SMS Dini Hari


Foto; Teleakses Solusindo
Oleh; Ferdinand Edoway

“Aku jatuh cinta padamu. Maukah kamu menjadi kekasihku.”

SMS itu. Kembali lagi menyentak Amadi. Beberapa hari terakhir pesan itu memenuhi inbox hand phonenya. Sudah sembilan kali pesan yang sama sejak dini hari masih dalam ingatannya, dengan tiga bahasa yang berbeda telah mengganggu konsentrasi gadis hitam manis ini.  “I am falling love you. Ani akepa idetega. Aku jatuh cinta padamu”. Sebuah pesan dengan arti yang sama dari nomor yang tidak dikenal. Cueking hal yang tidak jelas alamat adalah sifat Amadi. Entah iseng entah serius  sedikitpun tidak ia hiraukan.

Kring…. kring……. telephone seluler Amadi berdering. Masih tetap nomor yang beberapa jam lalu telah menganggu dirinya dengan bunyi SMS yang tentu baginya adalah orang iseng. Ia tidak segera merespon. Nomor yang selalu mengusik ketenangan gadis yang murah senyum dan cukup dikenal dikompleksnya.

Please,... jawab teleponku Amadi, aku mau bicara.” Satu pesan dari nomor yang sama. Kali ini matanya memblalak menyimak tulisan dalam pesan yang diterima. Rupanya seseorang di sudut sana mengetahui siapa dirinya. Apakah orang disudut sana mengetahui banyak hal tentang diriku sampai namaku juga dia kenal. Kembali menimbulkan beribu tanya dalam hati.

”Siapa gerangan orang ini, dari mana, orang ini mengenaliku, pernahkah aku mengenalinya, seriuskah orang disudut sana dengan ucapannya, atau pasti hanyalah iseng dari teman-temanku” gumam, Amadi dalam hati.

Amadi yang duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Umum memang gadis yang cantik dan berwibawa. Ia juga menjadi bintang dikelasnya. Tiap semester ia keluar sebagai rangking pertama. Satu tahun yang lalu ia menyabet juara pada beberapa perlombahan di sekolahnya. Juara pertama dalam lomba pidato bahasa inggris. Juara satu dalam olimpiade matematika dan fisika disekolahnya. Amadi jauh berbeda dengan anak umuran sekolahan. Tidak sombong, penuh pengertian dan suka menolong melekat pada dirinya. Semua itu membuat ia meroket di sekolahnya. Amadi menjadi pusat perhatian cowok di sekolahnya.

Kring.......Kring...... masih tetap nomor yang tidak dikenal. Respon saja teleponnya siapa tahu saya mengenal penelepon di sudut sana yang terus mengusikku, kata nurani Amadi.

”Hello...dengan siap nich, tanya Amadi.

”Amadi, masih ingat sama aku? Aku Pito”

”Pito yang mana, tanya Amadi ingin tahu lebih jauh.

”Aku pernah satu kompleks dengan kamu. Empat tahun yang lalu kamu sering main ke rumahku, jalan bareng dengan adikku yang sekelas dengan kamu.”

”Hm...... oh , ya.... aku ingat, bukankah kamu kakaknya Mabiwau yang sering bantu kami menyelesaikan pekerjaan rumah dan sedang kuliah di Port Numbay”.

”ya,..tebakanmu benar, Amadi”

I am Sorry, many sorry, Kak. May be its so long time so I am Forgot.”

Please, forgive me, Kak.

 Never mind, kata Pito menetralisir percakapan.

How are you, kak”. 

I am fine and you, dik”

Everything Ok,”  what about your study in Port numbay, Kak

“I will talk you everything which you like to share in other time”. Kata Pito mencoba mengakhiri kemungkinan munculnya pertanyaan lain dengan harapan jawaban atas SMS yang telah ia kirim dapat segera dia peroleh.

Pito, Lelaki yang pernah hadir dalam mimpinya. Diam-diam Amadi pernah jatuh cinta padanya. Ketertarikannya itu sudah lama ia pendam dalam hati. Ani Akepa Idetega, perasaan itu ingin ia ungkapkan tapi tidak mungkin. Amadi seorang wanita. Posisinya selalu menunggu. Perasaan yang hampir terkadang terlontar keluar dari bibir Saat lelaki itu menjadi tontonan kedua matanya. Jiwanya bergejolak mendengar intonasi suara yang menarik dari tiap ceritanya.

Sesekali ingin ia ungkapkan perasaannya melalui adiknya. Namun tetap saja gagal. Mabiwau alamat yang tidak tepat untuk mengutarakan isi hati. “Ia walaupun temanku ia juga adik dari lelaki yang membuat aku patah hati. Aku tidak mau menanggung malu dalam persahabatan ini, renung Amadi dalam hatinya.”

Empat tahun yang silam Pito bermukim di bumi Amungsa mengikuti orang tuanya yang pindah Dinas. ia lahir dan dibesarkan di kota Kaimana. Masa kecilnya pernah ia habiskan bersama riak ombak yang bergantian mengecup bibir pantai. Indahnya senja di Kaimana menjadi tontonan saat mentari seolah berkata selamat tinggal anak manusia sampai jumpa lagi pada episode berikutnya. Saat-saat yang indah saling berkejaran dibawah warna langit yang telah berubah warna perak bersama busa yang bertamu pada butiran-butiran pasir pantai.

Port Numbay kota yang dipilih Pito melanjutkan studi. Mengejar cita-cita yang mungkin sederhana bagi orang sebagian. Menjadi seorang bankir. Mencapai cita-cita musti background yang cocok, batinnya. Ia mendaftar dan diterima di STIE Port Numbay pada Fakultas Ekonomi dan Bisinis Jurusan Keuangan dan Perbankan. Di kampus ia aktif terlibat di berbagai kegiatan kemahasiswaan. Ia juga dipercaya mengelolah koperasi serba usaha milik keluarga teman kuliahnya selama dua tahun.

Hidup yang pernah bertetangga dengan beberapa bankir membentuk jiwanya. Beberapa ilmu perbankan sudah dia kantongi sebelum mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. Semua itu membuat cita-citanya mengetal dalam dirinya. Majalah Informasi Bank menjadi langganan tetapnya.

Seorang bankir yang dikenal baik mengajak Pito ikut test penerimaan karyawan pada perusahan yang dipimpinnya. Kantor cabang yang dipimpin Irawan membutuhkan dua slot. dan kini ia bekerja bersama Irawan pada salah satu bank yang beroperasi di kota Jayapura.

Ya.... Tuhan kenapa aku jadi lupa, sepatutnya lelaki itu musti terekam baik dalam memoriku. Ia banyak berjasa. Semua pekerjaan rumah yang sukar menjadi mudah bersamanya. Ampuni aku Tuhan, hampir saja aku melupakan lelaki yang pernah berjasa dalam membimbingku memahami pelajaran sekolah yang sukar kuselesaikan, doa Amadi memohon ampun.

“Amadi, tentunya sudah kamu baca SMSku, bagaimana keputusanmu, tanya Pito.

Amadi terdiam seribu bahasa. Jiwanya bagai di sambar petir di siang bolong. Lelaki yang pernah menjadi tutor dan hatinya dibuat luluh kini telah kembali dalam hidupnya. menawarkan cinta untuk menjalin hubungan kasih asmara.

“Amadi, walaupun  isi hatiku aku utarakan lewat handphone bukan berarti aku iseng. aku serius menjadikan dirimu permaisuri hatiku. Lanjut Pito.

Aku tahu saat ini kamu berat menjawabnya. Pasti sangat sulit merespon tawaran seseorang yang belum tentu kamu kenal karakternya walaupun ada masa-masa kedekatan yang pernah dilewati bersama. Aku mengerti itu. Namun Aku harap kamu menjemputku di bandara Moses Kilangin. Saya akan terbang siang ini dengan pesawat Garuda. Kehadiran dirimu akan sangat berarti bagiku.

Sesuatu memukul dadanya. Hatinya mendadak berdebar dengan kencang. Sesuatu yang tak pernah ia alami menjalar mengalir dalam dirinya. Seolah demam telah mengerogoti seluruh tubuhnya dan tak berdaya melangkah menyelesaikan beberapa jarak yang masih tersisa di depan.

Aduh mimpi kah aku? sesaat lagi aku akan berjumpa dengan lelaki itu. Lelaki yang telah lama menjarak seiring studi dalam rotasi waktu. Batinnya.

“Terimakasih kamu mau menjemputku, kamu makin cantik dan nampak fresh saja, puji Pito sambil menyambut tangan Amadi yang sedang berdiri menunggu sosok lelaki yang menawarkan cinta diantara para penumpang yang berdesakan keluar dari pintu kedatangan.

Penampilanmu sudah berubah jauh aku hampir tak mengenalimu kak.Lewat jalan mana tadi, aku tidak melihat kak keluar dari antara penumpang itu. Aku minta bantuan security untuk keluar secepatnya.

 “Ayo kita cari es buah, aku haus, ajak Pito sambil melangkah dibawa pohon pinus yang tumbuh berjejer pada kedua sisi poros jalan raya.

Aku belikan kado khusus buat kamu. Aku harap kamu menerimanya. Kata Pito sambil menyodorkan. Kak, boleh aku buka kadonya, tanya Amadi sambil meraih bingkisan. Pito mengkedipkan mata kanannya mengiyakan permintaan Amadi.

“Wao..... indah sekali, Kagum Amadi menikmati kado yang mengeluarkan kilauan cahaya pelangi tatkala cahaya bertamu. Kalung mutiara yang indah. Pasti mahal harganya. kak berikan saja kalung ini buat pacarmu, kata Amadi menguji maksud hati Pito.

Kalung ini aku belikan khusus buat kamu sebagai ketulusan cintaku padamu. Kamu pantas mendapatkan kalung itu. Tiada wanita lain yang mampu mengetarkan hatiku hanya kau seorang dalam dunia asmaraku.

Sekonyong-konyong taburan helai bunga-bunga cinta hadir memenuhi ruang hati Amadi. Berlaksa aksarapun serasa menghilang diterbangkan angin. Sepasang bibir serasa kaku laksana diterpah dingin yang amat sangat ketika salju abadi menutupi gunung Nemangkawai. Ya…. Ungkapan cinta Pito telah membuat Amadi puyeng dalam asmara.

“Tidak harus kamu menjawab tawaranku sekarang, kata Pito melihat Amadi yang sedikit tertunduk malu tersipu dan sedikit kaku dalam meresponse. Pada malam acara ultahmu esok aku harap kalung ini memberi isyarat dengan melingkar di lehermu pertanda kamu menerima cintaku.

Pesawat telah landing pukul lima belas tepat sewaktu Amadi bergegas menuju anjungan kedatangan. Diluar sana burung saling berkejaran. Berpindah dari satu ranting ke ranting yang lain. Dedaunan pohon pinus menari riang seolah tak mau berhenti. Angin yang datang dengan arah yang berganti mengusap tak teratur. Jiwa Amadi terjaga. Dua hati yang berbeda kini telah menyatu dalam satu ikatan tali kasih. Tali biru yang berkolaborasi dengan  warna langit membentuk lingkaran cinta.

Langit diatas kota Amungsa telah berubah kelam. Taburan bintang di langit memberi letupan cahaya. Seiring rembulan yang menapak utuh ia hadir melempar senyum dalam istana mini di bawah remang remang cahaya lampu ultah. isyarat asmarapun berkedip melingkari leher Amadi.


Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Posting Komentar