Pendidikan perempuan Papua di tahun 1950an – Kisah Albertina Faidiban dan MVVS Korido

Oleh; Rini Irmayasari*
Foto; Laporan Stop Sudah! Ringkasan Eksekutif. Kesaksian Perempuan Papua Korban Kekerasan & Pelanggaran HAM

PENGANTAR
Salah satu cara memahami Manokwari adalah dengan memahami bagaimana perjalanan hidup penduduknya. Dalam catatan ‘sejarah orang biasa’, saya berkenalan dengan seorang perempuan asli Papua paruh baya yang menjadi narasumber catatan saya terkait perkembangan kota Manokwari dan juga Tanah Papua secara umum. Lewat  beberapa kali pertemuan dengan nene Albertina Faidiban, istri dari tete Lambert Rumbino (narasumber saya terkait sejarah galangan kapal Manokwari), saya belajar banyak hal tentang hidup dan bagaimana rasanya menjadi perempuan di tahun 1950 – 1960an di Papua. Kisah Nene Albertina yang saya padatkan dari wawancara tanggal 7 & 12 Desember 2011 ini menjadi sebuah cerminan nilai dan memberikan sebuah pemahaman yang lebih baik tentang  perkembangan kehidupan perempuan Manokwari.

Berangkat dari pemikiran  itulah, saya memulai catatan pertama tentang  kehidupan nene Albertina dan beberapa hal terkait aktivitasnya di masa lalu khususnya terkait pendidikan dan pemberdayaan perempuan walaupun pada masa ini, nene Albertina masih berada di kota lain (Biak), tetapi kisahnya dapat dijadikan pembelajaran dalam memahami sebuah contoh kecil sistem pendidikan dan pemberdayaan perempuan pada masa itu.

Albertina Faidiban dan MVVS Korido
Albertina Faidiban, kelahiran kampung Soriar/Sorya, Biak Timur, 18 April 1939 ini masih kelihatan kuat dan tegap tiap kali saya temui di rumahnya yang beraksitektur khas rumah peninggalan masa pemerintahan Belanda. Tingginya sekitar 160 Cm dengan seluruh rambut yang memutih. Walau sudah berumur 72 tahun, gigi – giginya masih utuh. Kala berbincang – bincang dengan saya, suaranya juga masih sangat jelas serta ingatan yang masih baik. Iya, saya terpesona dengan kemampuan perempuan Papua lanjut usia ini. Detail fakta yang mengalir dari mulutnya hanya menyisakan rasa kagum yang menjalar di hati.

Albertina dibesarkan di sebuah kampung pesisir di Biak Timur. Saya tak terlalu banyak bertanya tentang kehidupannya selama di kampung khususnya terkait masa kecil tetapi lebih pada kisah pendidikannya. Ia menghabiskan masa pendidikan dasar dengan masuk SR (Sekolah Rakyat; setingkat SD namun hanya selama 3 tahun belajar) di kampungnya dan kemudian melanjutkan ke MVVS  (setingkat SMP khusus perempuan yang mengkhususkan diri pada keahlian perempuan, sejenis sekolah keputrian pada masa itu). Pada masa itu, pihak MVVS Korido mengirimkan surat edaran ke berbagai SR di kampung  – kampung sekitar Biak guna memberitahukan penerimaan murid baru. Tidak setiap anak perempuan dapat otomatis diterima oleh pihak MVVS karena pada masa itu ada ujian masuk selama 2 hari. Bila resmi diterima, maka orang tua akan menerima sebuah surat pemberitahuan terkait diterimanya anak mereka di sekolah ini plus juga beberapa pemberitahuan terkait kunjungan liburan yang sangat terbatas.

Pada masa itu, MVVS tidak menerapkan liburan yang panjang yang membolehkan para siswi pulang ke rumah orang tua mereka di kampung. Tingkat efektifitas belajar diupayakan seketat mungkin sehingga  perayaan Natal pun dilaksanakan di sekolah.  Pada masa itu, dan ditengarai hingga sekarang bahwa sistem pendidikan di Indonesia maupun di Papua mengadopsi masa perhitungan musim di Eropa yang mana masa awal tahun ajaran dimulai pada pertengahan tahun. Hal ini cukup berbeda dengan pengalaman saya sewaktu tinggal dan sempat mengajar di sebuah TK dan SD di Canberra Australia yang mulai bersekolah pada awal tahun (bulan Januari). Dalam bincang – bincang saya beberapa minggu lalu dengan nene Albertina dan ditemani Tete Rumbino, saya mendapat gambaran tentang pengaruh perhitungan musim pada pelaksanaan sekolah. Di masa sekolah nene Albertina, sekolah dimulai pada bulan Juni dan berlangsung hingga Juli kemudian ada jeda liburan di bulan Agustus, kemudian berlanjut lagi dengan bersekolah kembali di bulan September hingga bulan Desember dan liburan Natal.

Siapa yang ajar ee
Nene Albertina begitu bersemangat kala bercerita tentang masa remajanya di sekolah yang berlokasi di Korido, Supiori ini karena MVVS Sorido menorehkan banyak cerita dalam hidup nene Albertina. Ia mulai bersekolah pada tahun 1955 dan lulus pada tahun 1958. Ia dan sekitar 200 orang perempuan muda Papua lainnya tinggal di asrama yang diawasi oleh 5 orang guru yang terdiri atas 4 guru perempuan orang Belanda dan seorang guru lelaki asli Papua (pak Bukorsyom). Empat guru perempuan ini mengurusi berbagai hal, ada yang menjadi kepala sekolah, ada yang menjadi pengurus urusan rumah tangga sekolah antara lain mengurusi makanan serta juga mengajar olahraga. Sedang pak Bukorsyom sebagai satu – satunya laki – laki dan asli Papua bertugas mengajar bahasa Melayu serta pelajaran Agama Kristen Protestan. Saat itu, terkait kekristenan, Doa Bapa Kami dalam bahasa Belanda dan Melayu adalah satu – satunya doa yang diajarkan. Anyway, perlu juga dicatat bahwa terdapat  juga Solsiener (entah ejaan saya benar atau tidak) atau pengawas sekolah di Biak yang memastikan bahwa proses belajar mengajar berjalan dengan baik serta menetapkan standar pendidikan yang tinggi. Tak heran, sekolah dan pendidikan pada masa itu terkenal dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi.

Dong belajar apa saja ee
MVVS sebagai sebuah sekolah ‘sambungan’ (lanjutan) tentu saja tak hanya mengajarkan tentang urusan ‘perempuan’ tetapi juga beberapa pelajaran lainnya. Pada masa itu, para siswi belajar tentang bahasa Melayu, bahasa Belanda, Ilmu bumi (geografi) seperti mempelajari tentang peta dunia termasuk peta negara lain, serta mendapat pelajaran ilmu sejarah yang lebih spesifik tentang Papua; salah satu topik bahasan adalah tentang sejarah perkembangan Injil di Tanah Papua khususnya 5 Februari 1855. Pada masa ini, Albertina muda dan teman – temannya belajar dengan menggunakan Batu tulis dan alat tulis yang bernama ‘Grivel’: sejenis stik arang yang dipakai menggeret batu tulis. Penggunaan batu tulis dan grivel merupakan masa dimana buku dengan lembaran kertas adalah barang yang lumayan mahal untuk anak sekolah pada masa itu, sehingga anak sekolah dituntut untuk bisa memberdayakan ingatan mereka dengan baik. Jadi, para siswi tak bisa menyontek pada masa itu tentu saja. Bagaimana mau menyontek saat ujian kala tiap kali mencatat atau menorehkan catatan apapun di batu tulis, usai pelajaran batu tulisnya harus dihapus dengan air guna menghilangan torehan grivel HEHEHE.

Urusan keperempuanan diajarkan lewat pelajaran menjahit, memasak dan juga segala hal terkait menjadi perempuan. Pelajaran menjahit diadakan dua kali seminggu yang dimulai dari mulai teknik menjahit tanpa mesin (manual) hingga menjahit dengan menggunakan mesin. Tak ayal, pada masa itu, siswi tingkat akhir sudah diharapkan dapat menjahit pakaian mereka sendiri. Pelajaran memasak juga mendapat alokasi jam yang sama. Para siswa diajar memasak dengan berbagai cara mulai dari teknik menumis, menggoreng hingga membuat nasi kuning. Satu yang tak bisa dilupakan oleh nene Albertina adalah para siswa di tahun terakhir sekolah bahkan diajar untuk dapat bisa mempraktekan teknik penataan meja dan etika di meja makan (table manner) antara lain bagaimana menata peralatan makan dan cara memakainya serta cara duduk yang benar. Pada tahun terakhir masa sekolah, kerap diadakan ujian untuk keterampilan perempuan. Misalnya untuk urusan masak dan table manner, ujiannya dibuat dalam bentuk praktek usai memasak dan menyajikan makanan, tiap  4 orang siswa dipanggil untuk duduk semeja dengan guru mereka dan mempraktekan cara makan yang benar. Perlu diingat, pada tiap praktek memasak maupun menjahit di sekolah, pemerintahlah yang mensubsidi biaya praktek jadi para siswi dibebaskan dengan biaya apapun terkait praktek.

Perlu juga dicatat, pada masa itu ada sejumlah fakta menarik terkait keahlian hidup sebagai perempuan termasuk tentang urusan seksualitas. Di masa tahun 1950an dan sebelumnya, penggunaan pembalut perempuan (softex) berbentuk bantalan dari pulp (bubur kayu) dan katun apalagi yang mengandung gel tidak ada dan tidak dijual. Begitu juga dengan pakaian dalam perempuan semisal kutang dan bra. Itulah sebabnya para ibu guru Belanda pada masa itu mengajarkan pada siswa perempuan ini teknik menjahit kutang dan pakaian dalam serta tak lupa bagaimana menjahit ‘dug’ atau pembalut (softex) dari bantalan kain yang dapat dipakai ulang. Dug ini terdiri atas dua bagian yaitu bantalannya dan juga dilengkapi talinya. Namun, saya belum sempat bertanya lebih lanjut tentang rincian perawatan, teknik jahitan dan juga urusan kesehatan terkait pemakaian dug ini. Ya siapa tahu pengetahuan itu akan berguna suatu hari entah untuk siapa yang membutuhkan *tiba – tiba memikirkan punya nasib seperti Tom Hanks di film Cast Away HEHEHE.

Kehidupan sosial berasrama
Saat itu, 200 siswa perempuan ini tinggal di dalam dua internat ( asrama) berkapasitas beberapa kamar dengan jumlah maksimal 50 anak seruangan. Semua fasilitas digratiskan oleh pemerintah Belanda kecuali pakaian yang harus disiapkan sendiri oleh para siswi. Tiap anak yang masuk asrama diberikan secara cuma – cuma peralatan mandi dan mencuci (sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi dll), juga dilengkapi dengan selimut, bantal dan kelambu. Tak lupa menyebutkan juga tentang biaya sekolah dan makan yang gratis dan ditanggung pemerintah.

Hidup bersama dalam lingkungan sekolah berasrama berkapasitas 200 orang bukannya bebas masalah. Paling sering kendala yang kerap muncul adalah saat urusan mandi dan makan karena jumlah siswi yang sangat banyak. Para siswa ini akhirnya menemukan solusi di jam mandi. Bila kapasitas kamar mandi ramai dan banyak yang antri, maka mereka memanfaatkan kali jernih di dekat asrama sebagai tempat mandi.  Menarik juga!!!

Layanan non-pendidikan
Selain fasilitas belajar dan akomodasi gratis yang disediakan pemerintah Belanda pada masa itu, terdapat juga layanan non-pendidikan yang disediakan bagi para siswi MVVS. Apalagi kalau bukan urusan kesehatan. Selama tiga tahun bersekolah dan tinggal di asrama, tak sekalipun pernah ada masalah berat yang terkait dengan kesehatan dan berakibat pada kematian yang dialami para siswi. Hal ini ditengarai karena kontrol kesehatan yang sangat baik dari pemerintah Belanda pada masa itu. Tiap kwartal (sekitar 3 – 4 bulan) atau setahun 3 kali, diadakan sejenis pemeriksaan kesehatan intensif. Mungkin pada masa kini yang disebut ‘medical check-up’. Pada saat itu, didatangkan tim dokter dan paramedis dari Biak. Tak hanya pemeriksaan fisik tetapi juga termasuk pemeriksaan patologi (tes darah lengkap) yang sampel darahnya harus dikirim ke laboratorium di rumah sakit di Biak. Bahkan nene Albertina sempat terkekeh tertawa bercerita bagaimana saat itu ia dan teman – temannya harus menjalani pemeriksaan rontgen di ‘kamar gelap’ dadakan yang dibuat para dokter pada masa itu guna melihat kondisi organ dalam para siswa. Bila ditemukan ada siswa yang bermasalah dengan kesehatan mereka, maka mereka akan dirujuk untuk berobat ke Biak. Beberapa teman nene Albertina pernah dikirim untuk berobat di Biak usai pemeriksaan ini.

Terkait dengan layanan kesehatan ini, saya cukup setuju dengan tindakan pihak kesehatan pada masa itu. Hal ini karena hidup komunal apalagi sampai 50 siswi dalam ruangan tinggal seperti ini sangat berisiko dalam hal penularan penyakit sehingga diperlukan tindakan pencegahan dan kontrol kesehatan yang baik. Pada masa itu telah ada sebuah rintisan contoh yang sangat baik di tanah ini. Ya semoga hal – hal baik seperti ini dapat menjadi sebuah masukan yang berharga bagi generasi muda ataupun bagi mereka yang melaksanakan sistem sekolah berasrama di masa kini. Belajar dari pengalaman orang lain apalagi dari sejarah tentu saja dapat menjadi guru terbaik, bukan?

Kenangan manis semasa sekolah
Kala saya bertanya pada nene Albertina terkait kenangan manis yang masih dikenangnya semasa bersekolah di MVVS, ia dengan spontan bercerita tentang kenangan kunjungan Gubernur Belanda untuk New Guinea pada masa itu: Van Bald. Pada tahun 1957, Gubernur Van Bald berkunjung ke MVVS Korido. Kunjungan ini tentu saja didahului dengan sebuah pemberitahuan dari pihak gubernuran di Holandia (Jayapura) ke pihak sekolah. Saat itu, Van Bald datang  ke Biak dengan menggunakan pesawat kecil. Albertina muda menyimpan kenangan manis tentang kunjungan itu hingga hari tuanya.

Nene Albertina mengingat jelas bagaimana indahnya lantunan lagu karangan I.S. Kijne dari Nyanyian Seruling Emas yang berjudul ‘Dari Ombak Besar’ dinyanyikan sekitar 200 murid perempuan itu. Di saat ia menceritakan hal ini, ia tak lupa mengulangi  lagu itu bersama – sama saya, tak luput ia berkata, “Cucu, nene waktu itu rasa indah skali, merdu skali dengar semua orang menyanyi lagu ini … Dari Ombak besar, Dari lautan teduh .. aku mendengar …”. Dalam momen kenangan nene Albertina, ia mengenang bagaimana ia dan teman – temannya menyanyikan lagu ciptaan seorang penginjil Belanda ini tanpa menggunakan klaat (buku lagu/teks) dan masih mengingat jelas bagaimana gurunya (pak Bukorsyom) menjadi dirigen. Nene Albertina sempat berujar tentang keheranannya tentang sikap guru – guru Belanda dan juga kunjungan Van Bald yang baginya sangat menyentuh tentang perhatian orang Belanda pada orang Papua.

Anyway, Ucapan nene Albertina tentang lagu ‘Dari Ombak Besar’ yang membawa kenangan manis masa mudanya juga memutar kenangan manis yang saya alami. Lagu ini pertama kali saya dengar pada masa latihan prosesi Wisuda S1 beberapa tahun silam. Tetapi momen ‘bulu badan berdiri’ saking khidmatnya dan menggetarkan kalbu baru saya alami saat prosesi masuk ke ruangan di hari pelaksaan wisuda tanggal 21 Februari 2007. Saat itu, paduan suara kampus UNIPA mengiringi langkah saya dan teman – teman memasuki ruang Aula UNIPA. Ah  Selalu saja ada kenangan manis kala mendengar lagu ini! *pendapat pribadi HEHEHE.

SIMPULAN
Selalu saja ada hal – hal menarik yang dapat dipelajari dari kehidupan orang biasa di mana saja. Bagaimana tiap orang menjiwai dan menjalani hidup dengan cara mereka dan bagaimana tiap kenangan itu dibatik dalam kalbu (mengadaptasi frasa ciptaan sahabat saya Ririe Namserna: ‘laut dibatik’). Anyway, kisah  pendidikan perempuan yang dibagi Albertina Rumbino/Faidiban semasa remajanya membuat saya menerawang jauh tentang pencapaian perempuan asli Papua di masa itu dalam memahami modernisasi dan juga bagaimana peran pemerintah Belanda pada masa itu dalam pemberdayaan perempuan.

Saya tak sekedar hanya mau membawa kisah manis masa keemasan orang Papua di masa lampau tetapi saya juga mau kita sebagai generasi muda Papua yang mempunyai kapasitas dan tenaga di masa kini untuk dapat berkaca pada masa lalu dan semoga juga menorehkan dan membatik kenangan manis pencapaian kita untuk masa depan yang lebih manis bagi generasi muda berikutnya; mewariskan sebuah langkah kerja ataupun sikap hidup yang positif dan efektif. Entah sikap mana yang mau kita adaptasi dan adopsi dari gaya hidup perempuan dan komunitasnya pada masa itu, entah kedisiplinan, entah keuletan mempelajari keahlian domestik guna ketahanan hidup, ataupun entah sikap kerelaan orang – orang tua di kampung yang merelakan anak – anak perempuan mereka tinggal jauh dan melanjutkan pendidikan secara bertanggungjawab. Yang saya tahu, ada banyak hal yang dapat kita maknai dari kisah yang dibagikan nene Albertina.

Ah … perempuan selalu saja punya cerita yang menarik dalam memaknai hidup.

(Manokwari, 151211)


*Rini Irmayasari; Aktifis lingkungan di Manokwari, setelah selesai kuliah S1 di Universitas Negeri Manokwari melanjutkan S2 di Australia. Ia mengumpamakan hobinya menulis seperti rasa gatal kaskado "rasa gatal kalo tra menyuarakan ide seperti rasa gatal kaskado".
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Posting Komentar