Jalan lain ke rumah


Oleh Timoteus Rosario Marten

Doc. Kompasiana.com
“Apa pendapatmu tentang kematian?”
“Saya tak bisa berpendapat. Intinya itu kehidupan manusia fana!”
“Tapi secara spesifik bagaimana?”
 “Seandainya imanmu tak goyah...!!!”

Potongan dialog pembuka percakapan ini semacam teman perjalanan pulang antara Aku dan Natalia suatu petang. Ketika itu riuhan Jayapura tak kami hiraukan.

Kami pulang jalan kaki selepas menonton konser band Black Brothers. Jaraknya hanya selangkah saja dari kompleks perumahan kami. Maka kami memilih berjalan kaki.

Dialog kami makin ke sini ketika menyentuh persoalan serius. Persahabatan, cinta dan kematian. Diselingi gurauan dan mop Papua. Sesekali tawa berlomba ria dengan desingan mobil dan motor di tepi jalan.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Ayam-ayam mulai kembali ke sangkarnya. Sementara bulan tak tampak di langit.

Belum sampai lima ratus meter, dengan langkah yang mantap, Natalia berubah tingkah. Raut mukanya seperti menyimpan cemas.

Ia melihat-lihat di sekitar rumah penduduk. Napas panjang. Entah siapa yang disasar.

Hamparan tanah merah berdebu dan rumah-rumah warga tampak jelas ketika lampu-lampu rumah bersinar terang. Natalia menengok ke kiri dan kanan. Aku makin penasaran.

“Kawan sorry ee. Saya menunggu teman angkatan semasa SMA. Nanti dia mengantarku pulang.”

Begitu ujar Natalia dari balik bibir merah jambu sembari menggulingkan lengan kemejanya. Bibir yang merona memikat jiwa yang merdeka.

“O, ya santai. Tak masalah,” jawabku sekenanya.

Duarrttt!!! Duarrr!!!

Tiba-tiba bunyi motor dari arah belakang menghampiri kami. Pria jangkung berkaos hitam dan celana pendek bersaku empat muncul.

Siapa gerangan? Aku tak menaruh curiga atau prasangka. Sebab Aku harus memaklumi bahwa Natalia adalah gadis polos, lugu dan tidak dungu. Ia adalah perwujudan “pribadi yang lain” bagiku.

“Oh, rupanya ini pria yang disebut Natalia teman angkatan!” Aku membatin.

Aku lantas membuang senyuman padanya. Kerlingan mata tertuju pada aura sahaja di balik cahaya petang.

Aku melempar pandangan seakan tak mengetahui hubungan keduanya. Sementara dua makhluk ini beradu pandang. Terbaca dari mimik ramah masing-masing. Memang demikian adanya.

“Kawan, kamu ojek saja. Sorry ya,” kata si pria tadi sembari merogohkan saku celananya dan mendekatiku.

Sedianya dia menanyakan kepada Natalia ihwal pertemanan kami. Entahlah soal yang lain. Tapi lazimnya bila dua pria bertemu bersamaan dengan seorang perempuan, yang satunya memperkenalkan diri. Pun sebaliknya. Atau Natalia yang memperkenalkan Aku ke dia. Masalah selesai.

Sejurus kemudian...

“Berapa ojek, Bu?” tanyanya kepada seorang ibu paruh baya penjual minyak tanah di tepi Jalan Ahmad Yani.

“Biasa, to. Lima belas ribu,” jawab ibu tesebut dengan ramah sambil berkedip-kedip dan mengangkat kedua alisnya.

Rupanya itu bahasa kode. Tapi Aku tak menghiraukannya. Pikiranku terusik oleh pertanyaan retoris. Semacam sikap skeptis dan rasa ingin tahu tatkala suatu ketika Aku melakukan kerja jurnalistik.

Meski kini Aku beralih profesi menjadi penulis lepas dan ghost writer, dan Natalia sebagai guru, toh naluri jurnalistik masih melekat dan begitu dekat tatkala membaca drama ini.

Pria jangkung misterius itu lalu memberiku ongkos ojek. Aku tak berkutik. Tapi tetap mendelik.

Sorry, kawan!” ujarnya melempar seutas senyuman.

Aku pun menerima uang pemberiannya. Namun uang itu hanya beberapa lembar saja. Sepertinya hanya dua lembar uang kertas dua ribu rupiah.

Sementara Natalia sahabatku membisu. Seakan dihipnotis malam. Ia berdiri mematung. Sorotan matanya laksana elang laut yang menyimpan kalut.

Mengenakan kem kotak-kotak dipadukan dengan celana levis abu-abu membuat perempuan ranum itu tampak macho. Indahnya ciptaanmu, Tuhan!

Aku tak habis pikir. Natalia tak pernah bercerita sebelumnya. Padahal semalam aku bersamanya ke pasar malam. Seperti biasa kami pulang berduaan. Sesekali bermesraan dan bertukar gagasan. Hingga pulang dinihari menuju rumahku. Malam jadi milik kami pada satu atap tanpa sekamar.

Meski dari balik gaunnya yang menampakkan lukisan mahasempurna karya pelukis Yang Abadi, hati dan pikiranku tetap berfungsi. Mereka pasti sudah...

Tidak! Aku mengerti batas kewajaran pertemanan. Suara hati terus menggema di jiwa pengembara nusa tenggara.

Pria jangkung itu lanjut men-starter motorya. Asap membumbung menghambur dan bercampur debu. Disertai suara knalpot yang dimodifikasi bagai motor pembalap.

“Lia, Lia, sabar dulu!!

Aku mencegahnya. Bukan bermaksud menahan agar dirinya berhenti berjalan. Toh waktu terus berjalan. Itu pilihannya. Dan semua pilihan mempunyai risiko.

“Ada apa, Roy?”
“Kalian sudah cerai, kan?"
“Hushh!! Mungkin terbawa mimpi, ya?”
“Aku cuma memastikan saja, Lia. Aku tak mau menjadi saksi di meja hijau kelak."
"Apa pedulimu?"
"Tak lebih sebagai sahabat!"
"Ah, ini duniaku dan bukan pilihanmu."
"Baiklah, tapi..."
"Tapi apa?"
 "Aku tahu Mendra suamimu saban hari menjemputmu di tempat kerja.”
"It is not your business," katanya dengan bahasa Inggris dialek kampung.

Lalu ia tertunduk malu-malu. Diam tanpa kata. Tapi memendam aneka persoalan. Seperti Bunda Maria ketika menerima kabar dari malaikat Gabriel dan menyimpan semua perkara dalam hatinya.

Aku kemudian berjalan pelan. Kuusap keringatku karena lelah berjalan lima puluh meter menikmati panorama Jayapura City.

Ah, lupakan saja pria asing ini. Toh tak menambah wawasan dan teoriku tentang psikologi kepribadian.

Yang ada di pikiranku cuma Natalia, Natalia dan Natalia. Namanya adalah napas dan pikiranku.

Perempuan ini agak rewel. Tapi menurutku ia komunikatif, cerdas dan punya wawasan terbuka. Ia kerap membagikan pengalamanya. Namun malam ini tak pernah sedikit pun yang ia ceritakan sebagaimana mestinya.

Sepuluh tahun Aku mengenal penyuka warna cokelat ini. Begitu pula Aku dikenalnya sebagai sahabat dan penghibur kala merana.

Seiring berjalannya waktu, ia berubah tingkah. Biasanya jika punya masalah ia kerap meminta pendapatku. Tapi tidak untuk malam ini. Jayapura jadi saksi.

Begitulah manusia. Waktu terus berubah dan manusia pun tak mau ketinggalan. Tapi cerita yang tercerai-berai ‘kan tetap abadi.

Kudekatkan diri padanya. Kutempelkan telinganya di dekatku. Seerat ikatan tali kasih.  

“Sebenarnya Aku juga mencintaimu, Lia!”

“Hah?”

Lalu ia menunduk haru. Tapi berat mengeluarkan senyuman. Sepenggal kalimatku seolah bagai humor khas yang muncul secara spontan.

Ia mendesah. Aku bisa menghitung desahan napasnya yang tak karuan. Berada di antara dua pilihan dalam situasi yang tak menguntungkan adalah perkara yang susah-susah mudah.

***
Sekejap mereka menghilang. Suasana berubah menjadi tiga ratus enam puluh derajat. Ombak pantai Kupang tak lelah menghantam cadas. Buih-buihnya menghempas jejak kaki kami.

Segelas kopi panas kuteguk. Penuh dalam. Bunyi bibirku yang menempel di mulut cangkir memecahkan keheningan kedai kopi Tante Monika.

Seteguk demi seteguk kuseruput. Dalam tradisi kami ihwal meminum kopi, menyeruput jangan terlalu kebut. Maka maknanya akan menyata.

Kuambil koran malam. Berita siang dari pojok kota tua, kedai milik Tante Monika. Kubaca perlahan-lahan. Ada tanya juga.

Kolom metro kota menyajikan berita yang sebenarnya lumrah di Kota Jayapura. Soal perceraian.

Pengadilan Agama menangani kasus-kasus perceraian sepanjang tahun 2017, sekitar seratus delapan puluh kasus banyaknya. Ini lumrah di kota dengan heterogenitas dan kesibukannya yang menggila.

Tapi ...

“Ada apa, Anak muda?” tanya si ibu pemilik warung kopi.
“Tidak ada masalah, Bu!” sahutku setengah menelan ludah.  

Lagi Aku membuka situs berita lokal. Kubaca perlahan-lahan dan penuh hati-hati.

“Perempuan dua anak yang diketahui bernama Natalia tewas dilindas dump truck bersama lelaki paruh baya di kawasan Taman Mesran.” Tulis situs ini pada teras beritanya.

“Ah, Aku tak percaya. Ini hoax, berita bohong.”

Semakin kubaca, semakin benar informasinya, ketika beberapa menit yang lalu tertulis berita kecelakaan bukan tunggal.
“Natalia!!!” Natalia!!”
“Ada apa, Anak?” tanya Tante Monika lagi.

Ia kaget setengah mati. Apalagi Aku.

“Ceritanya bagaimana, Roy?” Tanya Mendra setengah napas panjang dan berlari kecil ke arahku.

Oh Tuhan, Aku tak melihat Mendra dan dua anaknya, Mawar dan Eddoz yang muncul bagai penampakan cahaya kemilau.

“Aku baru datang mengeceknya, Kawan!”
“Sebelum meninggal kamu bersama dia?”
“Tiga puluh menit yang lalu!”
“Siapa yang memboncengi dia?”
“Bosnya!”
“Hah, apa?”

Sontak Mendra mengayunkan tangan gempalnya untuk menjotosku. Tapi dengan cekatan juga Aku mengendalikan diri dan emosiku. Tangan tak jadi mendarat. Meleset.

Mama, Mama, Mama!!! Dua anak Natalia histeris. Teriakannya menjadi-jadi ketika semakin yakin bahwa perempuan naas yang terbujur kaku adalah ibu mereka.

Tiba-tiba kerumunan warga mengelilingi sepasang kekasih gelap ini. Tatapan bingungnya fokus pada sosok kaku dan lemah. Aku mencium kaki Natalia sebagai penghormatan terakhir.  Ia berpelukan dalam kaku dengan pria idaman lain itu.

Sementara ban mobil truk pengangkut kayu dari perbatasan menggilas ganas. Ban mobil tak hiraukan pelukan dua sejoli yang terjerat cinta sesaat tersebut. Cinta terbagi adalah kawan maut.

Lalu rombongan polisi kota berdatangan melakukan olah tempat kejadian perkara. Mata Mawar, Eddoz dan Mendra mendadak sembab. Linangan air mata tak tertahankan dari tiga anggota keluarga ini (*)


@Jayapura, 26 Mei 2017

Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Pace Ko' Sapa

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.
Posting Komentar