Memperkenalkan Bahasa Amungkal - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Memperkenalkan Bahasa Amungkal

Oleh Marianus Ogolmagai, Irinus Balinol dan dong pu teman-teman.
Laki-laki Amungme dengan pakaian kebesarannya. credit: pininterest
Pengantar:
Amole. Suku Amungme telah terkenal di mana-mana, bukan hanya di Papua Barat, tapi juga Indonesia bahkan dunia. Suku Amungme adalah pemilik tanah dan gunung Newangkawi yang kini menjadi salah tempat penambangan tembaga dan emas terbesar di dunia. Namun demikian, sedikit orang yang berminat belajar tentang kebudayaan suku manusia utama ini. Bahkan, berbagai kekuatan berusaha menghancurkan kebudayaan suku Amungme, melalui berbagai cara, seperti uang, kekuasaan, perang, dan lain sebagainya. Setau z, hanya ada dua buku yang ditulis tentang suku ini oleh orang Papua sendiri. Yang pertama adalah buah karya Bapa Arnold Mampioper yang waktu itu pernah menjadi bestuur di Kokonao pada masa kekuasaan Belanda. Beliau menulis buku berjudul “Amungme, Manusia Utama dari Nemangkawi, Pegunungan Carstensz” (2000). Buku ini macam bersifat etnografis sekaligus laporan seorang pegawai pemerintah mengenai perkembangan komunitas yang dilayaninya. Buku kedua ditulis oleh intelektual Amungme sendiri, yakni Bapa Thom Beanal berjudul "Amungme, Magaborat Negel Jombei Peibei". Buku ini merupakan salah satu buku terbaik tentang kebudayaan Amungme sebelum tambang masuk. 

Bahasa Amungkal dipakai oleh pembicara Amungme (sekitar 18 ribu pembicara) dan memiliki sedikit perbedaan dengan bahasa Damal. Oleh Ethnologue, organisasi yang mendokumentasikan bahasa-bahasa di dunia, bahasa Amungkal disebut bahasa Damal dan masuk dalam filum Trans-New Guinea. Bagi Ethnologue, Amungkal adalah salah satu dialek bahasa Damal. Oleh karena itu, banyak kata Damal memiliki arti dan pengucapan yang sama dengan bahasa Amung (sebenarnya mereka 'hanya' dipisahkan gunung tinggi yang sekarang di sebut Puncak Cartensz). Soal tata bahasa, sepertinya belum ada satu pun buku yang menulis tentang tata bahasa Amungkal (semoga segera ada). Namun karena ia satu filum dengan bahasa-bahasa pegunungan yang lain, seperti bahasa Mee dan Lani, maka kemungkinan besar tata bahasa Amungkal juga sama dengan bahasa-bahasa ini. 

Perkenalan pertama dengan bahasa Amungkal berikut ini akan dimulai dari leksikon (daftar kata-kata) yang disusun oleh adik-adik Amungme sendiri, murid-murid kelas 4, 5, dan 6 di sebuah sekolah di Timika yang diketuai oleh Marianus Ogolmagai dan Irinus Balinol. Redaksi sastra papua berterimakasih dan sangat menghargai inisiatif adik-adik di sana. Amole!


Mama Yosepha Alomang, seorang pejuang Papua Barat adalah orang Amungme. credit: Goldman Environmental Foundation

Salam:

amole: salam (tunggal)
amolongo: salam (jamak)

amunamun/tedup: selamat pagi

aie: terima kasih

ao/hao: mari
awongo: mari


Pronouns/Kata Ganti Orang:
ao: kamu
nan: kakak laki-laki
nao: saya 
nap: dia
napap: paman
kewein: nenek
keweme: kakek
naao: kakak perempuan
nal: anak laki-laki
nein: istri
nemeng: anak perempuan
nemening: teman-teman
nengel: adik perempuan
nenong kamoak: kita semua
nerek: bapak
neru: kita dua (berdua)
ni : tante
nigak: adik laki-laki
noin: suami
noug: tante
nung au: mereka dua (mereka berdua)
nung/nup/nug: mereka

Kata Benda:
agawek/oragam: gelang
amare/anure: papeda/sagu
ameka: sagu
awolom: pisau
boe: babi
bogomang:ular
buk: gunung
degao: singkong
dingorang: bintang
elo: tebu
em: pohon
emagam: jambu air
emangkop: hutan
emogol: daun
emworewin: tebang pohon
erom: ubi
erom nogol: daun ubi
he: kapak
imulang: perempuan muda
in : perempuan 
inomon: rumah
ip: tanah
itoi: honai/rumah laki-laki
jagamte: tempat lain/asal
jalawe: kasuari
jogon: buaya
kae: kayu/pohon
kain: kelapa gunung/hutan
kal: kata
kela: batu
kelo: pisang
kelo: hujan
kelo nogol: daun pisang
koma: pesawat
kua kabu: labu siam
mae: kutu
mangkam: rotan
me: orang
mealang: laki-laki muda
mekam: burung kakatua
menaga: tikus
misim: anjing
moo: keladi
nagapilu: labu siam
nago truk: kuku
nago/nagao: tangan
naling/otolop: anak-anak
namok: hidung
namukung: perut
namurok: pipi
nasok: bulu
nei: rumah
neik: gigi
nelo: telinga
neme: teman
nemening: teman-teman
nenar: lidah
nenyar: kampung
nenyomon: rumah
nimingip: bibir
ninaok: kepala
ningatok: rambut
nok: kaki
noktiruk: kuku kaki
nongop: mata
nontok: kura-kura
nora: mulut
nungkung: leher
ogolal: buku

oh : airolam: ludah

olem: burung  

olemnei: sarang burung

oraga: kebun/ladang

orbam: jerat

otar: rumput
pinang: pinang
soonki: kanguru
tandok/koteka: koteka
tona: pepaya
tung: ketimun
ul: matahari
wi newel :noken

Kata Kerja:
agiwin/diwin: ambil
amkajogowin: membakar rumput
ampate: membersihkan debu/kotoran
amtagawin: buka kebun
bawin/etawin: bakar
buagan nowin: makan bakar batu
deie: suka
eworpuguwin: cabut rumput
misim narin: berburu
more: datang
nenye: pergi, pulang
oret: makan
otarpuguwin: potong rumput
tenye: pulang/pergi

Kata Sifat:
alim kolom: subur sekali
iging: dingin
nawu: panas
sokoma: cepat

Lain-lain:
amun ikali ngamo: jangan marah
awongo ore raga pilano: mari kita pergi ke kebun
dep ikali ngamo: jangan malas/tidak mau
eango: iya
et: dan
mo amak ple: saya mau keladi
oh rolaia mo: saya mau minum

oredeye: saya mau sayuran
tere/tewe: siapa

tumayenge: mengapa

Print Friendly and PDF

Tentang : Veronika Kusumaryati

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: