INFRASTRUKTUR?

Oleh; Prof Wim Poli

ADA yang mengeritik dan ada yang mendukung kebijakan pembangunan infrastruktur Presiden Jokowidodo di Papua. Masing-masing mempunyai pendapat yang seyogianya tidak dipertentangkan melainkan dikaji segi positifnya, dan segi negatifnya yang perlu diantisipasi, dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Tidak usah jauh-jauh ke Papua. Lihat saja, misalnya, pembangunan jalan Makassar-Malino di Sulawesi Selatan. Segi positif yang ditonjolkan, antara lain, ialah: menjadi pendeknya waktu tempuh Makassar-Malino akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Malino, yang berdampak positif pada pendapatan daerah. Negatifnya?

Perhatikan saja truk-truk besar yang mondar-mandiri, menggali batu di gunung, mengeruk pasir di sungai, yang merusak lingkungan dan menghancurkan jalan yang sudah dibangun dengan biaya yang mahal. Siapakah pemilik perusahaan? Siapakah pemberi izinnya? Belum lagi, kenaikan kunjungan wisatawan yang membawa sampah plastik ke mana-mana. Malino ada di depan mata. Berbagai organisasi memantau kehancuran lingkungannya, tanpa digubris. Bagaimana dengan Papua yang nun jauh di sana?

Keprihatinan ini bukannya ditanggapi dengan menghentikan pembangunan infrastruktur di Papua, melainkan apa yang harus menjadi paket pembangunan untuk mencegah kemungkinan negatif yang dapat terjadi. Misalnya saja: Ketika infrastruktur jalanan dibangun, perlu adanya pompa bensin, warung makan, dan sebagainya sepanjang jalan tersebut. Siapa yang akan mengisi kebutuhan ini? Apa dampaknya pada hubungan antara pendatang dengan penduduk setempat? Akankah ada Soto Papua di samping Soto Makassar di sana? Jika penduduk setempat harus ditingkatkan kemauan dan kemampuan usahanya, perlu adanya sekolah, perlu adanya pelatihan, perlu adanya guru, perlu adanya pelatih, perlu adanya … dan seterusnya. Segala sesuatu berhubungan dengan segala sesuatu.
Bingung? Einstein: “Kala tidak bingung itu tandanya Anda tidak berpikir.”

Renungan: Masyarakat adalah sistem yang rumit, hidup, dan beradaptasi terhadap perubahan, yang tidak dapat dipahami dan ditangani secara partial.

Prof Wim Poli, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Posting Komentar