Saat Uskup Datang




Cerpen Topilus B. Tebai

Semua orang berbondong-bondong menuju gereja  Kristus Sahabat Kita Nabire. Uskup akan datang meresmikan gereja yang super mewah. Suasana sebuah keluarga di Kali Harapan pagi itu juga sangat ramai: semua sibuk mempersiapkan diri untuk ke gereja. 

“Uskup itu siapa?”

Si bungsu yang selalu ingin tahu tentang segala hal itu bertanya kepada ibunya saat badannya disabuni. 

“Dia itu pimpinan gereja. Ketua dari pastor-pastor di agama Katolik.”

Bungsu diam saja dan mengap-mengap saat beberapa mangkuk air mengguyur tubuhnya, dan begitu sabun sudah terbilas, ia segera menuju pintu masuk rumah, dimana handuk diletakkan, segera dia membenamkan diri dalamnya.

“Satu jam lagi misa mulai. Sudah beberapa bulan ini kamu tidak ke gereja.”

Suaminya yang dituju. Dia terus diam saja, terbenam dalam nikmat asap rokok dan kopi. Masih duduk di dekat tungku api. Sesekali membenamkan kembali beberapa ranting yang terbakar keluar dari tungku. Satu belanga ubi jalar terlihat semakin matang, merona kekuningan dalam air mendidih. 

Beberapa menit kemudian, si ayah segera memisahkan ubi rebus dari air panas. Memasukkan dua ikat daun ubi dan potongan-potongan ubi yang lebih kecil yang terkumpul di sudut dapur untuk makan ternak.

“Jangan ajari anak-anakmu pemalas. Mereka butuh pegangan untuk hidup. Ajak mereka ke gereja. Guru agama baru, tidak tahu malu.”

“Kamu saja dengan anak-anak ke gereja.”

“Kamu kenapa?”

“Saya baru saja masak makanan untuk ternak babi.”

“Itu bisa ditunda. Mereka tidak akan mati kalau ditunda makannya beberapa jam saja.” 

Si Ibu mulai memakaikan pakaian buat si bungsu, menunduk sebentar, menjepit ingus dengan ibu jari dan jari tunjuknya dari hidung si bungsu, membuangnya, dan membersihkan sisanya di rok hijau kehitaman yang dikenakannya.

Kedua puteri mereka yang tertua dan kedua, mereka sudah mandi, sedang berdandan. Beberapa menit lalu, mereka telah memperdengarkan pertengkaran memperebutkan bedak dan patahan cermin. Terpaksa si kakak mengalah, menggunakan kaset video DVD untuk melihat wajahnya, berharap tampil maksimal di gereja.

“Mama, siap sudah.”

“Saya ingin lihat uskup.”

“Nak, uskup juga manusia biasa. Dia seperti kita juga.”

“Saya ingin lihat uskup.”

“Ke gereja sudah. Apa kata orang-orang nanti. Sudah banyak yang tanya-tanya, kemana kamu, tidak muncul di gereja.”

Si Ayah diam saja. 

“Persoalan kalian di dalam gereja tidak harus ditanggapi dengan tidak ke gereja.”

“Saya bilang kalian pergi saja ke gereja. Tinggalkan saya disini.”

“Kenapa tidak ingin pergi?”

“Saya tidak setuju dengan cara-cara gereja!”

Si ibu segera masuk ke dalam rumah, mempersiapkan ketiga anaknya segala sesuatu untuk ke gereja. Masuk ke dapur, tanpa sepatah kata pun sama suaminya, mengambil beberapa ubi rebus, membawanya dalam piring ke rumah, menghidangkannya dengan tiga gelas teh hangat dan kacang rebus di sebuah piring yang bolong di bawahnya itu di atas meja kecil. 

Ketiga anak itu segera berdiri melingkari meja kecil, mengambil untuk masing-masing ubi satu buah, menggenggam kacang rebus dan memakannya. Sesekali mereka minum teh hangat. Si bungsu terlihat setengah menangis saat tidak mampu mengupas kulit kacang secepat kakak-kakanya. Si ibu segera duduk di sampingnya, mencubit pipi dan memberi senyuman dengan harapan buah hatinya tidak menangis. Mengupas beberapa dan memberikannya pada si bungsu.

Setelah makan, si ibu memberi si kakak uang sepuluh ribu rupiah.

“Bawa adik-adik. Sama-sama nanti ke sekolah minggu saja. Nanti uskup akan berikan berkat ke anak-anak saat komuni selesai.”

“Mama?”

“Saya akan menyusul. Cuci rendaman pakaian dulu.”

Segera rumah menjadi sunyi. Ketiga anak telah pergi, membuka pintu pagar depan, berdiri depan jalan. Sebentar kemudian sebuah taksi kuning datang dari arah Pasar Karang Tumaritis. Dia sedang menuju Pantai Nabire, terus menuju Oyehe, untuk kemudian balik lagi melalui Jalan Merdeka menuju Kios Panjang dan berakhir ke Pasar Karang kembali.

Si kakak menghentikan taksi, membantu si bungsu naik dan kemudian menutup pintu taksi usai dia duduk di samping kedua adiknya, berdesakan dengan para penumpang lainnya yang sama rapi: sama-sama ke gereja.

Sementara si ibu segera menyeret rendaman pakaian, menyikatnya untuk kemudian dibilas dengan air lagi.

“Apa yang tidak kau setujui dari gereja?”

Si Ibu tersenyum pada suaminya. Si suami menampilkan senyum juga di balik brewok yang menutupi wajahnya dan asap rokok yang kemudian mengepul. Kopi diseruputnya lagi. 

“Seperti yang saya tulis dalam buku yang diterbitkan kemarin itu. Saya tidak ingin gereja jadi sesuatu yang asing di tengah masyarakat. Di antara kita. Yang hanya kita lihat keberadaannya dari bangunan-bangunan tinggi dan besar seperti gereja gagah yang akan diresmikan hari ini. Saya benci itu semua. Benci karena gereja mengabaikan aspek kemanusiaan dan aspek konteks.”

“Kamu mengerti kalau saya tidak bisa mengerti begitu saja.”

Si Ayah tersenyum. Kekasihnya itu minta penjelasan lebih. Lalu dalam pikirannya, dia bingung harus mulai menjelaskannya dari mana. 

“Kepercayaan menurut agama Katolik yang kita ikuti ini adalah salah satu aliran teologi. Teologi itu adalah ilmu mengenai Tuhan: sebuah refleksi iman yang berangkat dari kitab suci, tradisi dan pengalaman kongkret akan Tuhan. Semua manusia yang mengimani Tuhan, misalnya, setiap kita dalam agama Katolik, sedang berteologi. Gereja, secara organisasi, mencoba mengarahkan komunitas umatnya untuk berefleksi berangkat dari kitab suci, tradisi dan pengalaman-pengalaman kongkret akan Tuhan itu, untuk semakin menemukan jalan kebenaran menuju surga, seperti yang kita imani.”

“Saya mengerti.”

“Bagaimana gereja berteologi, itu tidak mudah. Tidak mudah, khususnya bila kita berangkat dari sisi tradisi. Ada saatnya teologi atau refleksi yang terbentuk oleh orang tertentu dalam konteks tertentu akan terasa asing, tinggi, tiak cukup dapat konteksnya. Itu karena konteks setiap tempat, konteks masyarakat, konteks zaman, semua berbeda. Gereja perlu sebuah refleksi teologis yang dibentuk dengan konteks lokal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan reflekksi akan iman kepada Tuhan itu dari konteks kita hari ini, di tempat ini.”

“Lanjut, saya mengerti.”

Istrinya itu dilihatnya masih mendengar, walau pandangan dan matanya tertuju kepada tangannya yang sedang menyikat pakaian, membilasnya dengan air, dan memisahkannya dalam sebuah noken yang digantung di pagar di dekatnya. 
“Karena tidak mudah, gereja butuh metode, atau istilah tepatnya, gereja butuh cara untuk mendekatkan ajaran tentang Tuhan agar mendapat tempat karena sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan di tempat kita ini, saat ini. Secara umum ada empat metode. Ada metode teologi sistematika klasik, ada teologi filosofis, ada teologi politis dan teologi kontekstual. Selain yang di atas, secara ilmu, ada beberapa metode lagi. Macam metode transendental dari Rahner, lalu teologi yang diterapkan di amerika latin dan afrika. Semua itu adalah cara-cara berteologi yang bisa dicontoh.”

“Saya jadi kurang mengerti, langsung contoh saja,” tangannya terus menyikat pakaian.

“Sedikit pengantar sebelum ko pergi dengar kotbah uskup. Misalnya kalau menggunakan metode teologi politis, keprihatinan utama gereja adalah membawa perubahan secara nyata dalam masyarakat saat ini, di tempat ini. Jadi bukan bicara soal kerajaan Allah yang hanya akan dialami setelah seseorang mati, tapi fokus pada kebutuhan-kebutuhan manusia yang material, yang kongkret. Jadi kebutuhan rohani juga sama tingkatan pentingnya dengan kebutuhan jasmani. Dua-dua sebanding dan jadi perhatian bersama bila gereja gunakan metode teologi politis. Tidak mungkin saya misalnya, taati firman Tuhan: bagilah apa yang kau punya kepada orang yang kekurangan, sedang saya juga, bila berbagi, akan kekurangan. Dalam gereja, bila saya tidak berbagi, saya berdosa. Dalam metode teologi politis, yang rohani itu bukan fokus utama. Gereja akan ambil bagian dengan meningkatkan taraf hidup ekonomi kita agar setiap orang berkecukupan, sehingga tidak ada yang berkekurangan. Gereja hadir secara nyata, perhatikan sisi manusianya, saat ini, di tempat ini, sama fokusnya dengan ajaran tentang kerajaan surga yang akan kita alami setelah mati.”

“Terus. Sudah mengerti, dosen agama Katolik.”

“Stop main.”

“Hahahaha... Padahal tidak ke gereja. Kau tidak tahu malu.”

“Dengar dulu, ibu guru.”

Istrinya lalu bergegas berdiri dan sambil menjemur pakaian, dia dengar suaminya lanjut bicara lagi. 

“Lalu metode teologi kontekstual.  Disitu, gereja utamakan keprihatinanya atas prinsip-prinsip penafsiran. Artinya, penafsiran ajaran iman Kristen bisa dalam situasi lintas budaya, tapi tetap setia kepada Alkitab. Misalnya budaya kita. Gereja sangat peduli pada kebudayaan kita sebagai acuan teologi gereja dan apa artinya bagi keseluruhan pandangan dunia dan cara berpikir kita di sini salahsatu komunitas masyarakat. Gereja utamakan apa hubungan-hubungan antara pandangan Alkitab dan pandangan kita (dunia) tentang segala hal. Contoh: apa nilai-nilai luhur yang kita punya? Jangan mencuri, misalnya. Nilai itu begitu sakral dalam budaya kita. Gereja bertugas mencari penguatannya berlandaskan Alkitab. Sehingga kita sebagai masyarakat di sini, di tempat ini, semakin mampu mewujudkan kerajaan Allah itu, justru saat kita hidup di sini, bukan setelah mati nanti.”

“Tapi kalau begitu, aturan-aturan adat bisa mempengaruhi ajaran Alkitab.”

“Sebetulnya tidak begitu. Justru sebaliknya. Ajaran-ajaran adat mendapat penguatannya dalam agama Katolik. Sehingga adat berkembang dan dipertahankan, tetapi dengan begitu, ajaran-ajaran agama terlaksana sesuai maksud gereja.”

“Mengerti. Lanjut.”

“Berburu, ke kebun, pangkur sagu, menyanyi, menari, bikin busur, anak panah, dongeng dan cerita rakyat, beternak, mencari ikan, aturan mengenai yang dilakukan dan tidak dilakukan menurut adat, pembagian tanah adat, pandangan atas perkawinan dan upacara perkawinan menurut adat, makan pinang, pokoknya semua tentang kegiatan kita sehari-hari dalam konteks budaya ini, yang terlihat sepele, tidak penting, semua ini sebenarnya merupakan rangkaian pengalaman yang mendefinisikan bagaimana kita mengalami Allah sendiri.”

“Maksudnya, semua orang bisa mengalami Allah?”

“Sangat tepat istriku. Kita mengalamiNya dalam semua rutinitas kita di atas.”

“Istriku istriku istriku. Sa malas punya suami pamalas ke gereja.”

“Ssst, cerewett, sa bicara dulu. Allah tidak dialami hanya dengan ke gereja, doa, meditasi, litani dan lain-lain yang diajari gereja pada kita. Tapi dalam hidup sehari-hari dan dari pengalaman yang sepele seperti tadi pun, kita sebetulnya mengalami Tuhan. Setiap manusia, siapa pun dia, entah dia perpendidikan atau tidak, biarawan atau tidak, pakai koteka atau pakai baju, orang Jawa atau Papua, pastor atau kepala rumah tangga, semua memiliki potensi untuk mengalami rahmat Allah.”

“Ini metode teologi yang lain lagi kah?”

“Ini metode teologi transendental dari Rahner. Gereja sebenarnya bisa gunakan apa yang bagi kita masyarakat asli di tempat ini adalah hal-hal biasa ini, hal-hal yang sehari-hari ini, semua ini sebagai bahan pewartaan dan jalan atau pintu untuk masuk kepada injil.”

“Lanjut.”

“Sa kasih contoh ee. Kepercayaan kita aka relasi kita dengan tanah. Kita kan percaya, tanah adalah mama, yang memberi hidup. Tapi dalam situasi sekarang ini, di tempat ini, kita mengalami banyak soal dengan tanah. Pengambilalihan tanah untuk kepentingan kelapa sawit, untuk pertambangan, pengrusakan hutan dan pencemaran air di atas tanah-tanah adat kita.  Melalui teologi kontekstual, misalnya, gereja mestinya mengajak kita semua untuk mempertahankan tanah, dan merebut kembali tanah-tanah yang telah lepas kendali, sebagai tindakan memelihara kehidupan dan bentuk ungkapan syukur kepada Allah yang memberikan tanah untuk kehidupan kita di tempat ini.”

“Cocok jadi uskup.”

“Dengar dulu. Dan semua itu harus dikotbahkan, semua yang kontekstual itu. Direalisasikan dalam bentuk ret-ret, pendalaman iman, dan lain-lain. Dalam aksi menentang mengambilalihan tanah adat misalnya. Apa salahnya uskup turun jalan pimpin demo dengan umat-umatnya. Bukankah gembala yang baik akan merelakan nyawa bagi keselamatan domba-dombanya?” 

“Iyo, ko cocok jadi uskup.”

“Hahaha, ko pikir begitu? Bisa saja.”

“Su jadi bapa  baro. Tiga anak lagi.”

“Gara-gara ko. Siapa suruh datang ganggu saya di seminari.”

“Gara-gara ko sendiri. Siapa suruh mata keranjang.”

“Ayo kita ke gereja, mantan uskup.”

“Saya pikir-pikir saja dulu.”

Si istri segera mandi dan siap-siap. Suaminya segera memberi makan ternak babi, membersihkan dapur dan mematikan api di tungku api. Dilihatnya istrinya, telah pakai baju terbaik. Rambut keritinya dibiarkan terurai saja sebahu, dibelah dua bagai dibelah ombak. Tanpa lipstik, tanpa make up, cantik alami.

“Tunggu saya. Kita akan jalan bersama.”

Ia segera mandi, hanya cuci muka. Mengambil kaos berkerak yang biasa dipakainya saat mengajar di kampus, lalu segera bergegas menuju jalan. []



END


Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Topilus B. Tebai

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Posting Komentar