Natal yang Indah

Oleh; Dharma Somba
 
Ilustrasi; archive kaskus
Kubanting semua perabotan di ruang depan, toples kue dan gelas-gelas bekas minuman berserakan di lantai. " Rio, ada apa," teriak mama dari dapur. Saya tidak mau menyahut. Sekali lagi kubanting asbak rokok yang tersisa di meja. "Rio, ada apa sib, kok jadinya kacau begini," kata Mama yang sudah berdiri di depan saya.

Saya langsung keluar rumah "Rio mau ke mana. Huh '" apa maunya ini anak, kerjanya hanya marah-marah terus," sungut Mama sambil membereskan lantai yang kotor dari pecahan-pecahan gelas dan toples.

Saya terus berjalan menyusuri trotoar. Saya kesal mengapa Mama nggak membelikan sepeda sebagai hadiah natal padahal sangat saya butuhkan. Mama malah membelikan sepasang sepatu.

"Untuk apa sepatu ini. Rio sudah punya sepatu. Yang saya sangat butuhkan saat ini sepeda Ma!.... sepeda." Aku membanting sepatu yang dibelikan Mama. "Kalau Rio punya sepeda, kan tidak diantar papa ke sekolah, Rio bisa jalan sendiri, dan juga kalau disuruh Mama belanja kan lebih cepat," sahutku kesal.

Sejak kejadian itu saya tidak betah di rumah. Pulang sekolah saya langsung meluncur jalan-jalan dengan ternan-ternan yang punya sepeda.

"Rio, mama pikir saat ini sepeda belum menjadi kebutuhan utamamu. Kan kalau ke sekolah diantar papa, atau kalau tidak bisa nm taksi. Banyak resikonya kalau naik sepeda ke sekolah," kata mama bijak berusaha memberikan pemahaman. Dalam benak saya hanya sepeda.

Dan ketika Mama dan Papa tanya mau dibelikan apa untuk hadiah natal, saya bilang sepeda. "Apa nggak bisa ditawar permintaannya Rio," kata Papa sewaktu makan malam bersama. ''Ah tidak Pa, Rio ingin sepeda," kataku tegas sambil berdiri meninggalkan meja makan.

"Saya kesal di rumah. Marna nggak belikan sepeda sebagai hadiah natal, Mama malah belikan sepatu. Padahal sepatu saya kan masih bagus," kataku
pada Mateas. Mateas adalah sahabatku. Kami sarna-sama kelas 1 SMP. Umur kami juga sama 12 tahun. Sejak kecil kami bersahabat, karena rumah kami bertetangga.

Mateas meskipun seusia denganku, namun pikirannya sudah matang. Kalau saya punya masalah dengan Mama dan Papa saya selal menceritakannya pada Mateas. "Mungkin Marnamu pikir, karnu belum boleh punya sepeda. Mamamu khawatir kalau punya sepeda, karnu hanya keluyuran saja. Lagi pula kendaraan di Jayapura ini semakin banyak saja" kata Mat sambil membersihkan rumput dia hampir tidak punya waktu bermain seperti dulu. Sepulang sekolah ada-ada saja yang dikerjakan. Seperti membantu ayahnya menanam sayuran untuk dijual di pasar. Atau membantu ibunya memarut kelapa untuk membuat kue yang dijual di samping rumahnya. Atau mengganti mamanya jualan.

Meskipun demikian Mat terrnasuk pintar di sekolah. Karena sikapnya itulah membuat saya senang kepadanya.

"Mat, kalau kamu apa yang dibelikan Mamamu sebagai hadiah natal, "Mat tersenyum sambil tangannya terus mencabuti rumput. ''Aduh! Saya ngga bisa minta apa-apa. Mana bisa Mama membelikan hadiah untuk saya. Untuk makan setiap hari saja, rasanya susah," kata Mateas tersenyum. "Maaf Mat, saya ngga bermaksud apa-apa." kataku. Saya merasa bersalah menanyakan hal itu pada Mat. "Nggak apa-apa," kata Mat tetap tersenyum.

Setibanya di rumah saya langsung mengunci diri dalam kamar. Berkali-kali Mama dan Papa mengetuk pintu, tetapi saya tidak bergeming. Mama dan Papa sangat menyayangi saya, karena saya anak tunggalnya.

''Rio buka pintu dong. Papa menunggu di ruang makan," kata Mama pelan. Saya dengan malas berdiri dan membuka pinto, tempi kembali ke tempat tidur.

Mama dengan penuh kesabatan membujuk untuk mau makan bersama. Akhimya saya luluh juga, " begitu dong masa jagoan mendekam saja dalam kamar," rayu Papa dan Mama mengantarku duduk. Makan tidak seperti biasanya.

Saya yang sering banyak bercerita tentang ternan-ternan di sekolah, apa yang saya alami sepanjang hari, kini banyak diam dan bisu. Papa dan Mama memahami hal itu, sehingga keduanya juga diam.

Kami banyak saling memandang saja. "Rio," Papa membuka pembicaraan. "Bukannya Papa dan Mama tidak sanggup membelikan Rio sepeda, tetapi Papa dan Mama memikirkan akibatnya kemudian."

"Rio masih kecil, lagi pula kendaraan di jalan raya semakin banyak, salah sedikit saja bisa mencelakakan," papar Papa panj ang lebar.

"Papa dan Mama lihat sebaiknya Rio dibelikan sepatu saja. Mama lihat Rio juga senang ganti-ganti sepatu, jadi akhirn ya pilihan jatuh ke sepatu," kata Mama menambahkan uraian Papa. Saya hanya terdiam tidak mengiyakan dan juga tidak membantah.

Malam itu saya tidak bisa tidur. Di lain pihak saya menginginkan sepeda, dilain pihak Papa dan Mama melatang. Kalau dipikir-pikir betul juga kata Papa dan Mama. Sepeda bukanlah kebutuhan utama saya saat ini. Tetapi dipihak lain, saya ingin betsepeda dengan teman-teman menyusuri jalan-jalan utama di kota Jayapura. Rasanya bangga sekali kalau bisa bersepeda dengan teman-teman. Akhirnya malam itu saya tertidur dengan kebimbangan.

"Pagi, Mat," sapaku pada Mat yang berdiri di pintu kelas. "Pagi juga," balasnya sambil menyusulku ke dalam lalu kami duduk siap menerima pelajaran hari itu. Di sekolah saya banyak diam merenungi masalah yang saya hadapi.

"Rio, kamu kok tidak seceria biasanya," sapa Mat, saat menunggu jemputan Papa usai sekolah. "Ah! Mat tidak apa-apa. Cuma bingung saja," ujarku memandang ke bawah, dan tiba-tiba mataku menyambar kaki Mat dengan sepatunya yang robek. "Mat, kenapa sepatu, kamu" kataku kaget sepatu kain Mat yang sudah robek-robek.

"He... he... anu Rio, kemarin malam sepatu saya di luar, lupa dimasukkan ke dalam rumah. Ketika saya bangun saya dapati sepatu saya sudah jadi begini,
he... he.. .lucu kan?," kata Mat polos.

"Lucu bagaimana," kataku heran melihat Mat yang merasa lucu atas kejadian yang dialaminya. "Lucunya, karena sepatu saya yang punya model lain di sekolah ini," kata Mat tetap tertawa. "Ah! Kamu ini. Yuk berangkat, itu Papa
sudah datang."

"Ma.. sepatu baru Rio mana," teriakku begitu membuka pintu. Mama yang sedang menyiapkan malum siang jadi tersentak. "Ada apa Rio," tanya Mama heran. "la, sepatu baru Rio mana," kataku meletakkan tas di atas meja makan. Mama masih heran.

"Mama kok begitu sih, ditanya malah bengong," kataku kesal sambil menyambar tas lalu masuk di rumah. "Rio, Mama simpan di kamar Mama. Ntar yah Mama ambilkan," kata Mama menuju kamarnya mengambil sepatu. Papa juga heran mendengar saya menanyakari sepatu. "Jadi Rio sudah mau pakai sepatu itu dan tidak minta sepeda lagi," tanya Papa saat semuanya berkumpul di meja makan untuk makan siang. Saya masih diam. "Ia mama jadi heran. Tapi Mama senang, karena Rio mengerti perasaan Mama dan Papa, ia kan Rio," kata Mama sambil mengusap kepala saya.

Saya rasakan begitu lembutnya belaian Mama, dan begitu bahagianya Mama melihat perubahan sikap saya. Saya masih tetap diam. "Suasana makan siang jadi ramai. Papa lebih banyak bereerita ten tang kesibukan rekan-rekannya di kantor, apalagi kesibukan ibu-ibu menghadapi natal.

Selesai makan saya langsung menyambar sepatu yang saya pakai sehari-hari lalu berlari ke rumah Mat. "Mat" teriakku. Mendengar  teriakanku ibu Mat lalu membuka pintu. "Eh Rio, tunggu sebentar yah, Mat sedang memarut kelapa di belakang."  

Tidak lama Mat muncul. "Ada apa Rio," tanya Mat. "Eh, Mat jangan marah ya! Tapi sebelumnyasaya minta maaf kalau Mat tersinggung. Saya bawakan sepatu buat Mat, biar sepatu robeknya nggak dipakai lagi," kataku setengah bergmau sambil menyodorkan bungkusan. Mat lalu menyambut dan membukanya. "Makasih Rio, kamu memang sahabat yang baik," kata Mat sambil mendekap sepatu bekas yang kuberiakan.

Sambil bersiul-siul kecil saya masuk ke dalam rumah, dan langsung duduk di samping Papa yang sedang membaca koran. Papa jadi heran sambil menurunkan kacamata minusnya melihat saya senyum-senyum. Mama yang sedang membakar kue menengadahkan mukanya memandang saya. "Rio ada apa, kok jadi lain. Ma, sepertinya sungai yang dibelakang rumah yang keruh selama ini sudah jernih airnya ya," kata Papa menggodaku.

"Ah Papa bisa saja," kataku sambil memeluk pinggang Papa. Mama yang berada di ruang tengah pergi ke ruang tamu mendekati saya dan Papa. "Papa, Mama, Rio jadi senang dan gembira sekali karena bisa membagi hadiah di hani natal ini. Rio memberi Mat hadiah sepatu, karena sepatu Mat robek digigit anjing. Kasihan Mat ya Pa, Ma. Mamanya kan tidak bisa memberikan hadiah natal. Rio jadi kasihan. Rio langsung ingat hadiah sepatu dari Mama. Jadi Rio pikir lebih baik sepatu Rio yang masih bagus diberikan pada Mat, ia kan Ma, pa," kataku antusias. Papa dan Mama mendengarkan dengan seksama.

"Pa, Ma. Rio nggak minta sepeda lagi. Rio rasanya nggak adil. Karena sudah dibelikan hadiah tapi malah dibanting. Sementara Mat teman Rio ingin dapat hadiah tetapi nggak punya. Dan sepatunya yang robek digigit anjing masih juga dipakai," kataku tanpa henti.

"Ya! Siapa dulu dong bapaknya," sambut Papa sambil menepuk dada. "Ah! Papa nggak mau dikalah saja!" kata Mama cemberut. Sore itu tawa riang dan canda kembali pecah dalam rumah. Tiba-tiba. "Hei..... ada yang hangus," kata Papa. "Oh, ia kue saya," kata Mama sambil berlari ke ruang tengah. " Ha... aaa," saya dan Papa te rtawa meliliat Mama yang terbirit­birit membuka open. Ah ... kabut yang menyelubungi suasana natal telah berlalu. Natal kini menjadi indah. 


Cenderawasih Pos. Sabtu, 23 Desember 1995
 
 
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Posting Komentar