Dia dan mimpinya

Oleh: Timoteus Rosario Marten

Ilustrasi; tempo.co

Pukulan memberondong di tubuh setengah baya. Raganya lelah. Wajah jadi lebam. Darah bercampur peluh. Dunia berwarna hitam setelah mata jadi biru. 

Erangan demi erangan memenuhi sebuah sudut di bibir pantai Pulau Kosong. Ketika itu matahari hendak menuju ke peraduannya. Bahkan cahaya merah maron tak berhasil melukis senyum pada Dia yang berdiri merenung tunduk pasrah. Hanya menanti angin darat yang meniup ke lautan. 

Ini adalah adegan perkenalan dari drama air mata si Dia sebelum dikerangkeng.
Sebenarnya Dia tak tahu apa-apa. Apalagi soal pengibaran bendera terlarang yang dituduhkan penguasa kepadanya. Hanya kebetulan ketika itu ia pulang dari kebun bersama anjing-anjingnya. 

Dia berperawakan tegap. Matanya seperti elang yang siap mencakar mangsa. Menyala. 

Namun, tutur katanya lembut. Santun dan meyakinkan. Membahas tentang apa saja, Dia adalah ensiklopedia berjalan. 

Dirinya punya selera tawa. Rasa sosial dan kepekaan ada padanya. 

Tetapi kesemua itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika sebuah ruangan setinggi dua meter dan lebar dua meter, dan beramis tengik menjadi rumah baru Dia.

Pascaperistiwa senja itu, hingga saat ini namanya menjadi topik perbincangan pemuda-pemuda desa, orang tua dan anak-anak. 

Anak-anak yang tak mengetahui perawakannya ibarat meyakini realitas tak terlihat. Dunia ide. Kenapa? Dia sudah sepuluh tahun di bui.

“Hmmm, adakah sesuatu yang baik dari tempat ini?” Inisius penghuni bui, kawannya memulai obrolan ringan dengan Dia.

 “Aku merindukan sanak keluargaku,” jawabnya dengan tatapan nanar. 

“Kita kok tiba-tiba di sini, ya?” Inisius bertanya lagi.

“Aku hampir melupakan kepedihan yang dilalui,” jawab Dia dengan kalem.

“Teman, menuduh tanpa bukti, apakah berdosa?” tanya Inisius memancing rasa keingintahuan Dia.

“Tergantung suara hati, teman!”

 “Suara hati tak pernah berbohong. Tapi bisa saja ia tumpul.”

Sedang mereka mengobrol, angin bertiup melalui celah jeruji besi. Belaiannya tak hiraukan dua teteman ini. 

Biasan kemuning pun malu-malu melewati lubang kecil. Sampai-sampai cahaya jelas tertatap oleh karena debu ruangan. Salah satu sifat koloid adalah menghamburkan cahaya. Dan itu terjadi di sini, ruangan mini ini.

“Bagaimana kalau obrolan kita lanjutkan ketika matahari terbit?”Pinta Inisius.

Dia diam seribu bahasa. Matanya menatap kosong. Menerawang jauh di atas cakrawala.

Sedangkan putaran jarum jam tak mau diajak kompromi lagi. Lagi, gulita memenuhi bumi. Nyamuk pun menari ria. Mengisap darah di raga penggumpal harapan. 

“Bangun, cepat!!” 

Dari pojok ruangan sesak suara petugas menggema. Hari baru datang lagi. Matahari bersandar manja di bukit kembar paling timur. Muara segala kehidupan.

“Dia, tugasmu hari ini memperbaiki instalasi listrik!” Perintah si petugas. 

“Baik, Pak!” Jawabnya tenang.

“Setelah itu menghafal lagu kebangsaan negara kita. Ini perintah!!!”

“Harus kah itu dinyanyikan, Pak?”

Brakkkk! Tangan petugas mendarat lagi pada pipi mulus yang mulai menimbulkan garis-garis harapan pada senjakala.

 Di sini, bertanya seakan melawan. Dan karena itu, dijawab tamparan sekuat raga.

“Kau bilang apa? Kebebasan berbicara dibatasi. Kalian cuma punya satu hak, hak bernapas!” bentak si petugas. 

“Ada apa, Pak?” Tiba-tiba suara Inisius terdengar dari ujung ruangan. 

“Ah, kau. Lanjutkan tugasmu. Bersihkan halaman kompleks lembaga!”

****

Dalam sekejap Inisius pun menghilang dari pandangan mata. Suasana kembali normal. Selang beberapa menit lagi ia muncul dan berdialog dengan teman setianya ini.

“Kawan, apa komitmenmu setelah keluar dari tempat ini?” Tanya Dia.

“Perubahan adalah dambaan umat manusia.”

“Ya, begitulah. Komitmen itu perkara konsistensi.”

“Heiiii, kalian tak bisa mengobrol sebebasnya!!” Teriak si petugas lagi sembari mengarahkan telunjuknya. 

Inisius dan Dia membaur lagi. Inti pembicaraan mereka belum ditemukan. Terhalang petugas garang yang meradang. 

Waktu berlalu...

Dia dan Inisius akan dibebaskan bulan Desember. Ini masih bulan Juli. Juli yang membikin mata juling. Tapi toh dia harus memenuhi persyaratannya!!

Sementara itu, sepenggal informasi tertempel di dinding ruang tamu dengan pintu menghadap lorong-lorong tengik. Setiap pengunjung dan pejabat dari ibu kota membacanya ketika bertandang ke tempat ini. 

Dua napi akan dibebaskan bulan depan.

Tertulis judul berita pada salah satu koran lokal. Dia mengelipingnya. Menyimpan rapat-rapat di dada. Membenam di kepala. 

Penghuni Pulau Kosong segera mengetahui kabar tersebut. Di ujung cerita ternyata ada harapan. Dibarengi iman dan kasih. 

“Kawan, bumi ini indah. Luas. Tapi kita di neraka,” kata Inisius sambil memicingkan matanya mengintip langit-langit yang ceria dibalut awan tipis.

“Ya, seluas itulah isi kepala kita,” jawab Dia datar. 

“O, ya! Gimana komitmenmu jika kelak di luar jeruji?”

“Aku....”

“Hmmm, andai angin mengantarkan jeritan pendamba surga.”

Lalu ia diam lagi. Di jeruji ia lebih banyak diam. Diamnya isyarat yang ambigu. Bisa jadi juga trik diplomasi. Diplomasi diam. 

Begitu rumit karakter Dia dipahami manusia-manusia berpengetahuan awam. Bolak-balik buku psikologi eneagram bahkan tak membuat Inisius paham.

****

Hari berganti hari, keajaiban seakan menghampiri. Penantian adalah masa, dimana pandangan tentang waktu dan ruang sangat subjektif. Tak ada yang mutlak. Tak ada definisi baku. Begitu pula tentang hidup yang dijalani dua sahabat ini.

Dia dan Inisius adalah dua dari ribuan makhluk Pulau Kosong. Mereka tak berdaya melawan dunia yang begitu kejam. Hanya terbersit komitmen, kelak manusia harus sama seperti elang. Bersama melintasi dunia nyata. 

Tapi kini, masih di sini. Di dalam jeruji kicauan-kicauan dan ciutan penantang nyali seakan adalah suara abadi. 

Petugas berseragam memberi aba-aba. Ribuan penghuni bui berbaris rapi bagai kawanan domba. Sebentar lagi halaman tengah dijejali ribuan manusia. 

Sidang terbuka tanpa hakim menyambut desahan napas penyemangat jiwa. Satu per satu para napi membacakan komitmen selepas penjara. Tibalah giliran Dia membacakan komitmennya. 

Salam sejahtera teman-teman!” 

Ribuan tepukan tangan seperti pekikan menggemakan harapan. Mentari menguning. Pendamba kebaikan bernapaskan doa. 

Pekikan memenuhi tempat ini. Sebentar-sebentar diam. Tapi tatapan mata berkaca-kaca. Di pelupuk matanya ada asa. 

Sosok Dia begitu berkilau seperti Martin Luther King Jr. semasa perjuangan ras kulit hitam di negara adidaya, Amerika Serikat.

Kini tibalah saatnya lagu kebangsaan negara dinyanyikan. Dia diam seribu tanya. Membenam kisah kelam. Ada apa gerangan? 

Tapi denyut nadinya teratur. Menanti babak baru di luar sana. 

Hadirin dan kawan-kawan!

Puluhan tahun aku bernapas bersama jeruji dan kawat-kawat karat. Tapi aku tak sekarat. Aku terkadang bertanya, apakah ini yang disebut neraka yang nyata? Tidak! Di ujung cerita kita pasti ada gita terindah. 

Semua hening lagi...

Kemudian aku pun tahu, aku dijerat undang-undang melawan penguasa. Tiga puluh tahun sudah jalan itu kulalui bersama air keruh dan santapan nasihat bejat. Aku bertanya: kapankah kisah ini bertepi bersama tawa?

Aku memang tak bersalah tapi aku dinyatakan bersalah. Lalu kenapa aku di sini dan kini berdiri di podium ini? 

Ini demi sebuah alasan. Kita berhak mencari alasan itu. Enduslah dia, selami... Dan kau akan memahaminya.

Lalu...

“Cukup. Ini provokasi basi!!”

Teriakan seorang petugas yang mengangkat senjata laras panjang menjeda pembacaan komitmen. 

“Tidak apa-apa. Lanjutkan!” Perintah pimpinan penjara dari tribun tenggara penghuni lembaga. 

Dia melanjutkan lagi. Derai-derai rindu terpancar di wajahnya, yang semakin menua. Bacaan dilanjutkan. 

Ini semacam membaca pledoi ketika Sang Mesias diadili di hadapan Pilatus hingga akhirnya dibunuh bangsanya sendiri. 

Jangan takut bermimpi. Dan nyatakanlah! Aku punya mimpi, suatu saat kita kuat. Bersatulah dan jangan bercerai-berat. Jika ragamu dibekuk, jangan dengan mimpimu!

Suatu saat yang entah, aku akan membawa pulau ini ke babak baru penuh sukacita. Kata kuncinya, hukum yang adil. Hukum nurani. Bukan hukum manusia durjana dan lintah darat. 

Semua hukum di bawah kolong langit ini hasil olahan pendapat, kepentingan dan sedikit dibumbui suara hati. Ada rasa subjektivitas. Alih-alih suara hati, ternyata untuk suara penguasa dan komplotannya. 

Semua diam. Tercenung. Kata-kata ini seakan mencekik leher. Menukik dan menusuk hingga ke lubuk hati. Membahana hingga ke langit-langit pikiran. Memancing angkara murka. Semacam jelmaan Sang Juru Selamat manusia penjara.

Dunia penjara pun berubah jadi lautan kebahagiaan. Angin berhembus pelan. Dia turun dari podium. Mengeja langkah yang tepat dan berdetak cepat. Bagai sedang baris-berbaris. 

Tak sampai di antara massa, anak semata wayangnya Salverio menghampiri Dia. Secekat kilat menghampiri. Disambut sorak-sorai ribuan manusia. Adegan dua insan ini memancing empati. Di sini emosi diuji. Renungan dijelma dalam derai-derai air mata haru.

****

Dua tahun sudah. Dia diantar waktu yang menjeda pada pesta demokrasi. Ia semakin yakin memantapkan langkah menjadi presiden Pulau Kosong dengan basis satu pulau.

Lalu...

Bapak Dia menjadi presiden setelah mengungguli sejumlah suara hingga ujung pulau. Ia memerintah dengan bijak. Bukan malah memanfaatkan momen balas dendam, atau mencari tumbal. Hanya untuk melanjutkan estafet Sang Guru dari Nazareth. 

Pulau Kosong dipenuhi riuhan sukacita. Bagaumana tidak, Dia memeirntah dengan azas-azas perdamaian. Tanpa hukum rimba. Hanya hukum adat. Tanpa antipati. Hanya simpati dan empati. 

“Ini tanah kita, Nak. Namanya Pulau Kosong. Ceritanya panjang. Orang asing datang dan mengira kita tak pernah ada. Tapi....”

Pesan ini membuat Salverio merunduk tunduk dan merenung. Anak semata wayang ini tepekur. 

Lonceng gereja berdentang. Mereka pun menuju gereja untuk merayakan Natal. Malam natal ada hadiah yang spesifik bagi dua insan yang merindukan kedamaian dan keteduhan selepas puluhan tahun berpisah. Ini juga menjadi hadiah bagi Salverio yang beranjak remaja menuju bangku sekolah menengah atas. 

Gelap lalu menjelma menjadi terang di kaki langit. Sedangkan Inisius melanjutkan pekerjaannya sebagai pematung. (*)

Jayapura, awal Januari 2017
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Posting Komentar