Kasuari di negeri gelandangan - KO'SAPA

Kasuari di negeri gelandangan

foto; Proletarman's Weblog

Oleh; [benX]

Dalam gundah itu ada terang, Bintang Kejora
Sekarang ia merasa sebagai “orang-Papua”
Tidak sebelumnya, ketika kenal diri sebagai orang Jayakarta
Yang di rumah dipanggil ASU dari nama indah Ari Kasu
peninggalan kreatifitas ortu mengolah kata Kasuari menjadi Ari Kasu

Nak muda, kau bisa tau dari suku mana bayi kau diambili
Tidak pace, ada dokumen cuma berisi nama Kota Baru
Tanpa nama yang melahirkan, maupun yang penyemai benih
Ah, pasti ada yang tau, kau pigilah ke Papua
Boleh pace, nanti bila ku sudah kumpulkan dana
Sekarang aku cari duit dengan bermain bola
Tak marah kau diejek penonton
Pace, mereka kata kita monyet, nah teori Darwin bilang itu kan nenek moyang mereka sendiri
Bila monyet yang dimaksud mereka sebagai busuk, matilah mereka kutuk moyangnya sendiri

Seperti rupa olahragawan ia terus berjalan dan berlari jaga kesamaptaan
Di bawah terik mentari mutiara hati bernyala sebagai itulah semangatnya
Bermata Papua Berbintang Kejora

Bila kesebelasan berisi pemain-pemain kulit berwarna cokelat gelap,
seluruh ada pikir hitam
Entah mengapa kebiasaan buruk manusia penonton bisa kembali ke masa purba
Seolah sodara-sodara kita-Papua cumalah mahluk perkasa dari gerombolan Kurawa, gerombolan yang selalu dikalahkan,
yang selalu disalahkan demi Pandawa Lima nan jayaraya slamanya
makanya
Wajar dicerca,
wajar dihina,
wajar dilempar,
wajar dihancurkan,
Wajar ditaklukkan ….
sudah capai berlari ngejar bola
Ditindas pula rasa marah atas kebodohan manusia penonton …. Tapi pace tau kan aku perlukan mereka datang, membayar, dari situ terkumpul duit, dan aku dapat bayaran ….

Engkau rela dihina demi mendapatkan duit begitu, dimana integritas dirimu e
Pace ini profesional, untuk satu perjuang aku rela berkorban ……..
seperti para martir Papua-kita, Papua-merdeka, Papua-cinta
Menjelma Kita Papua, Merdeka Papua, dan Cinta Papua
Bukan kebahagiaan pace, cuma keberlanjutan sukacita hidup nan bebas sealamraya
Disini ini …. Dalam dada semua manusia

Betul itu anak muda, penghinaan adalah senjata ampuh penikam jiwa
Semakin kita dihina, semakin kita merasa nista tertunduk takluk dan mati rupa, beraga Papua tanpa nyawa Papua, bertegak perkasa di bawah panji penista, berlagak merdeka tapi mati jiwa
Bah! Papua kita pun sudah tiada  

Betul itu anak muda, penghinaan adalah senjata pembunuh jiwa
Kau termakan, kau selesai

Betul itu anak muda, penghinaan adalah energi kuat yang harus dibalik jadi bukti kebulatan tekad jiwaraga menjadi dirimu sendiri yang sejati berdikari
Hari ini pace merasa paru-paru bertambah luas, panjang usia viva cinta Papua
Cintamu dan cintaku
Kita Papua Merdeka

Kasuari .. eh Ari Kasu, terus berlari hingga dari pagi sampai sore
Malamnya tak ada yang bisa melihat orang-orang [berkulit] gelap bergerak atau jatuh tertidur
Dan ini cukup membuat para intel tentara atau polisi kelabakan
Sepatu-sepatu bot mereka ibarat kebakaran, jenderal-jenderal matanya memekar bara
Seperti juga di rimba Papua, yang hutannya dibagi-bagi kepada konglomerat kapitalis mana-mana, selalu “dikira” penuh separatis pemberontak pengacau, itulah sebabnya pasukan tentara, polisi, mengalir terus hingga keringat penindasan yang penghabisan

Kita Papua dibikin tidak sempurna
Dikejar-kejar, ditembak-tembak, ditangkap-tangkap seperti layaknya binatang liar yang hendak dijinakkan ….. Pace ini bukan profesional, tetapi penjajahan yang harus dihapuskan dari muka bumi [asalnya ini, daripada teks proklamasi kemerdekaan tetangga Papua, Republik Indonesia]

Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi …. Begitu lelagu yang diajarkan kepada Ari semenjak kecil … sekarang tidak lagi, tetapi bangun tidur kuterus berlari, tidak lupa mengucap syukur memohon kekuatan ketabahan melalui semua aral godaan & cobaan untuk Papua Kita
Papua Merdeka
Papua Cinta

Begitu suara para pengamen berhamburan di negeri gelandangan

Mereka cuma bisa menyumbangkan lagu demi beberapa receh
Sambil ikut berkampanye kemanusia yang adil dan beradap
Bukan negeri yang memberi kesaktian kepada pejabat-pejabat
Untuk melaksanakan semua hajat bejat yang menyita hak dan cita-cita rakyat

Jadi cita-cita Papua Merdeka adalah impian semua kita
Iya, kemerdekaan Papua adalah juga kemerdekaan orang semua
Tidak ada pelarangan wartawan menulis
Tidak ada pelarangan jurnalis asing mengunjung

Siapa yang melarang sampai sekarang
Itulah yang disebut penjajah dalam proklamasi kemerdekaan tetangga Papua itu tadi

------------
sedikit info : 
Nama penuh beN abeL, kelahiran Central Borneo di sebuah desa yang sudah menjadi kota di wilayah Gunung Mas. Kini menetap di Upstate New York. Bekerja sebagai buruh perpustakaan.
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment