Penyederhanaan bahasa daerah di Papua, perlu ka? - KO'SAPA

Penyederhanaan bahasa daerah di Papua, perlu ka?


MENURUT data Badan Pusat Statistik (BPS), proyeksi jumlah penduduk Provinsi Papua tahun 2018 akan mencapai sekitar 3,3 juta jiwa dan Papua Barat sekitar 915.361 jiwa. Jika digabungkan, maka jumlah penduduk di Tanah Papua mencapai sekitar 4,2 juta.
Jika 70 persen dari penduduk itu masih melestarikan bahasa-bahasa daerah di Papua, maka penduduk yang menguasai bahasa daerah sekira 2,9 juta jiwa. Jika dihitung rata-rata per bahasa, maka dari 384 bahasa daerah, rata-rata bahasa mencapai 7.725 penutur.
PapuansPhoto.doc
Dari perkiraan itu, dapat diduga bahwa ada bahasa yang penuturnya di atas 8.000 orang dan ada yang di bawah 7.000 orang.
Tanah Papua memiliki keanekaragaman bahasa daerah. Bahasa daerah di Papua terbanyak di Indonesia. Hingga tahun 2017 terdata 384 bahasa daerah di Papua dan Papua Barat.
Kenyataan ini mendapatkan perhatian berbagai pihak, karena tanpa perencanaan, tanpa arah, ada bahasa yang bertahan, tetapi tidak sedikit yang terancam punah.
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus Papua, pasal 58 menyatakan, Pemprov Papua berkewajiban membina, mengembangkan, dan melestarikan keragaman bahasa dan sastra daerah guna mempertahankan dan memantapkan jati diri orang Papua.
Bahasa daerah juga dapat digunakan di jenjang pendidikan dasar sesuai kebutuhan. Dengan demikian, Pemprov Papua memiliki tanggung jawab besar dalam pembinaan, pengembangan, dan pelestrian bahasa daerah.
Dosen FKIP Uncen, Chirist Fautngil, mengatakan dapat digunakan melalui jalur formal dan nonformal untuk mengembangkan bahasa di Papua.
“Kegiatan ini dapat dilakukan oleh pemerintah daerah, LSM, atau perseorangan. Pembahasan aspek ini sangat penting agar dapat memberikan informasi kepada berbagai pihak tentang usaha pembinaan dan pengembangan bahasa daerah dengan segala tantangan dan peluangnya di tanah Papua,” katanya.
Pembinaan bahasa, lanjutnya, seharusnya dilakukan melalui jalur umum dan khusus. Jalur umum adalah usaha pembinaan dan pengembangan bahasa daerah melaui deskripsi bahasa daerah, penulisan kamus, dan penyuluhan yang mengarah ke pemeliharaan dan penggunakan bahasan daerah. Pembinaan dan pengembangan melalui jalur khusus adalah kegiatan pembelajran bahasa daerah di sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan formal.
Bahasa daerah di Papua sangat banyak. Ada yang penuturnya banyak, ada yang sebarannya tidak merata. Keadan bahasa bervariasi pula. Ada bahasa daerah yang sudah punah, ada yang sedang proses ke arah kepunahan, dan ada yang masih eksis. Fungsi dan kedudukan bahasa daerah sudah berubah sesuai keberadaan bahasa daerah di Papua.
Cara-cara melalui jalur umum dan khusus dinilai memiliki hambatan, sehingga penyelamatan bahasa-bahasa daerah belum maksimal.
“Sudah saatnya dilaksanakan pembinaan dan pengembangan bahasa melalui perencanaan bahasa daerah.”
Koordinator Keaksaraan (Pendidikan Multi Bahasa Berbasis Bahasa Ibu) Yayasan Suluh Insan Lestari Sentani, Telma M. Huka, mengatakan perlu menerapkan pendidikan multi bahasa berbasis bahasa daerah di sekolah-sekolah.
“Pendidikan multi bahasa berbasis bahasa ibu (PMB-BBI) adalah sebuah pendekatan pendidikan yang meluncurkan pendidikan dalam bahasa ibu sang anak dan transisi ke bahasa kedua setelah sekian tahun,” katanya.
Untuk kelas PAUD, bahasa-bahasa daerah yang diajarkan ialah memperkenalkan baca, tulis, berhitung (calistung), untuk TK melalui bahasa lisan dan tulisan, dan calistung bagi kelas 1 dan 2.
“Satu kelas memakai buku bacaan dalam mata pelajaran untuk mata pelajaran IPA dan IPS. Sementara kelas 3-6 semua kelas memakai bahasa Indonesia, kecuali kelas muatan lokal,” katanya.
Ia menyebutkan pendidikan multi bahasa hanya cocok untuk bahasa yang (statusnya) aman, karena anak mulai baca-tulis dalam bahasa daerah. 
“Pertanyaanya apakah semua bahasa yang akan diterapkan atau kita memulai dengan bahasa yang terbesar atau terkuat? Selanjutnya keputusan dibuat oleh siapa (pemprov, kabupaten, suku) dan biaya/pendaaan dari mana? Bagaimana kalau tidak ada guru yang bisa berbahasa daerah, mereka bicara dengan bahasa apa, bagaimana dengan ongkos bahasa?”
Menurutnya Uncen berperan untuk memonitor dan riset situasi bahasa daerah di Tanah Papua, dan memvalidasinya, menulis kamus, dan tata bahasanya. Semua suku di Papua harus menyadari vitalitas bahasanya. Begitupun LMA, gereja, dan dinas pendidikan, Uncen dan NGO. Mereka harus memikirkan bagaimana bahasa daerah ini dimasukkan dalam muatan lokal.
Akademisi Uncen, Theo Purba, mengatakan semakin minim penutur bahasa daerah, memudahkan bahasa daerah itu punah. Agar bahasa daerah tidak punah, ia menawarkan beberapa solusi, di antaranya, memakai bahasa daerah sebagai pengantar di lembaga pendidikan seperti di India.
Selain itu, dapat juga memasukkan bahasa daerah ke dalam mata pelajaran seperti di Singapura, lomba-lomba pidato, cerita rakyat, mop, debat, baca puisi, dan mengarang. Pemenangnya diberikan hadiah.
“Hal seperti begini sudah seharusnya dilakukan sebagai pemeliharaan bahasa daerah yang dilakukan juga oleh penutur itu sendiri,” katanya.
“Cara lain yang bisa diambil adalah mengambil kosakata bahasa daerah untuk memperkaya bahasa Indonesia, menulis kamus dwibahasa—indonesia dan daerah, meneliti struktur, dan sastra bahasa daerah, membuat bahan ajar untuk bahasa daerah, membuat peta bahasa daerah,” lanjutnya.
Penting bagi pemerintah untuk memasukkan bahasa daerah menjadi satu mata pelajaran wajib di SD. Penyederhanaan bahasa-bahasa dengan bahasa induk yang mewakili sekelompok bahasa memang perlu sekali, karena tidak mungkin diajarkan semua bahasa dalam satu kelas.
“Misalnya di Kabupaten Sarmi ada 22 bahasa daerah yang semuanya dengan jumlah penutur kecil. Tentu tidak semua diajarkan. Perlu ditentukan satu-satu atau dua bahasa induk yang nanti diajarkan di sekolah-sekolah,” katanya. (*)
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment