“Pemerintah selalu sigap hanya jika menghadapi isu-isu disintegrasi, tapi ketika menghadapi masalah kesehatan dan pendidikan diam saja. Ada sekolahan yang libur satu bulan, ada puskesmas-puskesmas kosong dibiarkan saja,” kata Asrida.
Alumnus Universitas Udayana Denpasar ini menuturkan dirinya bersama tim membuat film berdurasi 62 menit ini dengan berjalan kaki selama lima jam ke lokasi shooting.
Dia berharap film ini membuka mata banyak orang. Bahwasannya  masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah, bukan hanya fokus pada masalah disintegrasi saja.
Film ini sudah diputar di bioskop mulai Kamis, 8 Januari 2014. Bagi penonton film Tanah Mama ini ada kesempatan gratis untuk berkunjung ke Papua dengan Tim Tanah Mama. (*)

Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment