== Tokok Sagu == - KO'SAPA

== Tokok Sagu ==


By; Ibiroma Wamla

Malam semakin merapat ke jam kecil, di luar semakin sepi. Tetapi tidak untuk hewan malam, serangga semakin keras mendendangkan mantranya. Kelelawar asyik mengunyah gyawas, di dahan sukun.

Saya belum bisa memejamkan mata, asyik memperhatikan bapa yang sedang memperbaiki penokok sagu. “Anak ko pigi tidur sudah! Pagi-pagi sekali kitong akan pergi ke dusun sagu, sudah ada sagu yang harus kitong tebang, kalau lambat nanti dia berbunga, kitong tra bisa tebang.”

Dengan berat hati saya menuju kamar, sa langsung taruh badan di tempat tidur yang terbuat buat dari kayu matoa. Saya bayangkan ayiknya mengikuti bapa pergi ke dusun sagu, itu perjalanan yang sangat menyenangkan di hari libur sekolah.

“Manus, bangun, ko ikut pigi tokok sagu ka tidak?” suara Mama yang nyaring membangunkan saya. Dengan sekali lopat saya tiba di pintu dan hampir menabrak Mama. Mama kaget menatap saya yang berdiri di depannya.

“Ahh ko bikin kaget Mama, macam ko mo latihan kung fu saja!”

“Jii, Mama juga pangil keras-keras bikin sa kaget saja, sa pikir ada apa ka?” saya jawab asal-asalan saja sambil membersihkan popoi di mata.

“Yo sudah, pigi mandi, ada keladi bakar di tungku tuh, ko makan baru isi yang lainnya di tas!”

“Iyo Mama, dengan gerakan kilat sa menuju kamar mandi, air yang dingin dan segar tambah bikin mata menyala!”

Kartapel sudah tergantung dengan manis di dada, “Bapa mari sa bawa penokok!” saya meminta penokok yang di pegang Bapa sambil mengikutinya dari belakang. Setelah menutup pintu Mama mengejar langkah kitong yang sudah sampai di mata jalan.

Kitorang berjalan beriringan, sesekali melempar sapa dan senyum untuk tetangga yang kitong lewati. Sampai di pinggir kampung, Bapa menyuruh Mama berjalan paling di depan saya lalu Bapa di belakang. Begitulah tong pu kebiasaan kalau berjalan di hutan, Bapa akan mengawasi perjalanan tong yang di depan, bila ada bahaya dia dengan tangkas akan maju untuk menghadapinya.

Kitorang melewati beberapa kelokan hutan dan sungai kecil, lalu mulai masuk ke dusun sagu yang luas. Bapa memerintahkan torang belok ke arah kanan, tempat pohon sagu yang akan di tebang.

Sampai di bawah pohon sagu, Bapa mulai membersihkan rumput yang tinggi di sekitar pogon sagu. Dengan kapak mengkilat yang dia asah kemarin, Bapa mulai menghantam pohon sagu. “Kam pindah dari situ, Bapa meminta tong pindah dari arah jatuhnya pohon sagu.

Wuuuuh…. Buuuuk, pohon sagu tiba di tanah. Burung-burung berhenti bernyanyi dan dengan takut mereka terbang menjauh. Setelah sisi-sisi sagu di bersihkan, Bapa mulai membelah pohon sagu menjadi dua. Bapa mulai menokok, dan Mama mengambil lalu mengumpul serbuk sagu itu.

Saya melepas kartapel dari leher dan mengeluarkan batu dalam noken kecil yang di buat Mama, saya mencari sasaran tembak, kadang kayu, kadang buah-buah kecil di pohon yang saya tembak.

“Manus, jangan pigi jauh-jauh!” teriak Mama melihat saya berjalan ke arah semak yang lebat.
“Iyo, Mama, saya menghentikan langkan dan kembali.”

Bapa sambil menokok, sesekali tangannya mengusir nyamuk menyerang, “Kam bikin api dulu nyamuk banyak sekali ni!”

Setelah api menyala, asapnya mampu mengurangi nyamuk yang kelaparan.

Alaram sudah berbunyi, Bapa juga sudah hampir selesai menokok. Mama mulai menyimpan peralatan. Setelah semua selesai kitorang jalan pulang.

Kitorang tidak mengikuti jalan yang tong lewat waktu menuju ke dusun sagu, kitorang lewat jalan potong, untuk lebih cepat dengan dua tumpuk sagu yang di pikul Bapa dan Mama, untuk di peras di dekat rumah.

Sagu yang lainnya Bapa bilang simpan di sini dulu nanti di peras, setalah itu baru bawa pulang. Pati sagu yang di peras menjadi keras dan siap di masukan dalam tumang untuk di bawa pulang.

Tiba dirumah, semua barang tong taruh di dapur, mama kasi menyala api baru de bilang “Kam pigi duduk di depan suda, nanti sa bikin the baru bawa ke situ.”

Sa dengan Bapa ke depan duduk sondor di para-para, tra tunngu lama Mama datang bawa teh. Minum teh sore memang menyegarkan. Tapi cape bikin tong tidur tempo.

Pagi ini macam sunyi skali, sa keluar dari kamar, Mama ada duduk di ruang tengah. “Mama, bapa di mana?”

“Bapa masih tidur, Bapa demam!”

“Bapa kenapa? Tratau, pagi Mama kasi banguna Bapa, tapi de bilang, de rasa demam.”

Adooh, ini kenapa lagi. Saya sedih, kalo Bapa sakit, tong pu rumah macam sepi. “Manus, ko di rumah ee, jang kemana-mana. Mama pigi ke tanta seblah tanya daun obat dulu.”

“Iyo, Mama”

Tak lama berselang, Mama datang dengan dedaunan di tangannya, Mama langsung menuju dapur dan mulai merebus dedaunan itu. Setelah didinginkan, Mama membawa air rebusan dedaunan itu untuk Bapa minum.

Hampir seminggu suda Bapa sakit, ia hanya bertahan dengan air rebusan dedaunan yang direbus Mama. Om dengan Tanta dong bilang, Bapa sakit, karena lewat jalpot waktu pulang dari dusun sagu. Di jalpot itu mamang ada pohon besar yang daunnya sarat skali, dong bilang di situ ada yang jaga.

Memang orang di kampung lebih suka jelan memutar, mereka selalu menghindari jalan potong itu. Tatapi hari itu Bapa memilih untuk melewati jalan itu.

“Manus, ko bikin apa duduk pikiran melayang di situ, sini masuk makan keladi ni.”

“Trada Mama, sa ada bayangkan pohon besar di jalpot yang Tanta dong bilang bikin Bapa sakit tuh.”
“Apa? Ko tra usah pikir macam-macam itu bukan gara-gara pohon!”

“Iyo, Mama sebentar sore ada petugas dong putar film di dekat kantor kesehatan, sa mo pigi nonton, boleh ka?”

“Sapa yang bilang? Film apa?”

“Tadi sa duduk di depan baru Bingga dong lewat, dong yang bilang ada pemutaran film, tapi tratau film apa.”

“Ko pigi nonton, tapi setelah itu harus cepat pulang eeee”

“Trimakasih Mama, aseeeek”

Burung-burung bangau menghiasi langit jingga, mereka dari Barat menuju ke arah Timur. Seharian mereka mencari makan di Barat.

Sa siap-siap tunggu Bingga baru tong jalan sama-sama.

“Manus, Manus, wooi, tong jalan”

“Yoo, tunggu!”

Sa cepat-cepat keluar dan bergabung dengan Bingga dan rombongan. Kitorang bergegas menuju kantor kesehatan. Di depan kantor sudah banyak orang kampung berkumpul, sebuah layar di pasang di dinding kantor.

Anana kecil bikin rame, ada yang main kejar-kejaran, orang tua sibuk menenangkan mereka, “Anana kalo kam tra duduk tenang, lebih baik kam pulang sudah!”

Anak-anak mulai tenang dan petugas mulai memutar film.

Seorang laki-laki, memegang parang dan berjalan, ia membawa sebuah noken. Seekor anjing mengikutinya. Ia dan anjingnya berjalan sampai di kebun. Dengan parang yang tajam itu, ia membersihkan kebunnya dari rumput-rumput liar.

Tengah hari ia istirahat di bawah pohon di sudut kebun, dari dalam noken di keluarkannya keladi bakar. Ia menikmati keladi bakar itu. Bebetapa patahan keladi di berikan pada anjingnya. Sesekali tangannya menepuk betis, atau badannya. Setelah keladinya habis, ia berdiri dan mengamati sekeliling kebun. Ia puas, semua rumput liar sudah ia bersihkan. Ia pun berjalan pulang ke kampung.

Kesokan harinya laki-laki itu sakit, hingga beberapa minggu, lalu datanglah petugas ke kampung itu dan memberikan obat pada laki-laki yang sakit itu. Ia sembuh. Film selesai.

“Besok pagi, masyarakat jangan ke kebun sampai kami datang, kami akan memeriksa kesehatan di sini, kalau ada yang sakit langsung bawa ke depan kantor.” Kata petugas yang berdiri di samping alat pemutar film.

“Bisa ka?” Tanya petugas itu.

“Bisaaaa” koor pun membelah malam.

“Baik, sekarang kalian boleh pulang”

Kitorang berhamburan seperti lebah yang keluar dari sarang karena di ganggu.

Di depan rumah sa lambaikan tangan ke Bingga dan teman-teman yang lain “Daaa kamorang”

“Yooo, daaa, sampe besok” dong serempak jawab.

Derit pintu, membangunkan Mama yang tidur ayam, “Film su selesai?”

“Sudah Mama”

“Filmnya bagus ka? Cerita tentang apa?”

“Bagus Mama, tentang paitua satu de ke kebun, de pulang de sakit, trus ada petugas datang kasi obat baru de sembuh. Besok ada petugas datang, dong bilang bawa orang sakit ke depan kantor, nanti dong periksa.”

“Ohh, kalo begitu besok tong bawa Bapa kesitu”

Sa hanya menganguk saja, “Mama sa pigi tidur dulu.”

“Yoo, ko tra makan?”

“Trada, tadi Bingga dong ada bawa sagu bakar jadi tong makan rame-rame.”

“Oooh, iyoo pigi tidur suda, tapi cuci kaki, cuci tangan dulu.”

Sa langsung menuju kamar mandi, setelah kaki dan tangan bersih sa langsung menuju kamar.
Pagi sekali sa bangun, ke pinggir tungku kasi hangat badan. Mama su bangun, dia su masak air. “Ko mo minum teh? Air masin panas”

“Iya,” sa jawab sambil bergerak ambil gelas isi gula dan siram air di daun teh yang ada di saringan.
“Nanti kalau ko lihat petugas su datang, ko kasi tau Mama supaya tong bawa Bapa ke sana.”

“Ahh, pasti kalau petugas datang, jalan di depan rame, orang semua mo ke sana”

“Pamalas nih, harap gampang” Kata Mama.

“Hahahahaha, bahh, bukan begitu Mama”

Mama juga tertawa, senang sekali lihat Mama de tertawa su hampir satu minggu ini Mama senyum juga hilang.

Tra rasa anana kecil, orang tua dorang rame di depan, tong lur. Tanda di depan kantor kesehatan petugas su datang.

“Ayo tong bawa Bapa,” kata Mama, dan sa deng Mama menuju kamar.

“Bapa petugas su datang, kitong ke sana”

Bapa perlahan-lahan bangun, Mama membantunya. Dengan tertatih-tatih, kitorang menuju kantor kesehatan.

Setelah melewati beberapa atrean, Bapa maju untuk di periksa. Petugas menanyakan keluhan dan sakit yang di derita Bapa, dan memeriksa Bapa. “Bapa sakit malaria, ini obat, nanti bapa minum tiga kali sehari.”

Lanjut petugas itu, “Bapa dong jangan kasi biar ada air tergenang dekat rumah, itu tempat nyamuk berkembang biak, jadi Bapa dong harus sering kesi bersih sekitar rumah!”

“Baik Pak, terimakasih” kata Bapa.

Kitorang pun pulang dengan senang. Dua hari minum obat, kondisi Bapa mulai membaik. Akhirnya Bapa sembuh.

Ternyata Mama betul Bapa sakit bukan gara-gara pohon besar yang tong lewat di jalpot. Memang tukang tipu dorang, mata menyala ni!

@Kabut20114

Foto;http://sinarharapan.co/

Catatan;

* Pada jaman Pemerintah Belanda (1950-an) petugas kesehatan selalu keliling dari kempung ke kempung untuk melakukan pengobatan. Pemutaran Film adalah media yang dipakai untuk menjelaskan tentang kesehatan pada masyarakat di kampung.

* Alaram yang di maksud, jenis serangga Hemiptera, Auchenorrhyncha, bisanya jam 2-3 dia su mulai membunyikan suaranya hingga sore menjelang jam 05.00 WIT.
Print Friendly and PDF
Share on Google Plus

Tentang : Komunitas Sastra Papua

Komunitas Sastra Papua, komunitas bagi mereka yang tertarik dengan sastra, adat dan budaya Papua. Semua catatan dalam Ko'Sapa diolah oleh redaksi Ko'Sapa untuk menjadi tulisan dalam situs ini. Silahkan kirim tulisan, atau informasi yang dingin di peroleh ke sastrapapua@gmail.com, trimakasih.