Roots, Kisah Pedih Perbudakan Amerika di Abad ke-18 - KO'SAPA

Jangan Lupa!

Ketika anda memakai cenderawasih, ingatlah bahwa yang anda pakai itu adalah bangkai dari Cenderawasih yang tersisa dan hampir punah. Semoga kita yang bangga dengan Cenderwasih, bukan orang buta huruf.

Roots, Kisah Pedih Perbudakan Amerika di Abad ke-18

Oleh; Rahma Wulandari
blogs.indiewire.com

Perbudakan masih ditemukan di era modern, terutama di dunia industri. Menurut catatan Badan Perburuhan Internasional PBB (ILO), setiap tahunnya, perbudakan buruh industri menghasilkan pendapatan sekitar 150miliar dolar Amerika. Di Indonesia, tahun 2013 lalu, kasus perbudakan buruh pabrik kuali di Tangerang sempat menjadi sorotan. Siapa mengira, benda-benda yang kita gunakan sehari-hari ternyata diproduksi oleh buruh yang mendapat perlakuan tidak manusiawi.

Dari era ke era, sineas dunia terus mengangkat isu perbudakan. Mungkin Anda pernah menonton 12 Years of Slave, kisah Solomon Northup, sosok terpelajar dari Afrika yang ditipu dan dijual menjadi budak ke Amerika. Kisah serupa tentang kepahitan hidup budak hadir kembali di layar kaca lewat miniseri Roots di kanal History Asia. Cerita berpusat pada perjalanan hidup pemuda Afrika, Kunta Kinte yang terjebak dalam rantai perbudakan dan dibawa ke Amerika Serikat.

Kunta, putra sulung dari keluarga Kinte yang terhormat merupakan sosok prajurit Mandinka terlatih dan disiapkan untuk menjadi bagian dari kavaleri kerajaan. Ia juga terpelajar, jago matematika, sastra, geografi dan bermimpi ingin ke kuliah dan menjadi ilmuwan. Cinta mengubah nasib Kunta. Ia jatuh cinta pada seorang budak yang dimiliki oleh keluarga Koros, musuh keluarga Mandinka. Setelah ia lulus tes prajurit, ia dikhianati oleh keluarga Koros dan dijual ke pedagang budak.

Di usia 17 tahun, bersama 140 budak lainnya, Kunta dikirim dengan kapal kargo ke Amerika pada tahun 1767. Ia bertahan dalam penyiksaan mengerikan dan begitu tiba di Annapolis, Maryland, ia dijual ke pemilik perkebunan yang kaya, John Waller. Ia dinamai Toby oleh istri Waller. Fiddler, musikus di perkebunan itu membantunya bertahan dalam perbudakan.

 Miniseri Roots pertama kali tayang di layar kaca pada tahun 1977. Naskahnya diadaptasi dari novel karya Alex Haley yang menelusuri sejarah keluarganya sendiri. Kisah itu merekam sejarah 120 tahun perjuangan tiap generasi di Afrika untuk bebas dari perbudakan. Saat itu, warga Amerika masih belum terlalu peduli pada detail-detail soal perbudakan, sehingga kisah ini dianggap banyak mengubah persepsi umum warga Amerika tentang sejarah mereka. Roots mendapat 37 nominasi Emmy Award dan memenangi 9 di antaranya, serta meraih penghargaan Golden Globe dan Peabody Award.

Hingga saat ini, miniseri ini masih tercatat sebagai miniseri ketiga yang terbanyak ditonton sepanjang masa. Profesor Dexter Gabriel, pengajar studi tentang perbudakan dalam film di George Mason University menyebutkan Roots (1977) menampilkan versi perbudakan di kelas menengah. “Pengalaman perbudakan ini nyaris diubah menjadi kisah tentang imigran agar cocok menjadi tontonan warga Amerika.”

Bagaimana dengan miniseri Roots baru yang akan tayang mulai 31 Mei ini di History Asia? Sederet nama bintang Hollywood peraih penghargaan bergengsi menjadi pemeran karakter penting di miniseri. Ada Forest Whitaker (Fiddler), Anna Paquin (Nancy Holt), Anika Noni Rose (Kizzy), Jonathan Rhys Meyers (Tom Lea), dan Laurence Fishburne (Alex Haley).

Berikut 6 fakta menarik tentang miniseri Roots yang akan menambah alasan untuk Anda menontonnya.
 
  1. Tak mudah mencari pemeran utama Kunta Kinte. Setelah mencari di lebih dari 15 kota di Afrika, Eropa, dan Amerika Utara, produser Roots, Will Packer dan LeVar Burton menemukan sosok aktor muda Malachi Kirby. Peran ini dimainkan oleh LeVar Burton lebih dari 40 tahun lalu saat miniseri ini pertama kali tayang.
  2. Enam kuda dilatih khusus untuk berbagai adegan yang ada di miniseri ini dan dibawa dari Cape Town ke Kwa Zulu Natal.
  3. Sesi kostum juga tak kalah repot. Untuk menampilkan busana budak di abad ke-18, ada lebih dari 21ribu kostum yang disewa dan 950 kostum di antaranya dibuat khusus di Thailand dari bahan goni, perca dan serat kasar.
  4. Sebagian besar aksesori yang digunakan diproduksi di Afrika Selatan dan Maroko, termasuk 250 tas kulit yang dijahit dengan tangan, ikat pinggang, dan kalung.
  5. Lokasi syuting Roots tersebar di 28 tempat di Afrika Selatan dan mengajak warga setempat menjadi bagian dari miniseri ini.
  6. Produksinya juga melibatkan 10 sejarawan dan 2 ahli tentang Mandinka, juga beberapa konsultan musik asal Afrika. Salah satunya Kadialy Koutate, pemain alat musik Kora yang juga memerankan karakter Griot.

Sumber; http://www.femina.co.id
Print Friendly and PDF

Tentang : Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.

0 comments: