Yang Penting Ada

Oleh; Ibiroma Wamla*
 
Ilustrasi; huffingtonpost.com
“Sa bahagia, yang penting ko ada dekat sa tooo” begitu kata pace satu yang “kapsul” lagi lemon mace satu. Tapi ada juga yang bahagia kalo makan “buah sombong” macam sa pu teman Yunus. Kalo trada buah sombong de bisa pusing tujuh keliling, baru cepat tensi.

Pernah satu kali tong sengaja Yuma. Kitong sembunyi buah sombong dari pace dia, adoooo, de gelisah sampe, tiga kali bolak balik cek. De lihat tong ada makan, tapi de cek di meja, trada apa-apa. Pagi baru tong tertawa cerita ke dia, malam tong sengaja sembunyi buah sombong dari pace dia. Hahaaaaaaaa, de mo ganas ka, mo tertawa ka, tra jadi.

Buah sombong ini nama latinnya Areca catechu, Dee orang Moi (Salawaiti dan Sorong) dong bilang (Dee; pinang, Urum; sirih, Valas; kapur), kalo orang Byak bilang Ropum (Ropum; pinang, Inan; sirih, Afer; kapur), atau kata orang Inggris betel palm, betel nut tree, dalam Bahasa Indonesia dong bilang sirih, pinang, kapur.

Konon buah pinang asalnya dari Afrika, tetapi entah bagaimana, pinang menyebar hingga ke seantro bumi. Di beberapa wilayah di Indonesia pinang bahkan menjadi bagian dari ritual adat.

Kabarnya di Riau pinang menjadi salah satu tanaman yang di budidaya untuk di eksport, dalam sebulan Riau bisa mengeksport berton-ton pinang. Kagunaannya banyak, sebagai bahan obat, bahan baku untuk membuat lipstik dan cet dll.

Sa pu teman Tino de bilang, pinang itu macam emas, harganya bisa melambung dan tidak pernah turun, trus de bikin hitungan deng rumus matematika. Memang harga pinang kalo sampe di daerah pengunungan, harganya jangan di tanya. Dua buah bisa Rp. 10.000, lima buah Rp. 20.000.

Sekitar 12 famili Aracea dengan beragam bentuk, mulai dari yang kecil hingga yang sebesar bola pimpong, dari yang warna hijau tua hingga kekuningan. Pinang di Papua hingga saat ini masih dikonsumsi, kadang di buat hiasan untuk acara nikah atau acara lainnya.

foto; flickr.com
Mengkonsumsi pinang juga jadi masalah, bukan saat mengunyah pinang, tetapi masalahnya ludah. Maka di kantor-kantor, bandara di pasang peringatan “Dilarang Makan Pinang”. Kitorang yang tukang makan pinang protes, akhirnya di sediakalah tempat ludah pinang. Masa dong larang makan pinang, itu macam dong suru kam jalan telanjang badan tra pake baju.

Sekarang orang makan pinang takaruan, sembarang buang ludah. Dulu tidak, kalau makan pinang, ada tempat ludah, atau kalau ludah tangan di tarus disisi mulut baru meludah. Tapi begitu suda, jaman instan jadi.

Ada juga yang mati makan pingang trus panjat orang pu pinang, yang punya marah, tapi yang panjat santai-santai saja, macam trada masalah. Wuyuuuuh dunia seeeh. Yang lain keringat, yang lain datang makan untung.

Pinang juga jadi gambaran resistensi mama-mama kaki Papua dalam membangun ekonomi keluarga. Mama Emy yang dulu jualan di depan taman Imbi bilang, “setiap hari dengan modal Rp. 200.000, dia bisa untung Rp. 200.000 – 300.000. Itu yang sa bawa pulang, tidak hitung modal, karena modal su kembali.”

“Ya pokoknya ada” kata mama Yokbet yang jualan di depan SAGA (bukan Sarang Gadis). Satu hoki pinang bagus di pasar yang sa ambil antara Rp. 60.000 - 70.000, sa bisa untung Rp. 150.000 – 200.000. Kalo piang lagi mahal, sa ambil tawar-tawar bisa dapat Rp. 150.000, tapi bisar mahal kualitas bagus, tong jual tra rugi, sa bisa bawa pulang Rp. 400.000, itu su untung.

Yang penting ada, sa bisa kasi sekolah sa pu anak. Skarang sa pu anak ada masuk SMA trus yang de pu kaka masuk Uncen, untuk sa ada jual pinang jadi sa pu anak dong bisa sekolah. Serita mama Yokbet sambil tertawa.

Selamat Menikmati kopi, itu hanya cerita-cerita tafiaro, kabualan-kabualan buat temani kukis dan sagu bakar.

Kapsul; Kepala Sulo = pembohong
Tensi; Suka Emosi

*Ibiroma Wamla; pelajar adat dan kebudayaan Papua


Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Posting Komentar