Bintang Pagi di Aurume

Oleh; Ibiroma Wamla


Sa pu kampung ini indah sekali, tenang dan damai. Sa tinggal di rumah panggung yang terbuat dari kayu besi, dindingnya sebagian dari nibun. Sa kadang tidur di kamar depan terpisah dari kamar di rumah. Kamar ini di khususkan untuk sa pu bapa pu tamu, ada yang dari Wamena, Jayapura, dari luar Papua.

Sa pu rumah di samping kali Aurume jaraknya sekitar 10 meter. Kali ini de jernih sekali, sering kali kami anana kecil, membuat bedungan, menyusun batu-batu dan rumput, air yang terbendung hampir satu meter lebih. Bahagia sekali, bermain tek-tek sambil berenang. Tapi, gara-gara membendung air di bagian hilir, air jadi kotor dan debit airnya menjadi berkurang sehingga orang dibagian bawah kekuarangan air, dan su pasti dong cari anana yang bendung. Tong smua dapa marah! satu-satunya lari cari tempat sembunyi, hahahaha...

Aurume punya air terjun kecil, kira-kira tingginya 7-9 meter, mandi di bawah air terjun juga menyenangkan. Berdiri menadah tumpahan air yang turun dengan deras, hingga kedinginan, lalu keluar dan berjemur di bebatuan menghangatkan badan.

Di sa pu rumah ada dua kolam ikan, airnya di ambil dari kali Aurume, ada ikan mas, mujair dan lele. Sa kadang-kadang pancing ikannya lumayan gemuk, makan dengan nasi kosong, enak sampeee, apa lagi pulang sekolah jalan kaki-kaki su lapar brat eee.

Sa pu skolah jaraknya dua kilo dari rumah, pagi-pagi su bangun pegang buku trus tancap ke sekolah, kalo jalpot, harus lewat lapangan terbang, menyebrang kali. Tapi pagi tu enak jalan lewat jalan besar saja rame-rame. Kalo pulang sekolah baru jalpot saja.

Bila sore menjelang, jangkrik dan burung-burung bernyanyi menyambut pekat yang sebentar lagi tiba. Lampu menyala jam lima, dari disel milik para misionaris, jam sepuluh sudah padam, padahal sa masih ingin baca buku yang pagi tadi sa pinjam di sekolah.

Dua batang lilin sa nyalakan, buku tentang kisah "Ayam Jago" sa buka, sa baca pelan-pelan sambil tidur, sudah separuh, lilin meleleh hampir habis. Sa tiup sampe padam, dan sa pun terlelap.Hapir subuh sa kaget bangun, ayam bekokok bersahut-sahutan, sa buka horden, masih gelap, tapi di timur ada bintang yang menyala terang. Sa tutup horden, trus sa buka lagi, sa pikir de su pergi ka, tapi de masih ada di tampat yang tadi sa lihat. Sa tutup horden lagi, sa yang hilang entah kemana.

Bintang pagi, sa selalu ingin lihat dia kalo sa terbangun di pagi yang pekat, sinarnya benderang di timur. Kadang sa kibas deng tangan, menyapunya seolah dia berada di depan sa pu muka.

Bintang Pagi
Sabtu yang indah itu membuka kembali kenangan 30-an tahun yang lalu, setelah sa pindah dari Aurume, sa su jarang lihat bintang pagi. Namun deburan ombak senja, dan buih-buih membawa kepingan-kepingan cerita tentang bintang pagi, atau Venus. Dia disebut bintang pagi karena muncul pada saat fajar menyingsing. Venus de bisa terang karna atmosfir venus yang tebal dan terdiri dari gas co2. Sehingga memantulkan cahaya matahari hampir 100%. Selain itu jarak bumi dengan venus amat dekat, sehingga tampak terang apabila dilihat dari bumi. Bintang pagi merupakan benda angkasa yang paling terang setelah matahari dan bulan.

Sa ingat Sampari, Bintang Pagi, Venus, hadir dalam kehidupan masyarakat Papua bagian utara (Byak) dalam bentuk mithe, legenda. Dalam  Buku Cerita Rakyat Irian Jaya seri empat, judulnya "Manarmakeri". Cerita ini berkisah tentang seorang pemuda yang berasal dari kampung Sopen daerah Byak, Papua. Pemuda ini mengalami peristiwa-peristiwa luar biasa karena keberniannya. Bahkan ia pun sampai ke tempat "Koreri". Selain masuk dalam dunia "Koreri" Manarmakeri juga pernah menangkap Venus, ketka itu Manarmakeri melakukan pekerjaan yang digemarinya, yaitu menyadap nira kelapa (Saguer/Sageru).

Namun pada suatu hari ia melihat nira yang ada dipohon itu habis diambil orang. Dia tanya kepada semua orang, namun tidak ada yang mengaku. Terpaksa ia mengintai untuk menangkap pencurinya. Pada malam pertama ia berjaga-jaga di bawah pohon. Keesokan harinya ia melihat nira masih dicuri juga. Untuk malam kedua dibuatnya kaderen di tengah pohon kelapa lalu dia menjaga. Namun, sama saja pencuri itu masih juga meminum nira itu. Ia terus penasaran dari mana mereka mengambil.


"Pada malam ketiga karena penasaran dan marah, ia naik dan duduk bersembunyi di tengah-tengah cabang dan daun kelapa. Sepanjang malam ia berjaga dengan tabah. Menjelang dini hari hari, pencuri turun dari langit menuju puncak pohon kelapa. Manarmakeri menangkap pencuri itu lalu terjadilah suatu perkelahian yang sengit. Dalam perkelahian tersebut ternyata pencuri itu adalah Makmeser atau Sampari (bintang pagi). ”Lepaskanlah saya karena hari hampir siang!” kata Sampari. 

Namun Manarmakeri tidak mau melepaskannya. “Saya tidak akan melepaskanmu sebelum engkau memberikan apa yang ku dambakan selama ini, “kata Manarmakeri."

Bintang itu menyebut banyak hal yang ada di dunia ini, tetapi masih ada yang belum disebut sehingga Manarmakeri tetap terdiam dan tidak mau melepaskan bintang itu. “Katakanlah sekarang, apa yang kau kehendaki,’ kata Sampari.

“Berikanlah kepadaku ”Koreri Syeben dan hilangkanlah kudis di tubuhku ini", pinta Manarmakeri.“ Karena matahari terbit permintaanmu aku kabulkan dan sekarang ini koreri telah kau miliki.

Kisah lain tentang Sampari dari Kampung Sor di Biak Utara, hapir serupa. Seorang pemuda yang bernama Mandirai, punya kebiasaan menyadap nira kelapa (Saguer/Sageru), pada sua tu hari  nira yang disadapnya habis habis dimunum orang. Semua orang yang de tanya di kampung trada yang tau.

Mandirai lalu berjaga-jaga di bawah pohon kelapa. Pagi de cek, sageru su trada. Dia heran, sapa yang curi, sa ada jaga dekat pohon baru, masa bisa hilang. Malam kedua dibuatnya kaderen di tengah pohon kelapa lalu de jaga. Namun, hal yang sama terjadi, sageru habis ada yang minum. Da tamba penasaran sapa yang ambil, dorang lewat mana? Hari ketiga de ambil keputusan untuk sembuyi di antara pelepah kelapa. Saat hampir pagi de lihat Sampari pelan-pelan datang, lalu minum de pu saguer sampe habis. 

De langsung tangkap Sampari. Dong baku tahan sampe hampir pagi. Trus sampari de bilang "Ko kasi lepas sa suda". 

Tapi Mandirai tra mau, sampe Sampari de bilang "Ko minta apa suda, nanti sa kasi ko". Mandirai de minta dua hal; pertama di berikan kemampuan untuk menangkap Romun dan Inanai. Sampari pun mengiyakan permintaan Mandirai. Maka sampai sekarang, hingga saat ini orang Byak Utara punya keahlian untuk menangkap kedua ikan tersebut.

Sampari, muncul dalam kisah Manarmakeri dan Mandirai, dan saya, kisah yang takkan pernah usai dan usang, sampari selalu datang menjelang pagi. Tapi pagi hampir menjemput, sayang mendung menutup sampari, semoga besok sa bisa melihat sampari.

Bersambung sampe sa ketemu "sampari" lagi.

Pinggir kota, 240511;0351


Kamus Melayu Papua


Sa = Saya
Pu = Punya


Anana = Anak-anak

Brat = Berat

Byak = Biak
Dapa = Dapat
Deng = DenganDe = DiaDong = dorang = Mereka
Horden = Korden, Gorden
Inanai = Ikan terbang (Bahasa Biak)
Jalpot = Jalan potong, jalan pintas
Ka = Kata pelengkap, penegasKalo = KalauKaderen = Para-para
Kasi = Beri, Memberikan
Romun = Ikan hiu (Bahasa Biak)

Saguer/Sageru = Nira Kelapa, minuman lokal beralkohol jika disimpan beberapa hari

Tancap = Cepat, bergegas

Tek-tek = kejer-kejaran
Tong = Kitorang = kita
Trus  = Terus

Trada = Tidak ada
 





Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Posting Komentar