Yang Telah Pergi - KO'SAPA

Yang Telah Pergi

Oleh; Filep Mambor
 
ilustrasi; waspadaonline
Berita itu tiba di rumahku pada pagi hari. Sungguh sangat terkejut ketika sepasang telinga ini mendengarnya. Terdiam sebentar lantas beragam hal muncul dalam diri tanpa bisa kucegah. Setelah berhasil mengembalikan ketenangan, dengan kabut duka yang pelahan-lahan menutupi hati, bertanya kepada si pembawa berita, “kapan?

Tadi malam!”

Kapan jenasahnya tiba?

Kemungkinan besar besok siang. Tadi kakaknya bilang begitu!” Kapan pemakaman?
Rencananya besok sore!Apa? Langsung dikuburkan?” “Begitulah yang tadi ku dengar!” Mengapa bisa begitu?
Entahlah! Tapi katanya kondisi mayat sangat rusak! Pihak rumah sakit di sana menyarankan agar
jenasah langsung dikebumikan!”

Ok, terima kasih, sudah datang memberitahuku!”

Tamu pagi itu ku antar hingga di pintu pagar halaman. Masih tak beranjak walaupun telah menghilang di kelokan jalan. Berita tadi benar-benar memukulku. Membuat diriku terasa berongga. Sekalian ingatan tentang dia yang telah pergi datang silih berganti. Sepasang mataku pelahan terasa memanas dan mulai basah. Separuh tenagaku pun ku rasa turut menghilang.

Terduduk lesu di ruang tamu. Belum memutuskan pergi melayat. Bukankah baru besok jenasah tiba di rumah duka? Apakah masih ada gunanya segudang kata-kata penghiburan kepada sebuah keluarga yang kehilangan seorang anak yang tengah menuntut ilmu di perantauan? Kehilangan seorang anak tentunya sangat menyakitkan perasaan orang tua. Terlebih lagi jika seorang anak itu dijadikan tumpuan harapan di masa tua nanti. Aku merasa kehilangan juga. Jika itu anak ku pasti bakal sama ceritanya dengan kedua orang tuanya.

Aku memiliki beberapa teman. Tak banyak memang. Tetapi hanya dia seorang yang paling sering datang berkunjung ke rumahku. Seorang teman ngobrol ngarol-ngidul di malam hari sembari menikmati seduhan kopi hitam.

Akhirnya dia pun benar-benar pergi tinggalkan kita semua, tingalkan dunia ini! Mengapa kau belum juga pergi ke rumahnya? Pergilah!” Istriku mulai bersuara. Ini kalimatnya yang pertama setelah membiarkan hening menggantung di ruang tamu ketika kabar tadi kusampaikan kepadanya.

“Lanjutkan saja pekerjaanmu!” Di saat seperti ini kesendirianlah yang teramat dibutuhkan.

Tanpa membalas ia pergi ke dapur. Tiba-tiba merasakan betapa ruang tamu rumah kami ini sangat lenggang. Seakan terlampu luas untuk memuat diriku. Perasaan ini kupikir di karenakan di ruang tamu tersimpan banyak ingatan tentangnya. Setidaknya, di ruang tamu ku banyak kali kami menghabiskan malam untuk membicarakan banyak hal serius. Sesekali ia selingi percakapan dengan berbagai humor yang entah ia pungut dari mana. Aku akan tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perut.

Dia seorang anak muda yang cerdas. Tak kuragukan lagi. Di bangku sekolah banyak prestasi yang berhasil ia cetak. Ramah dan humoris. Hingga berjam-jam berbicara dengannya tak membosankan. Ia termasuk anak muda yang memiliki banyak pengetahuan tentang negerinya sendiri. Terlebih lagi, dia juga seorang kutu buku yang bisa sangat kejam membunuhi waktu dengan membaca walaupun sering diumpat pemalas. Tak heran, dengan usianya yang sangat muda itu beserta darahnya yang juga dibilang muda, dia hidup dengan banyak mimpi. Didukung pengetahuannya yang luas yang ia dapatkan dari beragam buku yang sudah ia baca itu, pergaulannya dengan banyak orang, tidak mustahil di masa depan nanti dia bisa memberikan sumbangsih besar bagi negerinya ini, Tanah Papua. Kepergiannya, juga adalah kehilangan terbesar bagiku.

Delapan bulan yang silam, terakhir kami berjumpa. Dia berkunjung ke rumahku sekedar pamit untuk melanjutkan pendidikannya ke luar Papua. Ketika itu di sore hari yang sangat cerah. Awan-awan tipis berarak di atas langit sana,  dan mentari berwarna kemerahan.

Apakah di Papua tak ada fakultas yang sesuai cita-citamu? Berbasa-basi seperti ini toh tetap saja aku terlihat bodoh. Bukankah pada akhirnya orang tuanya beserta keluarganya lah yang membiayai dirinya? Siapakah aku?

Ia tak menjawab ketika itu. Tak mengerti apa penyebapnya hingga ia lebih banyak diam di sore itu. Ternyata itu adalah hari terakhir kami bertemu. Apakah ada semacam firasat dalam dirinya ketika itu? Pertanyaan ini tak pernah terjawab. Semenjak dia pergi, beberapa kali ia mengirim sms. Pesan- pesan pendeknya itu kubalas singkat saja. Memasuki bulan ke lima kami tak pernah saling kontak lagi walaupun di hape ku ada tersimpan nomornya. Kupikir semua akan berakhir baik-baik saja. Kenyataannya yang terjadi teramat sering justru berlainan, yang terjadi itu justru tak seperti yang dibayangkan. Sayang sekali.

Dahulu ketika masih seusianya juga seperti itu. Pernah berpikir bahwa pendidikan di luar Papua adalah yang terbaik. Aku habiskan beberapa tahun di luar Papua, namun pada akhirnya kembali ke Papua tanpa selembar kertas bertuliskan kata lulus. Aku mungkin bernasib mujur namun tidak dengannya. Ia pulang ke papua dalam keadaan terbujur kaku di dalam peti. Ini menyedihkan.

Aku jalani hidupku bersama sebentuk rasa malu. Rasa malu yang mesti ditanggung di hadapan keluarga sendiri dan setiap orang yang tahu jalan hidupku. Walaupun tak pernah mereka menyindirku lagi dengan kata-kata setelah sepuluh tahun berlalu semenjak kepulanganku, namun toh tetap saja terasa bahwa mereka tengah menyerang diriku dengan pandangan mata ketika aku berbicara soal pendidikan dan sumber daya manusia di atas Tanah Papua. Semoga ia tak seperti diriku, ketika itu aku berujar dalam hati di akhir perjumpaan kami dulu. Jiwa orang-orang muda harus dinyalakan, di atas pundak merekalah masa depan negeri ini.

Jogja itu kota yang asri. Sebuah kota yang ramah bagi pejalan kaki. Juga ramah bagi pengguna sepeda ontel! ujarku sambil mengenang-ngenang masa laluku di kota Jogja dulu. Aku tak ingat lagi apa yang kami bicarakan setelah itu, ingatanku lebih banyak berada di kota Jogjakarta.

Kau belum pergi juga? Pergilah, tunjukan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan! Itu jauh lebih berguna ketimbang kau berada di sini membiarkan dirimu dipermainkan perasaanmu sendiri! Aku ikut! kembali suara istriku terdengar lantang menghentak diriku. Ia masuk ke kamar untuk mengganti baju.

Bangkit dari duduk, membuat langkah kecil ke kamar, sementara di benakku kembali mengiang- ngiang apa yang tadi dikatakan tamuku itu: Yang aneh, dan ini juga sangat ganjil, ternyata motor yang digunakan ketika ditemukan tak ada kerusakan parah sebagaimana halnya terjadi dalam sebuah tabrakan maut. Hal kedua yang juga aneh, dua orang polisi datang ke asrama memberitahu untuk mengenali jenasah seorang anak Papua di ruang mayat. Dokter mengatakan penyebap kematian akibat pukulan benda tumpul di bagian belakang kepala. Ini yang mengakibatkan pendarahan hebat di otak. Berbeda dengan keterangan polisi yang menginformasikan almarhum korban tabrak lari.  Jika benar dia tabrakan, yang aneh mayatnya ditemukan penduduk tergeletak di atas kuburan seakan-akan ada yang menaruhnya di sana! Tak jauh dari motor yang malam itu ia gunakan untuk membeli makan!”

Dalam perjalanan menuju rumah duka, satu jalan pikiran muncul di benak. Barangkali itu disebapkan perasaan kehilangan mendalam bercampur apa yang tadi dikatakan tamuku.

Bahkan di rumah sendiri pun kita tak pernah merasa aman, apalagi berada di luar rumah. Memang kita beda. Perbedaan ini tak pernah membuat kita menjadi bagian dari mereka!. Mungkin aku sangat mengada-ada dengan pikiran ini, namun kematian anak muda itu, dengan beragam kejanggalannya setidaknya mengisyaratkan bahwa mencurigai sesuatu berdasarkan rumor yang beredar ialah sesuatu yang wajar dilakukan untuk sementara ini.

Pada akhirnya, dia itu, anak muda yang pernah dekat denganku, dia benar-benar telah pergi meninggalkan dunia ini. Ia pergi tanpa sempat meraih cita-citanya. Ia pergi sebelum berhasil meraih sebentuk impian terindah yang pernah ada dalam hidupnya. Ia ingin jadi seorang ahli lingkungan hidup. Sebagai seorang yang dilahirkan dan beragama tentu hanya bisa mendoakan dirinya tenang di alam sana.


Manokwari, 02-11-2017




Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Post a Comment